Terbilang sulit bagi Hana untuk menjalani masa mudanya, bahkan mari kita katakan masa mudanya telah ia relakan hanya untuk membayar segala kesalahan yang sama sekali ia tidak perbuat.
Mengandung seorang bayi selama sembilan bulan bukanlah perkara m...
Yang kutau saat ini tubuhku mulai semakin melemah, perasaanku sangat terguncang, kedua tungkaiku tak mampu lagi menopang berat tubuhku yang semakin lama semakin bertambah besar karena keberadaan bayi didalam kandunganku.
Bibirku mengatup tanpa ingin bergerak sedikitpun, seluruh pikiranku kaku seakan telah berubah jadi batu. Aku merasa seluruh dunia telah menimpaku dengan semua beban yang sudah tak mampuku tahan lagi. Aku hanya ingin keluar dari ini semua.
Dari semua kekacauan ini. Jimin, Yoongi. Aku sangat membenci mereka, terlalu percayakah diriku kepada Jungkook yang jelas-jelas sudah meninggalkanku pergi ntah kemana. Dan sekarang aku juga membenci Jungkook, huh lucu bukan?
Segala cara sudah kucoba untuk berusaha kabur dari penjara ini, tapi apa yang aku dapat. Luka, kepedihan dan hanya kesengsaraan yang mereka berikan. Bahkan karena usahaku tersebut Jimin semakin memperketat pengawasan dirumah ini, awalnya para penjaga hanya menjaga diluar rumah kini mereka bersiaga disetiap ruangan pintu-pintu dan jendela yang semula terbuka bebas kini telah berganti menjadi jeruji besi yang kokoh. Sebelumnya aku juga diperbolehkan untuk keluar masuk rumah sesukaku walau tetap diawasi oleh para pesuruh Jimin yang sama bresengsek nya, apa yang bisa dilakukan oleh wanita yang tengah hamil tua? Membawa beban tubuhnya menuruni tangga saja sudah tak sanggup. Setidaknya berikanlah sedikit rasa kemanusiaan padaku, seperti halnya biarkan aku berjalan-jalan diarea taman rumah hanya untuk memberikan udara segar.
Sedari tadi pintu sudah diketuk berkali-kali, tapi tak ada sedikitpun niatku untuk membukanya kubiarkan cahaya matahari terus menyinari wajahku setidaknya inilah kebebasan yang masih bisa kurasakan. Bernafas. Sayup-sayup kudengar pintu terbuka begitu saja perlahan dan suara ketukan sepatu mulai memasuki ruangan, mulai mendekatiku dengan suara hentakan sepatu fantofel yang perlahan mulai tidak terdengar. Dia berhenti, kurasa ia menatapku dari arah belakang. Masih tak kuhiraukan, tak sedikitpun terbesit keinginan untuk membalik tubuhku. Mataku tetap setia tertutup.
Matahari yang sebelumnya menerpa wajahku mulai meredup, tapi ini bukan karna ia terhalang oleh awan yang melintasinya. Ini terhalangi oleh sesuatu.
"Matahari juga bisa membunuhmu, kau tau itu." Suara rendah khasnya menyeruak memasuki pendengaranku.
Aku mulai membuka mata, samar-samar pria yang ada dihadapanku membelai lembut pucuk kepalaku dan tetap berada dihadapanku, menutup jalannya matahari menuju wajahku dengan tubuh tinggi tegapnya. "Namun matahari tidak pernah membuatku diam dalam kegelapan dan setidaknya aku dapat merasakan sisa cahaya yang ada dimuka bumi." Ku tangkis cepat ketika salah satu tangan pria itu ingin membelaiku lagi.
Kami saling bertatapan cukup lama, hingga suasana menjadi sangat gelap. "Matahari tidak pernah membuatmu diam dalam kegelapan, tapi dia bisa membawamu dalam kegelapan kapan saja. Berbeda lagi dengan hujan yang bisa datang semaunya sehingga kita hanya bisa membuat kenangan dalam waktu yang singkat."
Aku tidak ingin membuat diriku ada diposisi yang benar-benar membuatku kehabisan akal, kembali duduk diatas ranjangan dengan susah payah.
"Ayolah Hana, aku hanya ingin memulai perbincangan diantara kita setelah banyak hal yang terjadi." Katanya penuh kesombongan, aku tau dibalik apa yang ia sampaikan terselip keinginan akan membangkitkan luka lama.
Kami diam, sampai saat dimana ia mulai bergerak menarik kursi yang ada dibelakangnya dan duduk berhadapan denganku, posisinya yang sedikit rendah membuatnya harus sedikit mendongak agar bisa menatapku, dengan kedua tangan yang bertaut diatas kedua pahanya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.