Berhari-hari masih dijalaninya dengan penuh kesabaran ditambah lagi perutnya yang kian lama bertambah besar tidak menyisakan ruang sedikitpun untuknya bergerak selincah dulu. Usia kandungannya sudah memasuki bulan ke 8, dan tanpa disadari juga bahwa Jungkook sudah tidak pulang selama 2 bulan lamanya. Sesekali hanya memberikan kabar singkat tentang bagaimana keadaannya dan bagaimana ia menjalani harinya membantu Jimin, setidaknya itulah yang Hana tau.
Beberapa kali Hana juga sempat menjadapat ijin Jimin untuk keluar ntah itu ditaman atau berjalan keluar area sekapannya itu tak lebih hanya untuk memperlancar proses persalinannya kelak, Jimin tak ingin itu membuat dirinya susah nantinya. Tapi hanya dengan sebuah syarat yaitu menapakan kaki keluar sana berarti kau harus kembali lagi dengan Jungkook sebagai taruhannya.
Tentu saja Hana tidak ingin Jungkook mengalami hal yang menyusahkan jika ia menolak segala aturan yang Jimin berikan.
Namun diluar sana ia pikir akan membuat dirinya bebas walau hanya sementara, tapi diluar sana adalah kandang harimau yang sebenarnya. Kata-kata sindiran dan ejekan sering ia dapat kala melewati beberapa orang,
'Ntah bayi siapa yang dikandung wanita itu cih!'
'Lihatlah benar-benar seorang jalang!'
'Wanita tidak tau diri.'
Hana memilih menutup kedua telinganya daripada menyumpal bibir orang-orang itu sebab kedua tangannya hanya bisa melakukan itu. Memilih tak ambil pusing dan hanya memikirkan dirinya dan sang bayi juga Jungkook yang berada jauh disana.
Kembali memasuki sangkar burungnya. Meletakkan beberapa tas belanja yang ia bawa pada ranjang. Mendudukan dirinya sejenak dan mulai membuka beberapa barang-barang yang baru saja ia beli, hanya terdapat perlengkapan bayi didalam tas itu dan satu buah gaun putih yang seukuran dengan tubuhnya.
"Hanya ini yang bisa eomma berikan nanti. Maafkan eomma membuatmu tidak bisa melihatku saat pertama kali kau membuka mata nantinya. Tapi kau masih memiliki seorang ayah dia akan selalu ada untukmu hm..."
Hatinya semakin teriris mendengar penuturannya sendiri. Tubuh ringkihnya sudah mulai melemah hanya perut buncitnya saja yang ia rawat selama ini tanpa memikirkan penampilannya.
"Eomma harap bisa melahirkanmu dengan sehat nantinya."
Sebuah dentuman terasa dibalik kain yang melapisi perutnya, memberi isyarat bahwa janinnya merespon kala sang ibu berbicara padanya.
Hana tertawa dalam tangis saat terus merasakan bagaimana bayinya begitu aktif didalam sana.
"Kau sangat mirip dengan appamu, tidak bisa diam. Eomma membayangkan bagaimana hidungmu nanti akan sebesar dia, tapi mata dan bibirmu hanya akan mirip eomma ok?" tuturnya dengan tangan yang senantiasa mengelus halus perutnya.
Beranjak merapikan beberapa barang yang ia beli tadi, dengan perlahan karena gerakannya sangat terbatas pada masa-masa ini dan membuatnya harus begitu berhati-hati.
.
.
.
Duar
Duar
Suara tembakan begitu terdengar keras saat pelatuk pada tangan pria itu terlepas. Kakinya berlari dengan cepat menghilang pada bangunan-bangunan tua yang tak jauh diarea jalanan ia menapak.
"Find Him!" terdengar teriakan seorang pria dari yang tepat berada diluar bangunan itu.
Melepas dengan terburu-buru topi hitam yang ia Pakai. Mengisi kembali peluru pada pistol yang ia bawa, berdiam sejenak seakan-akan tengah menghitung jumlah musuh yang ada diluar sana dengan instingnya.
Kakinya yang terbalut sepatu hitam itu mulai mejejak kembali pada tanah diluar bangunan itu. Dengan satu tangan yang terisi pistol itu telah bersiap menembakan beberapa peluru.
Tembakan pertama berhasil mengenai salah satu pria tinggi yang berada cukup jauh darinya tepat mengenai bagian dada pria itu dan berhasil membuatnya terkapar jatuh tak bernyawa.
Tembakan kedua tak jauh berbeda dengan sebelumnya. Dalam hitungan 30 detik ia berhasil membunuh 9 orang sekaligus. Benar-benar handal.
Tangannya membuang pistol yang isinya sudah kosong itu. Membuka jaket kulit hitam yang senada dengan topi sebelumnya, mengeluarkan sebuah walkie talkie dan membuat sebuah panggilan dengan orang yang jauh disana menunggu informasinya.
"Used Up" Semacam kode rahasia.
Meletakan kembali walkie talkie itu pada saku sebelumnya. Berjalan dengan kaki panjangnya menuju sebuah bangunan tertinggi yang tak lain dan tak bukan adalah markas besar milik pria-pria yang baru saja ia bunuh.
Melangkah tepat dihadapan pintu besar tak berpenjaga itu yang ia ketahui bahwa orang-orang itu tengah berada didalam sana menantinya.
Menarik pistol MGA 4 yang berada dipinggangnya. Menendang kuat pintu yang ada dihadapannya dan kembali memulai aksinya membunuh orang-orang yang menghalangi misinya.
Menghabisi seluruh orang-orang itu hanya dengan satu kedipan mata, bermodalkan sebuah pistol yang isinya ntah akan habis atau tidak tapi tekadnya lah yang membuat seluruh darah mendidih dan mata memerah.
Selalu ada pada misi yang berbahaya yang selalu mempertaruhkan nyawa tak membuatnya jengah tapi kali ini ia memilih lebih berhati-hati. Pria yang sebelumnya sama sekali tidak takut untuk mati kali ini berusaha mati-matian menghindari hal itu.
Jeon Jungkook pria ambisius dan si penembak jitu.
Sudah puluhan lebih wilayah kekuasaan para geng mafia Jungkook taklukkan selama hidupnya yang sebelumnya tak memiliki tujuan sama sekali. Kali ini semua itu memiliki makna tersendiri,
Cinta.
[]
https://www.instagram.com/tv/CDB9Oa1pENY/?igshid=o4pjpy2yrdzi
Gemes aku pengen up!!!!
Ya sudahlah~
Ada konten baru ya bisa di cek di ig @carrot_ie
Berupa video pendek review Chap terakhir Partner Brothers,, yahh I'm so sad dan mau berakhir😭😣
DI TONTON VIDEONYA BIAR MAKIN AMBYAR!!!!!!!!!!
Tapi siap² bertanya-tanya ya apa yang akan terjadi diakhir, ntah bad ending or good
Ntah lah kuserahkan pada otakku yang menghalu ini saja,
JANGAN LUPA BINTANG KALAU BISA SILAHKAN KOMENTAR!💜
Nb: Taehyung bakal balek, apakah dia penyelamat??? 👉🏻👈🏻
KAMU SEDANG MEMBACA
Partner Brothers
FanfictionTerbilang sulit bagi Hana untuk menjalani masa mudanya, bahkan mari kita katakan masa mudanya telah ia relakan hanya untuk membayar segala kesalahan yang sama sekali ia tidak perbuat. Mengandung seorang bayi selama sembilan bulan bukanlah perkara m...
