7

16 4 2
                                    

~HARUSKAH AKU PERGI?? DISAAT HATI MEMILIH MU DAN ENGGAN UNTUK PERGI~

Ica dan Dina pun berpisah setelah pembukaan diaula. Ica berjalan dengan dahi berkerut diiringi banyak pertanyaan dikepalanya.

"Mengapa dia ada disini dan kenapa orang tua Ica tidak memberi tahu jika pria itu telah kembali??" batin Ica terus bertanya-tanya.

Tak terasa ia telah sampai di depan kelas untuk mengambil bukunya. Saat masuk Ica melihat kak Adit sedang duduk santai dengan mata menelusur seperti sedang mencari sesuatu atau mungkin seseorang.

"Pagi kak" sapa Ica pada Adit.

Adit yang melihat kehadiran Ica pun tersenyum manis.

"Pagi"

"Maaf terlambat kak" ucap Ica dengan penyesalan.

"Iya gapapa. Nih buku kamu" ucap Adit sembari memberikan buku milik Ica.

"Makasih kak"

"Sama-sama"

"Emm.. kalau begitu aku duluan ya kak"

"Ohh oke. Semangat ya"

"I..iya makasih kak"

Ica bergegas pergi menuju lapangan dimana para peserta mengerubungi seniornya untuk meminta tanda tangan.

Skipp

Ica duduk di bangku taman belakang untuk istirahat setelah beberapa jam memburu para senior untuk memenuhi tugasnya.

"Haah" helaan nafas itu terus keluar dengan tangan yang menyeka keringat.

"Aduhh gimana dong mana sisa 1. Lagipula kenapa dari awal Ica gak nyadar ya kalau ada nama dia, ckk nyebelin banget sih" gerutu Ica diiringi cebikan bibir.

"Berisik!!"

Ica terkejut saat mendengar suara sedangkan di taman itu hanya ada dirinya. Ica pun berdiri berinisiatif untuk mencari asal suara tersebut, matanya menjelajah tapi tak menemukan siapapun.

"Masa siang-siang ada hantu kan gak lucu" gumam Ica.

"Ckk gue bukan hantu" ucap seseorang dari balik pohon.

Ica pun menghampiri pohon tersebut dengan langkah pelan sembari bergidik takut.

"Le..leon??" Ica benar-benar terkejut saat melihat seseorang yang tengah berbaring dibalik pohon itu.

Leon segera berdiri dari baringan nya. Ia pun hanya memperlihatkan raut wajah yang datar dengan tatapan sinis.

"Bisa gak sih loe gak ganggu kehidupan gue dan satu lagi gue itu senior loe jadi berhenti sebut nama gue seakan-akan loe deket sama gue"

Sindiran itu membuat Ica terhenyak pada kenyataan bahwa ia tak akan pernah mungkin sejajar dengan Leon. Hanya sosok itulah yang menurut Leon pantas.

"Ma.. maaf kak" ucap Ica dengan suara bergetar menahan tangis menundukkan pandangannya.

Ica tak pernah menyangka bahwa rasanya sesakit ini setelah bertahun-tahun ia menata kembali hatinya tetapi nyatanya pada pertemuan pertama mereka hatinya kembali hancur dengan mudah. Bagai kaca yang rapuh bahkan mungkin sekali genggam kaca itu langsung pecah.

Jujur saja Ica lelah dengan perasaan ini, perasaan yang ia pendam selama 10 tahun lamanya atau mungkin lebih membuatnya ingin menyerah, terlebih lagi sikap Leon yang tidak pernah baik terhadapnya bahkan terkesan tak pernah menganggapnya ada.

"Cihh idiot" ucap Leon sambil melenggang pergi tanpa menatap Ica.

Degg

Air mata itu mengalir tanpa di perintah. Ica memang terbiasa dengan sikap kasar Leon terhadapnya tetapi itu tak membuatnya bisa menahan sesak didadanya. Ica segera menghapus air matanya dan berbalik menatap punggung Leon dengan tatapan nanar.

"Apa jika aku berhenti mencintaimu kamu akan memperlakukan ku dengan layak??"

"Atau jika aku mengatakan yang sejujurnya apakah kamu akan semakin menyiksaku dengan semua sikapmu yang kasar??"

"Bisakah.. bisakah kamu sekali saja menatap hadirku?? Bisakah kamu mengerti perasaanku yang terluka ini?? Bisakah sekali saja kamu lihat luka dan kekecawaan yang ada mataku??"

Setelah Leon hilang dipandangannya Ica pun bergegas pergi dari taman itu dengan membawa luka dan kecewa dihatinya.

🌸🌸🌸

Jangan lupa Follow, Vote dan Comment ya

PINOCCHIO (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang