Meringis adalah kegiatan Cyra beberapa hari terakhir ini setiap bangun tidur. Selain sakit kepala, perutnya juga tidak enak sekali, apalagi sekarang disertai flu. Cyra benar-benar tidak bisa mengabaikan rasa sakitnya.
Mencari-cari benda pipih yang beberapa hari ini tergeletak tak tersentuh. Biasanya ponsel adalah benda pertama yang Cyra pegang saat bangun tidur. Bahkan Cyra juga membawa ponselnya ke dalam WC, alasannya untuk menemani kebosanan. Tidak patut ditiru!
Banyak pesan masuk. Ada puluhan panggilan tak terjawab. Dan nama Abimanyu yang paling mencolok- kekasihnya yang sudah menemani Cyra kurang lebih lima bulan terakhir ini.
Cyra mencoba menghubungi Abimanyu, tetapi kekasihnya itu sedang tidak online. Cyra putuskan mengirim voice note, karena jika mengetik, akan memakan waktu terlalu lama dan semakin membuat nyeri dibagian kepala.
"Aku sakit, maaf gak ngehubungin kamu beberapa hari ini. Semoga kamu menikmati libur semester dan travelingnya. Love you!"
Kemudian Cyra juga mengirim foto selfie dirinya dengan senyum yang dipaksa tanpa riasan. Memperlihatkan bahwa ucapannya memang benar. Cyranya Abimanyu sedang sakit!
Kemudian Cyra menelpon superheronya- ayah tercinta. Panggilan pertama tidak terjawab kemudian dipanggilan kedua baru panggilannya dapat terhubung.
"Ayah, kakak sakit kepala!" Rengek Cyra. "Mau kedokter!"
"Ya udah nanti ayah telpon dokter Raihananya, siapa tau bisa kerumah." Jawab ayah sabar meladeni putrinya.
Cyra menghela napas pelan. Memijat kepalanya yang semakin nyeri. "Maunya ke sana aja, naik sweety. Sekalian jalan-jalan sore. Kakak bosen!"
Sudah sakit. Banyak maunya. Manja sekali. Namanya Mocyra. Untung ayahnya adalah lelaki super sabar dan sudah teruji kesabarannya.
"Ya udah ayah pulang nih Kak. Kakak jangan tidur lagi, minta Bunda siapin jaket buat kakak!"
"He-em. Sayang ayah. Ati-ati di jalan ayah!"
Ayah mematikan telponnya setelah membalas ucapan sayang Cyra. Untung Ayahnya ini pemilik beberapa toko elektronik dan handphone. Bisa dibilang pembisnis kecil-kecilan sehingga tidak terlalu terikat waktu pekerjaan. Dan biasanya ayah lebih sering berada di toko elektronik depan komplek, toko yang lain sudah ada orang kepercayaan Ayah.
Cyra menghapus air matanya, bicara mengenai ayah terlalu mengharukan bagi Cyra. Ayahnya orang yang mengajarkan kata maaf dan kasih yang tulus.
"Cyra bangga punya ayah. Dan Cyra yakin ayah juga tetep bangga walau punya anak yang bentukannya kaya gini!" Kekehnya dibalik tangis yang masih membasahi pipinya.
_____________________
Disetiap rasa sakit dan air mata kenyataanya memang benar Tuhan selalu sertai dengan kebahagian. Seperti Cyra yang memiliki ayah yang perhatiannya tidak terkikis waktu.
Kata orang semakin besar, hubungan antara ayah dan anak tidak seintim masa kecil. Alhamdulillah, ayah masih tetap memanjakannya, perhatian dan selalu ada untuknya. Hingga, rasanya Cyra tidak pernah sedikitpun kehilangan sosok ayah dihidupnya.
Seperti sekarang, usianya sudah 20 tahun namun ayah masih telaten dan sabar mengenakan jaket juga helm. Tak lupa menggendong putri satu-satunya dari lantai dua hingga depan rumah. Untungnya walau perut ayah membuncit ototnya juga tidak ikut mengecil digantikan gelambir lemak.
"Kakak lebay banget sih!" Suara bunda membuyarkan lamunan Cyra.
"Apa sih bun!"
Ayah yang berada diantara dua wanita keras kepala hanya bisa melihat. Angkat tangan kalau harus melerai mereka disaat saling lempar argumen. Yang ada ayah pasti ikut kebawa-bawa padahal tidak tau letak permasalahannya. Wanita, ingat selalu benar. Namun kenyataanya serba salah!
KAMU SEDANG MEMBACA
Tetangga Tapi Nikah (END)
SpiritualBELUM DI REVISI. Kisah ini berawal dari seorang Bunda yang menginginkan putrinya yang sudah menginjak usia 20 tahun bisa mengaji. Kehadiran Ilham kembali setelah empat tahun menamatkan pendidikannya di luar kota, membuat Bunda memaksa Cyra mengikuti...
