"Anis!" Panggil seseorang yang suaranya sudah sangat ia hapal. "Ada yang mau saya bicarakan sama kamu."
Perempuan itu berhenti mengikat tali sepatunya ia mendongak menatap singkat bola mata jernih berwarna cokelat terang milik Ilham. Menghela napas singkat lalu berdiri dan tersenyum. "Assalamualaikum, Abang!"
"Waalaikumssalam!" Jawab Ilham tak enak hati karena lupa mengucap salam. "Maaf."
"Mau bicara hal penting apa, sampai Abang menemui aku jauh-jauh ke sini?"
"Bisa kita cari tempat makan siang agar bicaranya lebih enak dan saya gak buat anak orang kelaparan?"
Anis tertawa pelan, lelaki kaku ini yang nyatanya mampu menghangatkan hatinya sejak mereka di bangku sekolah menengah.
Suasana TPA masih ramai oleh anak-anak yang pulang dan baru akan belajar mengaji. Salah satu dari mereka menghampiri Anis dengan senyum lebarnya. Memeluk singkat kemudian menatap Ilham dan beralih menatap ustadzahnya.
"Itu suaminya ya Ustadzah?" Pertanyaan lugu itu membuat Anis terbatuk. "Kiki, Celin, Bunga. Sini-sini Ustadzah diapelin suaminya!" Seru bocah kecil itu dengan girang memanggil teman-temannya yang lain.
Anis tersenyum canggung pada Ilham yang menampilkan ekspresi datar. Lelaki itu bukan sosok dingin yang membuat siapapun menjauh. Namun, wajah Ilham yang tipikal teduh dan hangat walau tanpa ekspresi tetap mampu membuat kesan baik bagi siapapun yang melihatnya. Kalau sekarang di sebutanya wajah-wajah soft boy.
"Ganteng, kaya papah aku." Bisik Celin pada Dea. "Tapi, gantengan suami ustadzah!" Tambahnya lagi sambil tersenyum lebar memperhatikan wajah dan postur tubuh Ilham.
Keempat gadis kecil itu sibuk berdiskusi mengenai sosok Ilham. Seperti misi rahasia mereka merapatkan barisan saat membicarakan kedua orang dewasa di hadapannya.
"Adik-adik, maaf. Ini teman Ustadzah bukan suami!" Ujar Anis mengklarifikasi kebenarannya. Ditakutkan akan menjadi kesalah pahaman. "Adik-adik silahkan menunggu jemputan di taman dan tidak keluar gerbang."
"Kalau bukan suami berarti pacar ya ustadzah?" Tanya Kiki. "Kakak aku juga punya pacar. Kata mamah aku boleh pacaran kalau sudah lulus kuliah!"
"Bunda aku bilang pacaran itu engga boleh. Kalau pacaran temennya syaiton. Masuk neraka deh!" Ujar Bunga, gadis kecil yang sejak tadi hanya menyimak obrolan teman-temannya.
"Ih. Berarti Kakak aku masuk neraka, dong?" Tanya Kiki sambil meringis mungkin gadis kecil itu membayangkan api neraka yang menyala-nyala. "Aku suruh mereka putus nanti. Biar kakakku juga masuk surga!"
_____________________
CERITA SELENGKAPNYA BISA KALIAN DAPATKAN DENGAN MEMBELI VERSI EBOOK.
Keuntungan membeli versi Ebook:
1. Minim Typo dan lebih enak di baca.
2. Beberapa bab tambahan yang tidak ada di Versi WP.
3. Beberapa revisi alur dan memiliki ekstra part.
4. Memberikan semangat pada Author hehe.
Harga Asli : 50.000 full bab
Harga promo : 25.000 full bab (Ebook akan di dapatkan di akhir bulan) selama itu promo berlangsung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tetangga Tapi Nikah (END)
SpiritualBELUM DI REVISI. Kisah ini berawal dari seorang Bunda yang menginginkan putrinya yang sudah menginjak usia 20 tahun bisa mengaji. Kehadiran Ilham kembali setelah empat tahun menamatkan pendidikannya di luar kota, membuat Bunda memaksa Cyra mengikuti...
