Bukan Calon Mantu Idaman

20K 2.4K 43
                                        

"Kalau bisa ibu pengen cepet-cepet liat Abang punya istri!"

Perkataan seperti ini memang sering ibu lontarkan. Ilham hanya tersenyum menjawab sejenis perkataan ibu yang memintanya segera menikah atau ingin menggendong cucu.

"Abang kenapa sih kalo ibu ngomongin masalah ini cuman senyum sambil ngangguk doang?" Kali ini rupanya ibu ingin kejelasan lebih pasti. "Abang udah ada yang disuka?"

Ilham refleks mendongak menatap ibunya. Kemudian kembali mengaduk mie rebus mata sapi yang ia pesan di katin rumah sakit.

"Perasaan Abang masih sama, Bu!" Ujar Ilham dengan nada halus walau raut wajahnya mendadak muram.

Ibu memegang tangan Ilham. Mengelus punggung tanggan Ilham dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Ibu tau kok Bang. Keciri banget. Tapi-"

Perkataan Ibu yang menggantung membuat Ilham menatap wajah Ibu. Jantungnya berdetak tidak karuan. Ucapan Ibu barusan mengejutkan Ilham. Ternyata sebegitu ketaranya perasaan Ilham pada Cyra. Atau jangan-jangan Crya juga mengetahui hal tersebut?

"Cyra belum shalat 5 waktu. Bahkan menunaikan kewajiban sebagai wanita muslimah saja tidak!"

Ilham memengang dadanya yang terasa nyeri. Tidak menyangka bahwa Ibu akan mengatakan ke tidak setujuannya secara gamblang.

"Bu." Panggil Ilham penuh pengertian. "Jangan begitu, ga baik suudzonin orang. Kan kita gak tau Cyra seratus persen."

Ibu menggeleng. Menatap anak lelaki satu-satunya penuh keyakinan. "Sebagai teman ibu masih bisa menoleransi. Toh, sebagai manusia Cyra anak yang baik. Keluarganya juga ibu kenal. Tapi, Bang, memilih pendamping hidup itu setidaknya yang mengerti kewajibannya. Kan, madrasah pertama anak-anak Abang kelak itu ya istri abang."

"Nanti bahas ini di rumah aja ya, Bu!"

"Kalau sama Anis mungkin ibu bisa pertimbangin!"

____________

Perkataan ibu cukup menganggu konsentrasinya hari ini. Padahal rencananya Ilham akan mengatakan niat baiknya pada kedua orang tua Cyra bahwa Ilham ingin meminang putrinya. Namun, perkataan ibu juga ada benarnya. Memilih pasangan bukan hanya karena napsu semata atau karena masalah dunia sedangkan akhirat di nomor sekiankan.

Langkah Ilham terhenti ketika melihat Cyra sedang tertawa, ekspresi lain yang sudah lama sekali tidak Ilham lihat. Wajah Pucat Cyra sedikit memerah dibagian pipi. Lesung pipitnya jelas terlihat ketika kedua bibir Cyra tersenyum lebar. Tersadar Ilham menjauhkan pandangannya pada wajah manis milik Cyra.

"Ehem!" Ilham berdehem. Sengaja, agar dua manusia berlawanan jenis itu tersadar keberadaanya. "Saya masuk boleh?"

Cyra yang pertama kali melirik Ilham. Wajahnya berunah masam. Bibirnya mengerucut. Decakan sebal terdengar jelas dari bibir pink pucat milik Cyra.

"Bang. Belum pernah pacaran, ya?"

"Belum!" Ujar Ilham kalem. Kini lelaki itu sudah duduk manis di sofa. "Tidak ada faedahnya!" Lanjut Ilham lagi.

"Dia siapa?" Akhirnya lelaki bernama Abimanyu yang tak lain kekasih Cyra membuka suara.

Cyra menatap Ilham dan Abimanyu bergantian. Kemudian berbisik pada Abimanyu yang duduk di ranjang sebelah Cyra. "Guru ngaji!"

"Gurunya Rafa?" Tanya Abimanyu ikut berbisik.

Cyra menggeleng menunjuk dirinya menggunakan telunjuknya. "Aku. Dia galak, kamu jangan ngomong!"

"Bukan mahram!" Sindir Ilham sambil memainkan ponselnya yang sebenarnya dia hanya buka-keluar aplikasi. Tidak ada pesan whatsapp yang berarti atau notif dari aplikasi lain.

Ini namanya cemburu. Sampai sini paham?

"Berduaan itu gak baik!" Lanjut Ilham masih berbicara seorang diri.

"Jadi ceritanya biar gak ada saiton orang ketiganya abang?" Tanya Cyra terlewat polos. "Gantiin saiton gituh?"

Abimanyu terkekeh pelan. Menjitak kepala Cyra. Mungkin, terlalu sering menyindir orang lain sampai kebas kalau dirinya sedang disindir.

"Lelaki baik tidak akan menyetuh wanita sampai halal!"

Cyra menautkan alisnya. "Jadi sekarang aku masih haram?"

Pertanyaan Cyra ini mendapatkan berbagai macam tanggapan. Abimanyu bahkan sudah tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Ilham mendengus kemudian kembali menyibukkan diri pada ponselnya.

"Kamu waktu pelajaran agama kemana, Ra?" Kini Abimanyu yang bertanya sambil memegangi perutnya yang sakit akibat tertawa berlebihan.

"Ya di kelas lah. Guru agamaku kan tegas banget. Mana berani bolos!"

Abimanyu menatap Cyra sekilas kemudian melihat Ilham yang menggelengkan kepalanya. Dan tawa Abimanyu kembali terdengar.

"Uluh. Pacar aku emang gemesin!"

Baru saja tangan Abimanyu mendarat di pipi tembam Cyra peringatan tegas dari Ilham membuat Abimanyu bahkan berdiri dari duduknya.

"Sekali lagi pegang-pegang Cyra saya laporin!" Suara lembut dan wajah damai itu sirnah. "Saya di sini di tugasin untuk menjaga dan mengantikan ayah Cyra sampai beliau tiba. Tolong kerja samanya!"

Masalahnya ayah Cyra memang tidak menyukai hubungan Cyra dan Abimanyu. Ayah Cyra terlalu posesif mengenai lelaki yang dekat dengan putrinya. Walau mengekost ayah Cyra rutin memberi uang tips pada penjual sekitar universitas Cyra. Bayaran atas informasi yang mereka berikan. Bahkan, bapak kost yang Cyra anggap berada di pihaknya diam-diam menjadi sekutu ayahnya.

Ayah memang tidak terlalu memusingkan Cyra yang sering absen kuliah. Tetapi, murkanya ayah ketika mendapati lelaki lain mendatangi kost putri satu-satunya. Cyra boleh menghabiskan jatah masa mudanya tetapi yang perlu digaris bawahi pacaran itu hal yang tidak masuk di dalamnya.

"Kalo gitu, aku pamit ya, sayang!"

___________

Tetangga Tapi Nikah (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang