Lengkapnya cerita bisa dipesan melalui nomor ini 085793673457 - Rina. Ebbok full dan beberapa revisi cerita.
***
Abang jantung aku degdegan!" Ujar Cyra.
"Saya malah takut kalo jantung kamu gak degdegan! Jawab Ilham.
Cyra memajukan bibirnya, ini yang di maksud tidak sefrekuensi?
"Emangnya kalo jantung aku gak dedegan-" Cyra menggantung ucapannya, ia melirik Ilham yang ternyata sedang mendengarkan perkataanya. "Abang sedih?"
"Menurut kamu?" Tanya Ilham balik. "Liat kamu sakit saya aja sedih, apalagi jantung kamu udah gak berdetak."
Pipi Cyra bersemu, perempuan itu salah tingkah dengan jawaban Ilham. "Tapi, abang gak pernah bilang cinta ke aku?"
Ilham berhenti dari aktifitasnya menyiapkan persiapan Cyra dan dirinya yang akan pergi ke dokter kandungan.
Ya, gadis kecil yang dulu ia kagumi sercara diam-diam, lalu Allah mentakdirkan Ilham menikahi Cyra, dan sekarang Allah pun mempercayakan janin di dalam kandungan Cyra.
Tanpa pacaran, tanpa sebuah ungkapan cinta sebelumnya, nyatanya yang memang berjodoh akan tetap di mudahkan.
"Saya bingung!" Ilham menatap wajah ayu istrinya dengan senyum manis. "Saya belum menemukan kata yang lebih pas dari ungkapan cinta, karena perasaan saya untuk kamu tidak bisa di definisikan, cinta terlalu sederhana."
"Ih, belajar dari siapa si ko bisa manis gini?" Ledek Cyra.
"Kamu!" Jawab Ilham sebal.
Taukah Cyra bahwa saat mengatakan hal tersebut, jantungnya berdetak tak karuan. Dahinya sampai berkeringat, ia benar-benar gugup.
"Mau selesai jam berapa kalo terus bercanda?" Tanya Ibu di ambang pintu.
"Ini Cyra tinggal ganti baju aja, kurang lebih lima belas menitan lagi. Bu!" Ilham menyerahkan pakaian yang sudah ia pilihkan untuk Cyra beserta dengan kerudung dan kaos kakinya.
Ia, semua gamis, kerudung dan perintilan-perintilannya Ilham yang mengurus. Cyra sudah siap pakai. Dan, semua itu Ilham yang berinisiatif karena katanya Cyra terlalu membuang waktu hanya untuk memilih pakaian.
"Ra, sini ibu pengen meluk!" Ibu merentangkan kedua tangannya. Menatap lembut netra Cyra.
Perempuan itu tidak langsung menyetujui ucapan Ibu, melirik meminta persetujuan Ilham.
"Kenapa liat saya?" Tanya Ilham tidak peka.
"Ish!" Cyra kan tidak begitu dekat dengan ibu. Mereka berpelukan juga bisa di hitung jari. Makannya ia meminta pendapat.
"Sehat-sehat ya, Ra. Kamu sama janinnya. Maaf ibu sering ninggalin Cyra di rumah, catering lagi sibuk-sibuknya!" Ujar Ibu sambil mengelus punggung menantunya itu.
Cyra mengangguk. "Terima kasih, bu."
Terhitung sudah empat bulan lebih mereka tinggal bersama, namun kecanggungan antara ibu dan Cyra masih begitu terlihat jelas.
"Dedeknya mau dielus neneknya!" Cyra membawa tangan Ibu keatas perutnya yang memang sudah membuncit. "Aku sama Abang ko bisa ya bu, ga sadar padahal udah sebesar ini dedeknya!"
Ibu terkekeh kemudian ia menghapus air matanya yang tiba-tiba mengalir, rasanya begitu terharu ia akan menjadi seorang nenek secepat ini.
Ilham juga ikut mengelus pelan perut Cyra, mereka saling melempar senyum satu sama lain.
"Semoga Allah menyehatkan janin dan ibunya." Ujar Ilham, ia tak lupa mengecup kening Cyra lama.
_________________
KAMU SEDANG MEMBACA
Tetangga Tapi Nikah (END)
EspiritualBELUM DI REVISI. Kisah ini berawal dari seorang Bunda yang menginginkan putrinya yang sudah menginjak usia 20 tahun bisa mengaji. Kehadiran Ilham kembali setelah empat tahun menamatkan pendidikannya di luar kota, membuat Bunda memaksa Cyra mengikuti...
