Satu lagi hari berganti ditandai dengan mentari yang muncul kepermukaan. Redup temaram cahaya bulan kini sudah tergantikan dengan cerah terang sang mentari pagi untuk mengawali hari.
Debur ombak terdengar samar - samar halus merambat masuk kedalam telinga, seolah ribuan air terbawa angin itu sedang beramai - ramai menjalankan tugas dari yang maha kuasa.
Yaah ..
Tugas untuk meningkatkan intensitas nyaman pagi hari tentunya.
Ah ..
Tidak ingin bangun ..
Terlampau nyaman untuk memaksa kesadaran kembali terjaga. Rasanya pada tahap seperti ini, bermalas - malasan akan jadi jawaban tepatnya.
"Apa tidak masalah meninggalkan mereka berdua?"
"Biarkan saja, sepertinya mereka belum lama tertidur, lagi pula kita cuma pergi sebentar saja, tidak akan lama"
"Tapi apa tidak sebaiknya kita tunggu mereka bangun saja?"
"Ck, tidak bisa, aku ingin pergi sekarang juga"
"T-tapi"
"Ya! Lee Daehwi, aku ingin kencan! Kenapa kau belum mengerti juga?"
Argh! Dua bocah berisik ini!
Woojin ingin meledak rasanya. Bisa - bisanya dua bocah pengganggu ini berdebat didepan orang yang sedang tidur! Kalau bukan karna Park Ji Hoon yang juga masih tidur, Woojin pasti sudah memaki dan mengusir mereka dari villa ini sekarang juga.
"Cepatlah, kita cuma mengganggu mereka jika terus mengobrol disini"
"T-tapi"
"Pergi sekarang atau tidak sama sekali?"
"B-baiklah"
Klekk!
Ah, akhirnya pergi juga.
Perlahan Woojin membuka matanya yang tadi sempat dipaksa memejam karna ingin abai pada perdebatan dua bocah berisik tentang kencan mereka.
Lagi pula apa apaan Lee Daehwi itu? Kenapa dia ingin mengajak orang lain ikut pergi dikencan mereka? Dia pikir dirinya dan Ji Hoon akan merasa nyaman berada ditengah kencan orang lain?
Dasar tidak pengertian!
"Emmmhhh .."
Woojin mengalihkan atensinya begitu lenguh kecil terdengar halus dari atas pangkuannya. Park Ji Hoon masih tidur, perdebatan Jinyoung dan Daehwi tadi tidak mengganggunya sama sekali rupanya.
Seperkian detik Woojin sempat kembali terjebak dalam pesona seorang Park Ji Hoon meski si cantik itu masih lelap dalam tidurnya.
Hatinya jadi mudah goyah sejak insiden kecil yang hampir saja ia lakukan tadi malam. Ah, kalau diingat - ingat, kemarin hampir saja Woojin melakukan hal gila diluar akal sehatnya.
Yah, insiden kecil namun bisa jadi besar jika Woojin benar - benar melakukannya. Akal sehatnya seolah tak berada ditubuhnya saat itu.
Meski begitu, jangan hanya permasalahkan tentang akal sehat Park Woojin saja, tapi salahkan juga Park Ji Hoon yang malah menutup mata seolah mengizinkan Woojin memangkas habis kalimat penegas yang disebut sebagai batas.
Nafasnya memburu kala itu, ada ingin kuat tak tertahan oleh akal sehat yang hampir menghilang. Fokusnya hanya satu. Sebuah bongkah tebal manis berwarna pink kemerahan.
Sepasang mata lainnya menutup tak ada perlawanan. Terlihat gugup namun juga tenang secara bersamaan.
Woojin paham, Ji Hoon mengizinkan.
