The Day

1 0 0
                                        

Aku tak pernah menyangka, akan benar-benar datang ke pernikahan Dey. Tapi aku tak punya alasan untuk tidak datang. Bahkan Dey sudah memberitahuku tanggal pernikahannya tepat setelah dia dan Sasha membooking tempat pernikahan mereka. Mau tidak mau akupun langsung mengajukan cuti untuk tanggal tersebut. Ahh, entahlah.. aku yang bodoh atau aku yang merasa seperti tidak adil dan aneh bila sahabat sendiri mangkir dari perhelatan akbar yang sangat bersejarah bagi sahabatnya.
Aku tiba di Bandara, menarik koperku dengan malas. Besok hari dimana aku harus merelakan Dey selama-lamanya. Tentu, dia akan menjadi milik orang lain. Aku, siapalah aku?
Siang ini sungguh melelahkan, aku menuju rumah dan disambut orang tuaku yang bahagia melihatku pulang. Mereka tidak terlalu mengenal Dey, karena aku maupun Dey bukan tipe orang yang bercerita kepada orang tua kami. Namun tentu orang tuaku tahu bahwa kepulanganku ini spesial untuk menghadiri acara penikahan Dey.

Aku menjatuhkan badanku seketika ke tempat tidurku yang dingin. Terlintas di benakku kenangan-kenangan kami, oh Dey aku rindu tapi sebentar lagi kamu menjadi milik wanita lain!
Aku menghela napas dan menutup mataku, merasakan desir angin yang melewati celah-celah jendela kamarku. Tidak kusadari aku terlelap tanpa menyadari berapa lama sudah aku menatap langit-langit kamarku.

Senja datang dan ibuku mengetuk pintu kamar, membuat aku terjaga dan merasakan sedikit pusing karena tertidur agak kelamaan. Aku segera menjawab ketukan yang terdengar untuk mengisyaratkan aku sudah terjaga. Seperti hari-hari aku pulang sebelumnya, menikmati makan malam bersama seluruh anggota keluarga menjadi ritual yang selalu aku lakukan. Selesai makan malam aku segera menyiapkan baju yang akan aku gunakan besok untuk acara Dey.

☆☆☆☆☆

Sementara itu disisi lain kota, Dey sedang tersenyum-senyum sendiri. Dia tidak sabar menantikan hari esok, hari dimana dia akan menjadikan Sasha sebagai pendamping hidupnya. Tak henti-hentinya seluruh anggota keluarga menggodanya, menggoda calon mempelai pria yang tampak kentara sudah sangat tidak sabar.

☆☆☆☆☆

Sendu dan Dey tidak tahu, sama-sama tidak tahu bahwa Sasha malam ini sangat gelisah. Dirinya tidak mengerti apa yang harus benar-benar dia nikmati didalam perasaannya. Sasha merasakan gundah gulana yang tidak terperi. Malam ini Sasha merasa harus melakukan sesuatu untuk memantapkan hatinya. Butuh waktu hingga tengah malam sampai akhirnya Sasha berusaha menggapai ponselnya yang tergeletak di ujung terjauh meja disampingnya.
Jari jemari Sasha yang lentik mulai membuat layar ponselnya menyala dan tampak begulir dengan lincah hingga akhirnya berhenti. Lalu Sasha memulai percakapan dengan orang di ujung saluran lainnya. Ekspresi Sasha mulai berubah-ubah dengan sangat dinamis. Awalnya wajah Sasha tampak canggung, kemudian air mukanyamenjadi serius. Entah apa yang tengah mereka bicarakan. Sesekali dahi Sasha berkerut lalu matanya nampak nanar dan menyipit.
Seketika Sasha tampak tersenyum, matanya berbinar-binar bahagia. Dan pada akhirnya percakapan telepon Sasha pun selesai. Sasha jelas tampak telah menemukan jawaban atas kegundahannya. Malam ini Sasha tersenyum sambil mematikan lampu kamarnya kemudian tertidur.

Tampaknya hari ini menjadi hari yang panjang bagi semua orang. Semua orang merasakan perasaan yang campur aduk karena besok adalah hari penting bahkan bagi Sendu yang harus benar-benar menghapus Dey dari daftar rencana masa depannya.

☆☆☆☆☆

Sendu sudah terjaga sejak subuh, kemudian dia menuju kamar mandi. Dia tetap mempersiapkan diri walau dengan hati yang cukup berat. Berapa menit Sendu habiskan untuk memandangi wajahnya sendiri di cermin kamar mandi. Lalu dia berkata pada bayangan dirinya sendiri di cermin..
👧: Sendu, hari ini dia bakal bahagia banget! Senyum dong! Gak apa kalau dia bukan jodohmu! Ayo ikhlas!
Sendu berkata pada dirinya sendiri dengan air mata yang menggenang. Belum sempat airmatanya menetes, Sendu segera tersenyum pada bayangannya sendiri di cermin seraya berkata-kata lagi..
👧: Nah gitu, cantik!
Selanjutnya Sendu memulai kegiatan mandi paginya.
Jam di dinding masih menunjukkan waktu yang masih sangat jauh dengan jadwal akad nikah Dey. Tapi tak apa, toh hari ini sendu harus berpakaian tradisional formal dan mengenakan riasan wajah. Sendu mengenakan celana pendek dan kaus oversize saat berhias. Tidak terasa waktu berlari dengan sangat cepat namun riasan Sendu selesai tepat waktu ketika ibunya memanggil untuk mengingatkan bahwa sudah pagi menjelang siang, khawatir anaknya belum bangun dan bersiap untuk menghadiri acara Dey. Sendu menjawab untuk memberitahukan bahwa dirinya baru selesai berhias dan hendak berpakaian.
Sebelum berangkat ke lokasi, Sendu melahap sepotong bacang isi ayam meski tadinya tidak akan sarapan namun menyerah karena ibunya bersikeras agar Sendu harus makan dulu sebelum berangkat. Masih sambil mengunyah, Sendu menyalakan mesin mobil untuk memanaskannya sebentar. Tujuh menit kemudian Sendu masak ke dalam rumahnya untuk mengambil tas dan sendal pestanya karena dia memutuskan untuk menggunakan sepatu kets saat berkendara. Tak lupa, Sendu berpamitan kepada orang tuanya untuk selanjutnya melaju menuju tempat pernikahan Dey.

MemarWhere stories live. Discover now