"Kamu... pengamat seni?"
Karin menengok ke arah kanannya.
"Aku?"
Laki-laki itu bertubuh tinggi, memakai jas rapi dengan kacamata. Mungkin dia pengurus galeri disini. Kulitnya putih, rambutnya sedikit keriting. Ia menghampiri Karin yang dari tadi memperhatikan sebuah lukisan tanpa bergerak sedikitpun.
"Baru kali ini ada pengamat seni seperti kamu. Diam hampir satu jam lamanya cuma mengamati satu lukisan yang sama"
"Aku bukan pengamat seni"
"Terus? Mata-mata?"
"Kamu kenal dengan pelukisnya?"
"Temanku, sahabat baik"
"Kira-kira sulit nggak ya ketemu dia?"
"Wah, orangnya super sibuk. Kamu harus buat janji dulu"
Sambil berbisik pelan Karin berkata, "ternyata sama aja"
"Iya, kenapa?"
Tanya laki-laki itu karena suara Karin yang sulit didengar.
"Oh enggak, aku cuma datang ke galeri yang salah"
Karin lantas pergi meninggalkan lukisan yang membuatnya kecewa. Karena wajahnya menunjukkan seperti itu, terlihat begitu jelas. Laki-laki tadi kebingungan dan mengejarnya.
"Hei, tunggu!"
Karin berhenti.
"Apa?! Kamu mau jelasin kenapa seorang seniman aja harus punya janji waktu seperti pejabat?"
Laki-laki tadi mulai kesal.
"Maksud kamu?"
Sambil menatapnya, Karin berkata ketus.
"Aku kira, lukisan tadi bisa membuatku berhenti mencari. Tapi ternyata, teman baikmu itu cuma pelukis yang sama dengan pelukis yang lain. Memprioritaskan penjualan di atas makna seni itu sendiri. Aku cuma buang waktu di sini."
"Kamu ini jangan sembarangan ya. Emangnya kamu pikir kamu ini siapa? Presiden? Astronot? Miliarder? Dia itu pelukis tersohor. Jangan ngasal ya kamu bicara!"
"Nah, itu dia masalahnya. Aku cari pelukis yang menjabat sebagai seniman. Bukan pelukis yang cuma jualan lukisan. Permisi!"
Karin pergi dengan kalimat terakhir yang ia ucapkan dengan nada tinggi. Laki-laki itu cuma memperhatikan langkah Karin yang akhirnya menaiki angkutan umum, lalu pergi.
Keesokan harinya, galeri yang masih terpajang tulisan 'tutup' itu, tampak ditemani seorang gadis yang tidak lain tidak bukan adalah Karin. Seorang satpam berulang kali menyuruhnya untuk datang lagi nanti.
"Maaf mbak, bukanya masih lama. Nanti mbak balik lagi sekitar jam sepuluh"
Karin tetap duduk menunggu galeri itu sampai buka. Tidak peduli berapa kali satpam itu menyuruhnya pergi. Bahkan, melirik saja Karin kelihatan sangat tidak punya selera. Batu sekeras apapun pasti akan kalah dengan wataknya. Kalau mau A, maka tidak akan pernah ada opsi selain itu.
Hampir tiga jam menunggu, Karin tampak tertidur lelap bersandar di sebuah dinding dekat pintu masuk.
"Mbak, udah buka"
Karin membuka matanya.
"Oh, makasih ya pak"
Setelah beranjak, Karin segera masuk ke dalam galeri dan ia langsung menuju lukisan yang ia tuju. Namun, belum sempat melangkah, kerah bajunya ditarik oleh seseorang dari belakang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Podcast Rintik Sedu (Season 2) [Completed]
Non-FictionSetelah setahun, kisahnya masih berlanjut. Podcast Rintik Sedu di tahun kedua akan dituliskan disini. Selamat membaca sambil mendengarkan! Ingat ya only on Spotify Rintik Sedu! p.s. ini cuma akun teri, bukan akun paus
![Podcast Rintik Sedu (Season 2) [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/234951722-64-k775945.jpg)