Detik itu
Iya, detik itu
Kelak akan sambung-menyambung menghiasi pagar umurku
Kamu harusnya disitu
Tetapi kamu takut
Kamu takut dengan bulan yang bisa redup
Dengan bintang yang bisa hilang
Karena katamu, kita hanyalah alas kaki
Yang punya mimpi berhenti
Kepada apa, siapa, dan dimana
Jadi tua memang perjalanan menuju sepi dan sendiri
Sebab aku tau kamu tidak ingin
Tetapi pagar-pagar tadi terus berganti
Meninggi, untuk kembali ke atas
Kepada inti bumi
Kepada inti hati
Kepada inti dari teka-teki yang selama ini ingin bisa kau cari bagian akhirnya
Aku melihat seorang anak sedang menari
Di sebuah sanggar yang ada di dalam imajinya sendiri
Ke kanan, ke kiri
Terlatih dan tertatih
Baju warna-warni
Ia terus menari
Dari aku berangkat pagi sampai malam aku kembali
Wajah yang tersenyum
Senyum yang ia sewa pada toko kostum
Seharinya tiga puluh ribu
Apakah ada yang lebih neraka dari senyuman berlabel harga?
Seperti hidup
Iya, seperti hidup katamu
Seperti kosakata yang kian hari kian beralih fungsi
Sedih menjadi suka
Senang menjadi duka
Lapar jadi bertahan
Lelah menjadi asupan
Di atas aspal itu semua terjadi
Dalam beberapa babak
Atau hanya dalam sebuah kotak
Tidak, tidak ada kotak yang aman dari kamarku ini
Tidak ada
Di luar kamar, TV menyiarkan berita kematian
Rumah sakit dan jalan raya menjadi lebih dekat dari sebelumnya
Apakah kita boleh tidak memilih untuk memanggil tahun yang baru?
Apakah kita boleh mengulang saja dan memperbaiki semua yang tidak mungkin kembali?
Apakah kita boleh meminta pelukan mana kita ingin didekap untuk terakhir kalinya?
Aku ingin di rumah
Karena di ICU ruangan penuh
Di lobby rumah sakit kamar darurat harus diperkuat
Malaikat-malaikat itu
Malaikat-malaikat itu pulang malam ini
Tidak, jangan lagi ada berita sedih yang disiarkan
Disimpan saja di rumah
Di balik layar gelap
Di antara kalimat penyemangat
Di samping pertunjukan kata
Di belakang mata
Biar satu saja yang sakit, yang lain biar hidup
Biar satu saja yang menangis, yang lainnya senang
Nanti juga sembuh, kata orang-orang
Kata yang pintar
Kata tukang obat
Suster, dokter, infusan, obat-obatan, teman, rekan
Bahkan tetangganya yang tadi siang bawa buah-buahan
Stop dulu!
Kenapa? Bingung jawabnya?
Sudah tahu jawabnya
Kita bukan Jakarta yang tidak pernah tidur
Sok robot
Sok berbobot
Sok nyerobot
Dikira lepas pasang baterai semua bisa selesai
Lihat si Sukma
Ia tidak karuan
Tidak diurus
Tidak disayang
Tidak dianggap manusia
Stop!
Masih ada bis yang lain
Atau ojek
Atau bolos saja
Alarm tubuh tidak mau menyala
Bangun
Ya, harus ada yang bangun malam ini
Beer darimu masih banyak
Indah bibirmu mengadu
Duh, dimana lagi ya cari yang begitu?
Uangku sudah habis
Lapar, namun aku terlalu blues untuk ayam pop
Aku ingin pulang saja
Takut sudah larut
Jam segini yang jaga orang gila
Atau karena di ujung gang sana ada cermin yang entah milik siapa
Undang-undang berkumandang
Banyak sekali orang sempurna akhir-akhir ini
Rumah harga tinggi
Kaki-kaki berselimut LV
Apa mereka masih bisa makan nasi?
Ada korek?
Kamu beli sebungkus Mild
Karena ini giliranmu bermilad
Lupa yang ke berapa
Lupa juga kita ini pernah ada apa
Di lantai dansa, toilet atau di pinggir kota
Tidak, tidak ada beer tahun ini
Sebab kita sudah terlalu mabuk
Terlalu...
Cr : Rintik Sedu
25/12/2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Podcast Rintik Sedu (Season 2) [Completed]
NonfiksiSetelah setahun, kisahnya masih berlanjut. Podcast Rintik Sedu di tahun kedua akan dituliskan disini. Selamat membaca sambil mendengarkan! Ingat ya only on Spotify Rintik Sedu! p.s. ini cuma akun teri, bukan akun paus
![Podcast Rintik Sedu (Season 2) [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/234951722-64-k775945.jpg)