Masih ingatkah kau
jalan pulang?
Tak ada jalan
dan tak ada pulang
kita di atap langit
nun di bawah rata belaka
suatu saat biru
di saat lain merah kesumba.
Jadi kau tidak ingat lagi
tak percaya lagi
akan jalan pulang?
Apakah pergi harus
juga pulang?
apakah pergi
harus juga berpikir
untuk pulang?
Apakah pulang hanya ada
kalau kita pergi?
Apakah pulang
dan pergi harus berpasangan?
Masih ingatkah kau
sepasang pergi dan pulang?
Luasan bumi yang menatap langit
bermimpi untuk pulang kembali?
Melangkahlah ke depan
dan kau akan sampai
ke yang kemarin juga.
Mundurlah dan kau akan
sampai di ufuk Sana.
Mundurlah dan kau akan
sampai jauh di balik ufuk Sana.
Melangkahlah agar sadar sepenuhnya
Sini dan Sana selamanya berputar
dalam angan-angan dan ingatan kita.
Masih ingatkah
kau jalan pulang?
Tidak ada pulang
tidak ada pergi
kita tidak di mana pun
tak ada di kapan pun
terbentang antara awal
dan akhir
antara kini
dan nanti
antara jarak
yang tidak pernah kita percaya
antara kau dan aku
antara yang merayap
di bawah kulitmu
dan merasuk
dalam jantungku.
Antara yang kaurasa ada
dan kurasa tak perlu ada.
Tapi bukankah jalan pulang
tidak pernah lelah meracau,
'Akulah jalan pulang
lewatilah aku,
akulah jalan pulang
lewatilah aku'?
Bisakah kaubaca penandanya
mampukah aku menebak
petandanya?
Tanda ditakdirkan sebagai tafsir
atas dirinya sendiri
bolak-balik
dibalik-balik lagi
tak pernah peduli
pada tafsirnya sendiri.
Tapi, tanda itu
tanda itu
tanda
ya.
Oke, tanda itu.
Tapi bahkan masing-masing kita
tiada tanda lain juga
yang tak pernah selesai
menafsirkan dirinya?
Yang ada di dalam diri kita
adalah Semesta dan bayangannya.
Aku tahu, Sayangku, aku tahu sepenuhnya.
Yang ada di dalam diri kita
adalah Semesta yang senantiasa bertanya
pada bayangannya.
Entah tentang apa.
Aku tahu, Sayangku, kau bayangan
dan aku semesta, begitu?
Ya, kau tiada lain Semesta. Ya, ya.
Dan kau bayang-bayang belaka
yang tak kasat mata. Ya, ya.
Sudah berapa kali kubilang
jarak antara pergi dan pulang
sejengkal saja.
Hanya sejengkal
dan itu pun hanya ada
di otak kita
hanya ada
di ruh kita
yang lebih suka
tinggal di awang-awang.
Oke, tidak ada pergi
dan tidak pulang, katamu.
Tapi masih ingatkah kau langkah
pertama ketika kita berjanji
akan setia kepada pulang
dan tak hanya mati-matian
beriman pada pergi?
Antara pergi
dan pulang
sejengkal saja
jaraknya,
katamu.
Dan yang kausebut pulang
tidak pernah ada
di rahimku
tidak pernah aku
merasa melahirkannya.
Tapi kenapa dia ada
meskipun kau
merasa tidak pernah
melahirkannya?
Tapi kau kan yang bilang
jarak antara pergi dan pulang
hanya sejengkal saja?
Kau kan yang bahkan yakin
bahwa pergi itulah
yang susah payah
menyeret pulang
ke rumahnya?
Rumah siapa?
Pulang tidak pernah
punya Rumah
dan tidak bisa diseret-seret
ke mana-mana oleh setan pun
oleh apa pun
bahkan oleh siapa pun
yang merasa pernah
melahirkannya.
Cr : Podcast Rintik Sedu
14/06/2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Podcast Rintik Sedu (Season 2) [Completed]
NonfiksiSetelah setahun, kisahnya masih berlanjut. Podcast Rintik Sedu di tahun kedua akan dituliskan disini. Selamat membaca sambil mendengarkan! Ingat ya only on Spotify Rintik Sedu! p.s. ini cuma akun teri, bukan akun paus
![Podcast Rintik Sedu (Season 2) [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/234951722-64-k775945.jpg)