Chapter 11 : Tragedy

4K 305 49
                                        

Dua tahun yang lalu ...

Tidak. Aku tidak diperkosa Hwang Saem saat itu. Ia hanya menelanjangiku dan mempermainkan tubuhku seenaknya. Entah apa yang terjadi sebenarnya, aku terlalu syok. Yang dapat telinga kutangkap hanyalah kata, “cantik”, “mamamu” dan “wonwoo”. Tiga kata itu tidak pernah absen setiap ia menjamah.

Hwang Saem mengantarkan aku pulang dan malamnya aku langsung jatuh sakit. Bahkan Youngho tidak sempat kukabari kalau aku tidak bisa datang ke rumahnya. Aku yang biasanya hanya mengenakan bokser dan tshirt lengan pendek saat di rumah, berganti mengenakan celana panjang bahkan tshirt turtleneck. Kakek nenek bisa terserang penyakit jantung, jika melihat banyak mark. Kulitku terlalu putih hingga membuat mark itu terlihat begitu jelas.

Dua hari aku izin tidak sekolah karena demam. Jika bisa, aku ingin minta pindah sekolah, namun urung melihat wajah lelah kakek nenek ataupun senyum mama dan juga papa. Keempat orang itu terlalu berharga untukku. Jadi, sebisa mungkin aku biasa saja saat kembali menginjakkan kaki di sekolah.

Namun, tubuhku selalu mendadak mual saat berdekatan dengan Hwang Saem. Pandangan matanya seolah ingin memperkosaku saat itu juga—itu yang bergentayangan di otakku. Ia selalu sukses membuatku merasa jijik.

“Joon Eun, kamu baik-baik saja? Kenapa wajahmu tiba-tiba pucat?” tanya Youngho, dan Seojun memandangku dengan penuh tanda tanya.

“Aku mau ke toilet sebentar.” Bukannnya menjawab, aku bergegas bangkit dan berjalan meninggalkan area kantin. Memilih memakai toilet yang ada di dekat kelas, agar aku bisa langsung pergi ke sana saat bell masuk tiba.

Kupandangi pantulan wajahku pada cermin. Semuanya, alis, mata, hidung, bibir. 70% visual yang kupunya di wariskan oleh Mama.

“Kamu cantik, Joon-a.” Hwang Saem mendadak sudah berdiri di belakangku. Tangannya merambat dari pinggul terus naik hingga kini ia mengusap pipiku yang tembam. “Wajahmu sangat mirip seperti Wonwoo saat masih trainee.”

Wajahnya ia benamkan diceruk leherku, menghisap permukaan kulitku yang mendadak sensitif. Hwang Saem mendadak membalikkan tubuhku, langsung meraih belah bibir yang lantas di hisap dan di lumatnya dengan kuat. Kedua tangannya mulai meraba kemana-kemana. Bahkan dengan laknat meremas bokongku dengan sensual.

Kedua kakiku melemas.

Sial! Seharusnya aku tidak pernah kembali ke sekolah!

***

Hwang Saem itu gila. Setelah membuatku tidak berdaya di toilet—belum sampai ke permainan gilanya. Ia meminta izin mengantarku pulang pada wali kelas dengan alasan aku sakit. Padahal faktanya ia membawaku pulang ke apartemennya.

Dan kalian tahu apa yang aku lihat?

Banyak sekali wajah mama di dinding kamarnya. Dari poster sampai potongan koran. Juga potret-potret Mama yang sepertinya ia dapat diam-diam. Heh! Jangan-jangan dia sasaengnya Mama lagi?!

Aku juga menemukan banyak fotoku yang bahkan aku tidak tahu kapan itu. Juga sebuah pigura besar, dimana profil kanan adalah wajah mama sementara profil kirinya adalah wajahku. Kami begitu mirip sampai-sampai potret itu seperti potret satu orang. Aku ingin menangis melihatnya.

Si brengsek Hwang itu menjadikanku pelampiasannya, karena tidak berhasil mendapatkan Mama. Karena aku begitu mirip dengan Mama.

“Lihatkan, Joon-a, kamu begitu mirip dengan mamamu.”

Laki-laki itu mendorong tubuhku agar berbaring di atas ranjang. Jemarinya mengusap pipiku yang sudah basah oleh air mata. Mata kami berdua beradu dan ia tersenyum lembut, yang membuatku ingin meninju wajahnya. “Matamu cantik, Joon-a.”

[SP] SON || MeanieTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang