Chapter 18 : Reoccur

3.4K 297 43
                                        

“Jadi, bab 7, 12, 20 sama semi-endingnya harus di revisi lagi?” Wonwoo memandang Hyeonjae—kepala editornya—dengan bibir sedikit mengerucut. Lantas menghela napas. Menulis bertahun-tahun tidak membuat tulisannya bisa langsung diterima dan diterbitkan oleh redaksi. Tulisanmu mungkin semakin baik, namun, tuntutan juga semakin bertambah dan beragam setiap harinya.

“Ayo, Oppa pasti bisa, semangat!” Hyeonjae menepuk bahu Wonwoo dan melangkah masuk ke dalam ruangannya. Meninggalkan penulis kesayangannya mengeluhkan tuntutannya.

Wonwoo hanya bisa menurut dan mulai melangkah meninggalkan kantor penerbitan. Setelah ini ia harus rapat untuk membahas kelanjutan comeback seventeen. Ia memakai masker dan juga topi hitam, lantas mulai menghentikan salah satu taksi yang kebetulan lewat.

“Label Seventeen.”

Sopir itu mengangguk dan mulai melajukan kembali taksinya. Ia melirik penumpangnya melalui spion tengah. Dan sebuah seringai mengembang dibalik masker putih yang ia kenakan.

Gotcha.

***

“Kau sudah tak asik lagi, Yoon Seok-a. Kamu lebih sering menempel dengan Joon Eun sekarang!” gerutu Joo Won, pada Yoon Seok.

Yoon Seok menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dan terkekeh canggung pada dua temannya—Joo Won dan Ha Joon. Ia baru menyadari kalau akhir-akhir ini ia lebih cenderung mengejar-ngejar Joon Eun. Entahlah, ia hanya cemas. Kakak sepupunya masih berkeliaran tidak tahu kemana. Dan bisa tiba-tiba muncul kapan saja ia mau.

Kalau muncul di depan dirinya sih, Yoon Seok bisa menghajarnya tanpa peduli kalau mereka masih keluarga. Tapi kalau muncul di depan Joon Eun yang tengah seorang diri? Anak itu kuat untuk ukurang laki-laki kurus. Meski begitu Joon Eun hanya akan gemetar jika yang di hadapinya Hwang Yeon Jin. Itu yang membuatnya tidak mau jauh dari laki-laki itu.

“Ah, mungkin itu cuma perasaan kalian. Nanti malam kita ngumpul ditempat biasa, okay? Aku yang traktir,” ujar Yoon Seok yang langsung mendapat sorakan senang dari kedua temannya.

Meski sekarang Yoon Seok hidup seorang diri, dan kelakuannya terkesan nakal juga menyebalkan. Ia cukup baik menghasilkan uang sendiri. Untuk biaya sekolah dan makan, nenek juga bibinya mengirimi ia uang setiap bulan. Sementara sisanya seperti uang untuk kebutuhan ia melakukan ini itu, ia menjadi komikus yang cukup terkenal di salah satu platform komik. Tentu saja dengan nama samaran. Tidak ada yang tahu kalau Yoon Seok yang nakal ternyata sangat jago menggambar.

“Kalau begitu sampai jumpa nanti malam.”

Ketiganya lantas berpisah di depan kelas. Yoon Seok melirik Ha Joon dan Joo Won sebelum kembali membalikkan badannya. Melihat Joon Eun yang sedang memasukkan buku-bukunya ke dalam kelas, sembari mendengarkan Tianshi yang sepertinya sedang bercerita. Ia menyandarkan tubuhnya pada dinding, dan memandangi keduanya dalam diam. “Tianshi anak yang baik, mereka terlihat cocok.”

“Kamu yang gay, bukan Joon Eun. Kamu menyukainya,” celetuk Areum saat berjalan melewati Yoon Seok. Matanya memandang laki-laki itu dengan sinis.

Yoon Seok tertawa membenarkan. Sejak ia mengetahui akhirnya Joon Eun mengingat anak yang menolongnya, ambisinya untuk selalu berdekatan dengan anak itu sepertinya terlihat jelas. Sekali lagi ia melihat Joon Eun yang kini sudah berdiri, remaja itu harus menunduk untuk melihat wajah Tianshi yang masih asik bercerita. Dan ia melangkah meninggalkan kelas lebih dulu.

***

“Aku mau ke kantor dulu,” ucap Joon Eun, menunjukan buku-buku di tangannya. Berhubung selama masa terapi ia benar-benar diminta fokus, jadi, tugasnya untuk mengisi kekosongan nilai sangat banyak. Untung Joon Eun adalah anak yang cerdas, dan ia menyelesaikan seluruh tugasnya dalam waktu singkat.

[SP] SON || MeanieTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang