Kembang Api dan Tahun Baru

1K 82 0
                                        

Titik titik salju masih membekas di jendela, menjadikan langit kelabu dan jalanan di sekitar dorm menjadi sangat putih yang dingin namun menenangkan di waktu yang sama. Jaemin melirik ke arah tempat tidurnya, sudah hampir jam sepuluh siang dan jeno masih lelap tak menunjukan tanda tanda ia akan segera bangun.
Usai tapping seharian kemarin untuk acara tahunan agencynya, manajer memberikan libur kepada seluruh tim dan artis selama satu minggu. Libur tahunan yang biasanya tidak pernah mereka dapatkan sebelum ada pandemi.
Jaemin membiarkan jeno tanpa mengganggunya, ia memang paling jago kalau urusan tidur, membangunkannya hanya akan membuatnya uring-uringan selama seharian penuh. Tangannya mengeluarkan satu paper bag yang sudah diberi pita lucu, kado untuk neneknya yang berulang tahun hari ini. Sebuah kain wol lebar penutup pundak dan dada yang bisa digunakan neneknya untuk melawan musim dingin kali ini.
Ibu sudah mewanti-wanti agar ia mengusahakan pulang ke rumah, setelah dua tahun berturut turut ia tidak bisa pulang karena jadwal yang sibuk. Pandemi dan tanggal ulang tahun nenek, seakan menyiratkan kalau tahun ini ia bisa pulang dan berkumpul bersama keluarganya, selalu yang ia rindukan dan telah lama hilang seiring masa remajanya yang tergerus oleh sibuknya jadwal traine.
Ditatapnya wajah pulas jeno, sejak awal ia memang berencana akan mengajaknya turut serta. Nenek selalu menanyakannya, jika saja jeno tidak ikut ketika ia pulang ke rumah. Seandainya tadi malampun jeno tidak memaksa masuk ke kamarnya, awalnya hari inipun dia berencana akan tetap mengajaknya turut serta.
Jaemin berbalik dan memunguti pakaian mereka berdua yang berserakan di lantai, menyimpannya di keranjang cucian kotor dan mengangkat tas berisi pakaian jeno yang sejak semalam malas ia kembalikan ke kamarnya. Ia membawa tas hitam tersebut keluar dari kamarnya, menuju kamar jeno.
Sama seperti jeno yang sudah hapal kode masuk kamarnya, ia pun hapal diluar kepala kode masuk kamar jeno. Bagaimana tidak mereka menjadikan hari pertama masuk traine dan agencynya sebagai pasword semua hal. Itu berarti tiada rahasia lagi di antara mereka berdua.
Jeno adalah hal terbaik yang jaemin miliki hingga saat ini, selain keluarganya. Ia telah meyakini hal itu sejak ciuman pertama mereka yang malu-malu itu terjadi, sejak semua fans berhasil memergoki mereka berdua yang tak bisa melepaskan pandangan mesra pada satu sama lain ketika kamera menyala, sebuah bahasa tubuh yang tak akan pernah bisa dipelajari jurusnya untuk bisa ditutup tutupi dengan kepura-puraan.
Ia membuka lemari jeno, lemari yang berantakan karena sudah seminggu ini jaemin yang tidak masuk ke sini dan memeriksanya. Lemari itu sebenarnya hanya berisi pakaian yang biasa dipakai sehari-hari, semua pakaian untuk dipanggung biasanya dikirim oleh manajernya sehari sebelum mereka tampil dan mereka harus membawanya sendiri. Kali ini karena usai tapping untuk SM town kali ini mereka dapat jatah libur, makanya mereka disuruh membawa dulu pakaian bekas tampil kemarin, manajer baru akan mengambilnya minggu depan.
"Lee Jeno.. tanganmu kenapa senang sekali membuat berantakan isi lemarimu sendiri.." jaemin bergumam sendiri, gemas karena sudah jelas jeno akan menarik baju yang akan dikenakannya bukannya mengangkatnya terlebih dahulu.
"Sayang.." seseorang memeluk tubuh jaemin dari belakang. "Rupanya kamu di sini.." jeno yang masih mengantuk menyandarkan kepalanya di bahu jaemin.
"Ah aku kaget, aku pikir member lain.." jaemin melirik ke arah pintu kamar, takut ada orang lain yang melihat mereka berdua.
"Mmmh..." jeno hanya mengerang tanpa melepaskan pelukannya.
"Kalau masih ngantuk tidur lagi sana.." jaemin mengedikkan bahunya. "Biar aku beresin lemari kamu dulu.."
"Aku lapar sayang.." jaemin seakan diingatkan kalau pagi ini mereka belum sempat sarapan, dan makanan terakhir yang mereka makan adalah makan malam ketika masih di studio.
"Ya udah aku buatkan ramyon.." jaemin berbalik dan membawa jeno ke tempat tidurnya sendiri. "Tunggulah sepuluh menit.." ia mengecup pipi lelaki yang ia tidurkan di ranjangnya, tanpa menyelimutinya ia tinggalkan ke dapur untuk membuat sarapan bagi mereka berdua.
"Hai jaemin.." di dapur ternyata sudah ada haechan dan renjun, juga ten yang numpang makan. Satu lantai dorm mereka diperuntukan bagi satu unit, dan biasanya jika waktu makan tiba banyak orang yang sering tersasar, seringnya mereka naik ke lantai tim 127 berada, masakan taeyong dan doyoung adalah yang terbaik jika untuk acara makan bersama. Sementara untuk sekedar makan santai dan tempat gibah lantai Tim Dream adalah yang selalu dituju oleh siapapun.
Jaemin berdiri di depan meja membuka kemasan ramyon yang diambilnya dari lemari, ia sedikit mengelak ketika tangan ten menarik kerah kemejanya.
"Hyung..." jaemin yang tiba tiba mendapatkan perlakuan seperti itu bergerak menjauh karena kaget.
"Ada merah chan.." ten menatap haechan. "Udah rukun lu ya?"
"Cih.." jaemin hanya tersenyum memamerkan gigi giginya yang besar itu.
"Huek" haechan berpura pura muntah meskipun ia tengah makan. "Pasangan paling buchin se seoul emang paling bikin mual..."
"Yeee jomblo kok ngenes?"
"Kata siapa gue jomblo?"
"Kata mark!" Jaemin menjulurkan lidah ke arah haechan.
"Si kelinci mulutnya pengen banget gue bungkusin bubble warp terus kirim deh ke nereka.."
"Kalau di neraka gak ada lu, gue mending di neraka deh Chan.." ucapan jaemin membuat renjun dan ten tertawa. "Ah ten hyung, lu sama jhonny ada rencana liburan gak?"
"Jhonny ngajak ke busan sih, kenapa emang?"
"Emmh tadinya gue mau minjem mobil buat pulang ke rumah..." kata kata jaemin menggantung, ketika jeno ternyata sudah berdiri di pintu dapur.
"Loh kamu mau pulang? Kok gak bilang?"
"Kan kamunya juga baru bangun, rencananya aku mau bilang dan ajak kamu pas nanti kita makan.."
"Ahhh okeh deh sayang.." jeno hampir memelul jaemin sebelum haechan dan renjun menahan dan malah menjauhkannya.
"Gue yakin lu berdua udah make semua gaya tadi malem gak usah nambah nambahin deh dengan nganggep kita semua laler di sini.." haechan menyemprot tak terima di muka jeno.
"Hyung ada tali rapia gak di kolong meja? Ini anak emang harus diiket biar nurut.."
Jaemin hanya tertawa melihat pacarnya disiksa oleh teman-temannya, ia mengangkat panci berisi ramyon yang sudah matang dan mengambil dua pasang sumpit.
"Sayaaaaang..." jeno merajuk padanya.
"Udah lepasin, dia belum makan dari semalem, ntar abis makan lu boleh iket dia beneran.."
haechan dan renjun melepaskan jeno dari cengkramanya, membiarkannya duduk di kursi kosong sebelah jaemin.
"Lu gak ada rencana mau nyuapin jeno, kan?" Renjun nyolot lagi.
"Lah kalau iya emang kenapa? Dia pacar gue.." wajah renjun dan haechan berubah masam.
"Sukurin lo! Mulut pacar gue emang lebih pedes dari kuah ramyon!" Jeno melirik jaemin yang sedang sibuk meniup niupkan mie di tangannya sebelum menyuapinya. "Mau minjem mobilnya jaehyun hyung aja gak? Kalau jhonny sama ten juga mau pacaran.."
"Yang bener aja lo, taeyong hyung juga kan sekarang masih perawatan, mereka berdua pasti sibuk bolak balik rumah sakit.." haechan sepertinya memang sedang darah tinggi hari ini.
"Kita naik kereta aja ya, udah lama kan kita gak pacaran di kereta?" Jaemin memberikan ide yang langsung disetujui oleh jeno.
"HUEEEK" kini renjun dan haechan muntah beneran.
...

Day Dream [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang