Sebuah Tanya

893 73 1
                                        

Kenapa harus Jeno? Kenapa tidak yang lain

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kenapa harus Jeno? Kenapa tidak yang lain. Kenapa hanya dia, kenapa harus dia yang ia cintai ketika usia mulai mengajarinya apa itu arti menjalani hidup. Ditatapnya sekilas lelaki yang sedang menyopiri mobil ayah yang mereka pinjam itu. Sesekali ia masih mengikuti lirik lagu yang mereka putar di radio, jaemin memutar kepala dan mengalihkan pandangannya.
Setahun lalu ketika uang mulai terkumpul dan jeno dengan hasratnya yang menggebu ingin membeli mobil sehebat milik jhonny, jaemin malah menolak dan membeli sebidang tanah kosong di punggung bukit dekat kota kelahirannya. Daerah yang sepi dan jauh dari mana-mana sangat cocok baginya untuk menikmati masa tua atau ketika jenuh melandanya ketika dihadapkan pada rutinitas yang sama.
Kurang dari setahun ia berhasil membangun sebuah villa atau rumah peristirahatan tepatnya, atau inginnya ia menyebutnya begitu. Sebenarnya jaemin tidak pernah melarang jeno jika ia ingin membeli mobil, hanya saja di seoul berjalan jalan masih lebih nyaman menggunakan bus atau kereta. Namun kenyataan kalau kini mereka bahkan harus meminjam mobil milik ayahnya untuk melihat villa yang baru selesai dibangun itu mungkin uang yang ia dapat dari Make A Wish atau Resonance bisa saja membuatnya membeli sebuah mobil.

Kenapa harus jeno? Mereka bertemu dan masuk ke agency di hari yang sama. Sepasang mata remaja itu hanya melihat dengan jutaan arti ketika dikenalkan pada satu sama lain, namun di hati jaemin tidak. Meski tak mampu mengenalinya sebagai apa tapi ia paham betul jika sejak saat itu ia tidak bisa jauh dari sosok yang selalu membuatnya merasa aman.
Jaemin bisa berlindung di balik punggung jeno ketika dunianya dihantam begitu banyak ancaman, tangannya selalu terulur lebih dulu bahkan ketika ia tidak merasa memerlukan bantuan namun nyatanya sedang keteteran. Jeno adalah penari yang baik dan jaemin sudah belajar banyak darinya soal itu, namun yang lebih membuat jaemin memandang jeno sebagai suatu entitas istimewa adalah karena jeno yang selalu berani selangkah lebih awal darinya yang terlampau berhati-hati.

Kenapa harus jeno? Sebuah kalimat dengan tanda tanya besar, yang semakin tahun jaemin malah semakin yakin kalau tak semua pertanyaan membutuhkan jawaban. Ia hanya ingin menginginkan dan diinginkan sama besarnya oleh seseorang, ia hanya ingin jatuh cinta sekali saja dalam hidupnya melewati masa remaja dan semua warnanya juga menghadapi masa dewasa dengan segala pahit tanpa harus menyesalinya. Ia ingin tangan itulah yang tetap memegangnya erat untuk menguatkannya berdiri, tatapan itu yang selalu berbinar terang ketika setengah dunia terasa mulai menghakimi, juga hangat senyumannya yang seperti sari-sari yang diangkut lebah menjadikan madu yang mampu menjadi obat dari segala jenis kesulitan yang ada.

"Lagi mikirin apa?" Tangan jeno mencari tangannya kemudian menggenggamnya erat, sementara tangan satunya fokus pada kemudi.
"Ah tidak.. aku hanya.." jaemin mendesah.
"Pasti mikir yang berat berat lagi.." jeno memutar kemudi setengah putaran ketika mobil hendak berbelok, membuat matanya awas melihat ke jalan.
"Kamu masih sayang aku, gak?" Jaemin kini melihat lagi ke arah jeno. Di ulang tahunnya yang ke tujuh belas jeno bertanya tentang keterbukaan pikiran dan bagaimana pandangan jaemin terhadap perbedaan orientasi seksual, yang dijawab jaemin dengan pura pura bijak namun tak mampu menyembunyikan degup jantungnya sendiri. Ketika ia terus menerus berbicara perlahan jeno menutup bibirnya dengan sebuah ciuman.
"Pertanyaan bodoh macam apa itu.." jeno berdecak gemas, ia faham jika pasangannya adalah seseorang yang selalu dibuat sibuk dengan pikirannya sendiri. Berkali kali ia dihandapkan pada pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu untuk ditanyakan.
"Ya udah apa susahnya tinggal dijawab.." mata jaemin menyelidik dan menantang di waktu yang sama.
"O-okeh..." jeno membanting stir dan menepikan mobil di bahu jalan. Di tengah pepohonan yang menjulang tinggi dan langit abu-abu musim dingin yang masih belum mau pergi, ia turun dan lari keluar dari mobilnya berdiri di tengah tengah jalanan yang sepi. "Nana Jaemin!!!!! Aku!!!! Sangat mencintaimu!!!!! Sampai kapanpun!!!!"
Tingkah jeno membuat jaemin tak berhenti tertawa dan ia buru buru membersihkan salju salju yang mengotori mantelnya begitu masuk lagi ke dalam mobil.
"Orang gila.." kata jaemin. Sambil membantu jeno memasangkan sabung pengamannya.
"Gimana? Sudah terjawab pertanyaannya?" Jeno menatap lembut orang yang duduk di sampingnya.
Jaemin hanya mengangguk sambil tersenyum ke arah orang yang selalu saja punya aksi yang tak bisa ditebak untuk menunjukan arti lain dari kata romantis.
"Nanti di villa aku buatkan steak besar yang bikin kamu kenyang seharian..." jaemin mengulum senyumnya, melirik ke arah kantong belanjaan di kursi belakang hasil mereka berdua berbelanja di toserba dekat rumah orang tuanya.
"Villa atau rumah kita?" Jeno mulai membawa mobil melaju kembali dan satu tangannya mencari lagi tangan jaemin.
"Emang kamu mau menetap di desa kaya gini?"
"Rumah itu selalu soal kamu, tak peduli tempatnya di mana.." ajaibnya kadang jeno selalu punya jawaban yang tak terduga dan kekuatan magisnya adalah berhasil membuat hati jaemin tenang bahkan bahagia di beberapa puncak gambaran grafiknya.
"Eh iya, orang tua kamu emang gak nanya kenapa kamu gak pulang padahal sedang libur?"
"Mereka gak tau aku libur" jeno tersenyum dan berhasil menyembunyikan kedua bola matanya, wajahnya melukiskan sepasang sayap bangau favorit jaemin. "Liat aja di live streaming youtube, keluargaku pasti lagi heboh nonton atau gampar gamparin haters.."
Semenjak mengenal jeno, jaemin masih bisa dihitung jari mengunjungi rumah keluarganya. Padahal rumah keluarga jeno lebih besar dari rumahnya dan di sana lebih nyaman, tapi anehnya setiap kali liburan malah jeno yang memaksa untuk ikut pulang ke rumah jaemin.
"Kalau ntar anak-anak kamu gak pulang ke rumah dengan alasan yang sama kamu gak bisa protes seharusnya.."
jeno terbelalak mendengar perkataan jaemin barusan. "Anak, na? Menurut kamu anak laki laki atau anak perempuan?"
"Tak penting jenis kelaminnya apa, tapi dia harus punya saudara aku sudah tau rasanya jadi anak tunggal dan itu sangat membuat kesepian.."
"Jangan ngomong kaya gitu" mobil mereka mulai memasuki jalan berbatu, menembus hutan di kanan kirinya dan putih karena salju yang menyelimutinya. "Orang tua kamu itu udah jadi orang tua paling hebat sedunia, karena punya anak kaya kamu.."
Jaemin tak segera menjawab, di puncak bukit ia mulai bisa melihat atap rumahnya dan jeno mengikuti arah pandangannya.
"Kalau ternyata anak kita nanti juga adalah lelaki yang pacaran sama lelaki lagi gimana, sayang?" Jaemin menatap jeno sungguh sungguh.
Jeno butuh waktu beberapa detik untuk mencerna dan mencari jawabannya, dan mulutnya baru terbuka ketika mobil mereka mulai memasuki halaman rumah "ya gak apa-apa dong, tapi kayanya kita gak usah tinggal di korea lagi ya kalau udah punya anak, kita bisa cari tempat di amerika, kanada atau eropa.."
"Sudah ah kita ngobrol terlalu kejauhan" jaemin membuka pintu mobil dan segera mengakut kantong belanjaannya.
"Loh kamu loh yang memulai pembicaraan"
...
Langit semakin meredup tanda hari semakin sore, jaemin sedang sibuk di dapur menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Di chat room tim mereka semua orang sedang sibuk membahas liburan mereka masing-masing. Taeyong dan Jaehyun rupanya pergi ke villa milik keluarga jaehyun di pulau jeju, untuk menenangkan diri. Bagaimanapun juga taeyong pasti akan sangat terpukul karena tidak bisa tampil di SM town kali ini, padahal ia sudah melakukan persiapan jauh jauh hari.
Jhonny dan Ten sudah berada di busan, dan sepertinya jhonny berencana membawa ten ke amerika untuk mengenalkannya pada keluarganya. Sesuatu hal yang sangat membuat iri. Rombongan badut dreamis mencoba bernegosiasi dengan jaemin agar bisa ikut liburan dengan mereka berdua, namun jaemin tidak menggubrisnya dan melarang jeno membalas obrolan mereka berlima. Ia ingin menikmati waktu hanya untuk mereka berdua saja.
Sementara jaemin sibuk menyiapkan makan malam di dapur yang seluruhnya masih baru itu, jeno berkeliling rumah dan membersihkan beberapa bagiannya dari salju yang menutupinya. Jaemin adalah jaemin dia menolak untuk menyewa orang yang bisa datang ke sini dan membersihkannya secara rutin, ia malah meminta ibu dan neneknya yang melakukannya.
Jeno berdiri di tepi kolam renang yang hampir membeku ketika dua ekor kucing nyaris mencoba menceburkan diri ke sana, buru buru ia mengambil mereka berdua meskipun udara dingin dan bulu bulu itu bisa menjadi penyebab munculnya alerginya.
"Snowhite.. Heebum, di mana kalian?" Seorang pria menerobos masuk halaman belakang rumah jaemin dan menemukan kedua kucingnya berada di dalam pelukan jeno. "Ah maaf rupanya kedua kucingku lari ke sini.." ia menatap kedua kucing miliknya yang berada di dalam pelukan jeno.
"Ah iya, kami baru saja tiba, dan aku sedang berkeliling rumah lalu menemukan mereka berdua hampir saja masuk ke kolam.." jeno menyerahkan kucing bernama heebum dan snowhite itu kepadanya, sebuah nama yang terdengar sangat familier namun ia lupa mengenalnya di mana.
"Oh sedang liburan keluarga?" Laki laki berusia hampir empat puluh tahun itu menerima kedua kucingnya dan tersenyum ramah tanda terimakasih.
"Ah tidak, hanya kami berdua.." jawab jeno rikuh.
"Emmh.." lelaki tersebut mengangguk. "Apakah kau seorang idol dari SM?"
"Neee..." jawab jeno ragu, meskipun ini masih bagian dari seoul ia tidak menyangka kalau masih ada yang mengenalinya di pinggiran kota seperti ini.
"Pasti menyenangkan berada di sana dan struktur wajahmu memang sesuai dengan kriteria yang selalu ditetapkan direktur kalian" kata lelaki itu lagi. "Ah iya, aku dan temanku menyewa sebuah villa di atas, tak jauh dari sini, mampirlah sesekali temanku jago sekali membuat kimbab.."
"Ah baiklah" jeno mengangguk sopan.
"Aku pergi dulu, senang berjumpa dengan prang seoul juga di tempat seperti ini.." senyumnya mengembang sambil berpamitan pergi dan meninggalkan halaman rumah mereka. Jeno memperhatikannya sampai ia hilang di balik pagar dan pepohonan.

Day Dream [SELESAI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang