Tap vote sebelum lanjut scroll
"Manusia wajar punya keinginan, tapi keadaan tentu punya kenyataan yang sudah diatur oleh pemilik kekuasaan."
•••
Perjalanan udara yang kini Prilly tempuh sangat amat terasa lama dirasanya. Pasalnya, sekuat bajapun dirinya menyakinkan diri bahwa sang Mama akan baik baik aja maka sekuat itu juga rasa khawatir menyelimutinya. Rasa khawatirnya tak kunjung hilang maupun berkurang, meskipun disampingnya saat ini ada seseorang yang sejak awal menemuinya di ruang tunggu bandara untuk menemaninya.
Prilly sama sekali tak banyak mengambil pusing untuk memikirkan bagaimana bisa Ali tiba tiba menghampirinya dan bahkan kini duduk manis disampingnya.
"Kebetulan gue juga berencana buat ke Jakarta weekend ini."
Ungkapan Ali ketika tadi Prilly sempat menanyakan alasan keberadaan laki laki itu di sampingnya.
Selanjutnya Prilly tak mau banyak berharap memikirkan bahwa Ali ada disini karenanya. Karena rasanya sudah cukup kepalanya dibuat memberat akibat memikirkan kondisi sang Mama.
"Gue anterin ke alamat rumah sakit tempat nyokap lo dirawat ya."
Prilly menoleh, kemudian segera menggeleng. Sepertinya dirinya cukup tahu diri untuk tak semakin banyak merepotkan Ali.
"Gue bisa sendiri Li, tenang aja."
"Gak ada penolakan, ayo ngantri taksinya." Putus Ali final.
Prilly tak sempat mengelak maupun menolak, sebab Ali dengan cepat menyahut koper di tangannya untuk dibawa dan berjalan di depan Prilly. Akhirnya dirinya hanya bisa menghela nafas kasar, dan dengan pasrah berjalan mengikuti Ali.
Prilly segera membuka ponselnya berlari menuju room percakapan antar dirinya dan sang adik guna memastikan alamat rumah sakit tujuannya sesaat setelah keduanya akhirnya mendapatkan taksi. Keduanya sama sama duduk di belakang, setelah Ali berhasil memasukkan kopernya kedalam bagasi.
Perjalanan dari bandara menuju rumah sakit lumayan memakan waktu. Belum lagi kemacetan yang beberapa waktu mendera. Prilly semakin merasa tak sabar ingin segera sampai dan memastikan kondisi sang Mama.
Semalaman kemarin, Prilly bisa katakan tidurnya tak lagi nyenyak. Bahkan dua kotak susu kemasan pun tak mampu membuat dua matanya meredup. Dalam kepalanya hanya berisi bayangan tentang sang Mama. Sungguh, Prilly merasa tak akan bisa tenang sebelum kedua matanya benar benar melihat dengan langsung.
Prilly sadar, rasa kecewanya terhadap sang Mama sangat tak pantas untuk tetap ada ataupun dipertahankan. Sang Mama hanya lah manusia biasanya yang pastinya tak luput dari berbuat kesalahan sama seperti manusia pada umumnya.
Harusnya dirinya ada di samping sang Mama untuk tetap menjadi support system sang Mama atas kehancuran hubungan keluarganya. Bukan malah menambah beban fikiran Mamanya hingga sampai kondisi sang Mama drop.
Ah, Prilly tentu harus meminta maaf atas segala keegoisannya saat ini.
Sang supir taksi memberitahukan bahwa keduanya telah sampai ditempat tujuan, sehingga Ali meminta sang supir untuk menunggu dirinya karena harus mengantarkan Prilly masuk kedalam terlebih dahulu. Karena tak mungkin Ali membiarkan Prilly masuk dan harus mencari ruang rawat Mamanya seorang diri.
"Gue temenin sampe kedalem ya." Ujar Ali sambil mengeluarkan koper Prilly dari bagasi.
Melihat Ali yang sepertinya tak ingin mendapat penolakan darinya, maka Prilly hanya bisa mengangguk seraya mengirimkan pesan pada sang adik untuk menjemputkan di lobby rumah sakit.
KAMU SEDANG MEMBACA
From Do'a To Do'i [COMPLETED]
Romance(Follow dulu sebelum membaca, adalah salah satu sikap dari pembaca yang cerdas 👌) Spiritual-Romance Berambisi dalam segala hal apapun, Prilly ingin selalu menjadi orang yang selalu berada di depan. Menjadi satu satunya, sosok panutan bagi banyak or...
![From Do'a To Do'i [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/241264714-64-k291518.jpg)