Jumat sore yang kelabu ini rencananya gue akan berkumpul dengan kedua sahabat gue di rumah Didit. Semenjak kami melepas jas almet hampir dua tahun ini, intensitas pertemuan kami memang menurun drastis, berkat kesibukan kami masing-masing. Inipun kami memutuskan untuk berkumpul karena Didit yang baru saja pulang ke tanah air setelah lima bulan sahabat playboy kami itu memulai pendidikan masternya di Queensland.
"Mami kemana Dit, rumah lo sepi amat." Komentar gue begitu memasuki rumah Didit. Di dalam sudah ada Velis yang dengan santainya duduk di sofa ruang keluarga dengan se-toples camilan ditangannya.
"Nemenin papi dinas ke Borneo. Tapi bentar lagi sampe rumah kok, ini udah di Soetta katanya." Didit sudah menghempaskan diri di sofa samping Velis dan mulai sibuk mengotak-atik remot TV.
"Dit pinjem kamar mandi ya." Gue melepas shoulder bag yang sejak tadi menggantung di pundak gue dan meletakkannya di sofa yang kosong kemudian bersiap melepas blazer.
"Silahkan. Mau ditemenin juga boleh." Balas Didit dengan senyum mesum menghiasi tampang playboynya. Udah kangen gue tampol kayaknya ini anak.
"Yeey. Udah bosen hidup lo." Gue melempar blazer gue tepat ke muka Didit kemudian menghiraukannya dan berjalan ke kamar mandi yang sudah gue apal diluar kepala letaknya.
Sekembalinya gue dari kamar mandi, TV berukuran super besar di ruang keluarga Didit sudah menampilkan adegan opening film 1917. Gue mengambil sekaleng minuman cokelat instan kemudian mendudukan diri di single sofa sambil mengamati Velis, yang baru gue sadari kalo dari tadi dia hanya diam dengan wajah kusutnya. Kenapa ni bocah. Didit yang kebetulan menoleh ke gue dan menyadari gue sedang menatap Velis intens mengedikkan bahunya soolah memberikan jawaban kalau dia juga tidak tau alasan kekusutan Velis sore ini.
"Woyy muka lo jangan kusut-kusut amat. Nggak cocok lo kalo murung gitu." Didit yang lebih dulu menggoda Velis, menyenggolnya dengan sengaja dan mengambil toples camilan dari tangan Velis.
"Ah rese lo Dit, gue lagi menghayati peran nih." Dengan cepat Velis kembali merebut toples cemilan berisi keripik singkong itu dari Didit.
"Temen lo habis kepentok di mana sih Ra. Gue tinggal lima bulan ngapa tingkahnya makin edan gini." Komentar Didit sambil mengamati wajah Velis dan menyentuhkan punggung tangannya ke dahi Velis.
"Edan edan... elu kali yang edan. Ra belain gue ngapa." Velis berucap dengan judesnya, namun menatap gue memelas. Sorry say, kali ini gue setuju apa kata Didit. Jadi tidak ada kalimat pembelaan dari gue
"Lagian lo ada masalah apa sih Vel. Nggak biasanya lo kusut gitu." Gue menggeser duduk Velis, sehingga gue sekarang sudah duduk di sofa panjang menghadap TV dengan Velis diposisi tengah.
"Mending lo tanya masalahnya si kucrut ini dulu deh. Selama lima bulan di Queensland udah berapa bule yang dipacarin." Ucapan Velis membuat gue melirik tajam ke arah Didit. Sedangkan Didit malah pura-pura fokus dengan film yang sedang berputar di layar TV.
"Nggak usah pura-pura nggak denger lo Dit." Sambung gue sambil memukul Didit dengan bantal Sofa.
"Nggak ada, gue nggak ada pacarin siapa-siapa. Seriusan." Balas Didit dengan tangan membentuk tanda peace kemudian berpindah duduk ke single sofa.
"Nggak percaya gue mah kalo sama Didit." Velis dengan mata menyipit mulai mengompori.
"Ini ngapa jadi bahas gue dah, kan yang komuknya kusut elu. Hidup gue mah happily ever after." Didit membalikkan topik dengan tampang songongnya, pria dengan celana kolor itu kini mulai membuka toples snack lain yang tersedia di meja. Menghiraukan Velis yang meliriknya penuh dendam.
"Lo duluan deh Ra yang cerita, yang habis putus kan elo." Velis masih memutar-mutar topik. Berat nih kalau Velis udah begini modelannya.
"Yee.. gue kan udah cerita ke lo berdua lewat video call waktu itu, gimana sih." Gue berucap tak terima. Males kali ah mengulang cerita yang sama, nggak seru.
KAMU SEDANG MEMBACA
Caffeine (Completed)
ChickLitApa yang kalian temui diusia awal 20an? Falling in love. Doing final assignments in college (sampai stress dan pengen minta kawin aja). Hopeless, become unemployed. Finally get the first job. Broke up when your love relationship isn't going well. D...
