37. If I Fall in Love

910 77 1
                                        

Langkah kaki gue seketika terhenti ketika melihat seorang wanita paruh baya keluar dari ruangan kepala departemen pendidikan yang tidak lain adalah ruangan bapak Gallendra Angkasa alias Allen.Wanita itu tampak anggun dengan dress selutut berwarna seawood. Begitu melewati gue, wanita yang gue perkirakan berusia awal 50an itu tersenyum ramah, yang tentu saja gue balas dengan balik tersenyum dan mengangguk singkat.

Meski batin gue bertanya-tanya tentang siapa ibu paruh baya itu, gue memilih untuk mengabaikannya. Setelahnya, gue mengetuk pintu, dan begitu dibalas dengan sebuah kata yang mempersilahkan gue masuk dari si empunya ruangan, gue mendorong pelan pintu ruangan Allen.

"Pak ini dokumen untuk project bersama Unicef yang opening-nya akan dilaksanakan di Prambanan akhir minggu ini." Tidak ada basa-basi. Dokumen yang tadi ada di tangan gue kini sudah berpindah ke tangan Allen.

"Kamu yang akan pergi bersama saya?" Tanyanya, membolak-balik isi dokumen tadi.

"Seharusnya dengan mas Ibram, tapi istri mas Ibram sedang hamil tua dan nggak mau ditinggal jauh, jadi mas Ibram minta tolong saya untuk menggantikan." Jawab gue yang masih berdiri di depan meja Allen.

Projek multinasional yang akan bekerjasama dengan Unicef ini akan menjalankan dua misi sekaligus, pertama mengenai perlindungan anak yang mana akan diselenggarakan edukasi tentang perkawinan anak, mengingat angka perkawinan anak atau pernikahan anak usia dini hasil dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) pada tahun 2018, BPS mencatat angka perkawinan anak di Indonesia terbilang cukup tinggi yaitu mencapai 1,2 juta kejadian.

Misi yang kedua yaitu mewujudkan lingkungan yang bersih untuk hidup, bermain dan belajar bagi anak-anak. Dilakukan dengan pambangunan sarana cuci tangan di beberapa sekolah di sekitar Prambanan yang masih minim kebersihan lingkungannya, terutama sarana cuci tangan dan sanitasi sekolah. Selain itu juka akan dilakukan usaha jangka panjang dengan memperbaiki kualitas air dan sanitasi di pelosok Yogjakarta. Sebuah survei air minum pada tahun 2017 di Yogjakarta, menemukan bahwa 89% sumber air dan 67% air minum rumah tangga terkontaminasi oleh bakteri tinja.

"Nice to have another trip with you." Ujarnya menatap tepat di manik mata gue. Demi Tuhan belakangan ini Allen senang sekali membuat gue salah tingkat dengan gerak gerik impulsivenya, contohnya, matanya yang tajam itu yang tiba-tiba menatap gue seperti sekarang.

"Baik, saya akan kembali keruangan saya." Dengan susah payah akhirnya gue memutus tautan mata kami, diikuti gerakan gue yang memutar tubuh hendak meninggalkan ruangan Allen. Namun belum sempat gue meraih knop pintu, suara Allen kembali terdengar hingga menghentikan langkah kaki gue.

"How about lunch?"

"How about Kyra?" Setelah hening yang cukup lama akibat otak gue yang terus menimbang jawaban yang pas, akhirnya kalimat tanya itulah yang keluar dari mulut gue.

"Bestfriend." Gue menaikkan sebelah alis, menuntut penjelasan atas jawaban Allen yang rasanya tidak bisa diterima otak gue. "Like you and Didit, the way you look at Didit is same with the way I look at Kyra. Rasa nyaman kamu ke Didit sama seperti rasa nyaman saya ke Kyra. Saya sadar saat saya melihat kamu, Ra." Lanjutnya masih dengan kontak mata yang sangat intens antara kami.

"Queens Head, 12.30." Ujar gue, menyebutkan nama salah satu restoran di daerah Mampang, secara tersirat menyetujui ajakan makan siang Allen.

"Basement, 12.30." Gue kembali mengerutkan dahi, bingung dengan ucapan Allen. Maksudnya kita mau makan di basement kantor gitu?

"Kita berangkat bareng, pakai mobil saya." Belum sempat gue menyuarakan isi kepala gue, Allen lebih dulu menjawab dengan senyum gemas diwajahnya. Curiga gue, Allen kadang-kadang bisa jadi cenayang juga ternyata, atau ekspresi gue yang terlalu mudah terbaca.

Caffeine (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang