"Aku hamil kak" jawab Qween cepat.
Hening.
Lelaki itu tak merespon apapun, ia hanya menatap Qween datar membuat wanita hamil itu gelagapan.
"Kak, kakak udah janji kan mau tanggung jawab waktu itu" kata Qween cemas.
Lelaki itu pun mengeluarkan sesua...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari sudah menjelang siang, tetapi rumah itu masih ramai oleh tamu dan sanak saudara yang sedang berbincang, makan, dan lain lain.
Lala, Rio, dan Rian masih asik bermain dengan anak anak yang hadir.
Sedangkan dua orang yang sudah sah menjadi suami istri itu kini sedang duduk di meja makan sambil mendengarkan wejangan wejangan yang di ucapkan para orang tua yang sama sama duduk disana.
"Oh iya, kira kira kalian mau honeymoon kemana?" Tanya ibu Arion membuat Qween mengerutkan keningnya bingung. Pasalnya mau menerima pernikahan ini demi anak anak saja sudah untung, tapi apa? Honeymoon?, Ga salah denger. Pikir Qween.
Sementara Arion sudah tersenyum sumringah, tapi saat akan menjawab wanita di sebelahnya sudah lebih dulu membuatnya lemas.
"Ga kemana mana mom, kita ga ada rencana buat honeymoon, lagipula aku ga mau ninggalin anak anak" jawab Qween tentu mendapat tatapan tak terima dari Arion.
"Loh? kenapa? Padahal daddy udah beli tiket honeymoon kalian loh sebagai kado pernikahan dari daddy sama mommy. Sayang kalo kalian ga pergi" kata ayah Arion menginterupsi, Sontak saja mata Arion berbinar senang, ternyata ayahnya bisa di ajak kerjasama tanpa harus ia bilang.
"Anak anak kan ada mom sama dad, jadi aman" timpal ibu Arion saat melihat Qween yang terlihat berfikir.
"Hmm gimana kalo mom sama dad aja yang honeymoon lagi" usul Qween menatap polos kedua orang tua Arion yang terkejut.
"Kamu ini, kami udah tua. Udah waktunya jagain cucu cucu, ada ada aja" kata Ibu Arion terkekeh sambil menepuk pelan tangan Qween.
"Udahlah yang, kita pergi aja. Sayang loh kalo batal" ucap Arion tiba tiba saat melihat Qween yang kembali akan menolak, namun ucapan itu malah mendapat tatapan tajam dari istrinya itu.
"Yaudah, tapi aku mau bawa anak anak. Sekalian ngajak mereka liburan juga" kata Qween menatap ayah Arion yang kini menaikan sebelah halisnya, lalu tersenyum mengejek pada Arion yang menganga tak percaya pada Qween.
"Oke, nanti dad pesen 2 tiket lagi"
Tiba tiba sebuah tangan mungil memeluk Qween dari samping membuat wanita itu sedikit terkejut, siapa lagi kalau bukan Lala, anak perempuannya yang sekarang menjadi sangat manja.
"Cape banget kayaknya anak ibu, Sampe keringetan begini" ujar Qween mendudukan Lala di pangkuannya lalu mengelap keringat anak itu dengan tisu.
"Iya ibu, banyak temen temen yang baik disini, Lala suka. Ga kaya disana, pada nakal nakal" balas Lala di akhiri dengan bibirnya yang cemberut.
"Oh iya, abang io mana? Kok Lala sendiri?" Tanyanya memperhatikan Lala yang kini asik memainkan rambut barbie nya.
"Huh! Ibu, bang io nakal lagi, Lala ga suka! Bang io jadi anak nakal!" Adu nya dengan mata yang berkaca kaca menatap ibunya yang kebingungan.
"Lagi?" Kini Arion yang bertanya dengan dahi berkerut dan di angguki oleh anaknya itu.
"Emang bang io kenapa lagi?" Tanya Ibunya Arion.
"Tadi pas Lala main, Lala ga sengaja dorong Ica telus bang io nya malahin Lala. Lala ga suka, Lala kan tadinya mau minta maaf sama Ica tapi ga jadi kalna abang udah malahin Lala duluan" jelas Lala cemberut sementara yang lain hanya bisa menghela nafas panjang. Dasar anak anak pikir mereka.
"Tapi Lala tetep salah, harusnya ga dorong Ica! Ica kan masih kecil!" Teriak sebuah suara yang tak lain Rio sendiri dengan muka yang sama sama cemberut bersama Ica di sebelahnya ia tuntun.
"Lala kan udah bilang ga sengaja! Abang tetep malahin Lala!" Teriak Lala yang sudah meneteskan air mata, menangis.
"Sstt, sudah sudah! Kok malah berantem sih anak anak ayah?" Ujar Arion yang lalu menggendong Rio yang sama sama terlihat akan menagis, sementara Ica sudah duluan di gendong oleh Dario, ayahnya.
"Iya, kok berantem sih. Nih Ica nya aja ga apa apa kok, iya kan sayang?" kata Dario yang memang sedari tadi duduk bergabung disana bersama istrinya.
"Ia!" Seru Ica mengangguk semangat walau anak itu tak terlalu paham suasana disana.
"Tuh Ica nya ga apa apa, sekarang baikan. Tapi Lala juga harus minta maaf sama Ica, ayo" ujar Qween menyeka air mata Lala.
"Abang Io yang minta maaf sama Lala, baru Lala minta maaf sama Ica!" Tawar Lala yang tentu mendapat delikan mata dari ibunya itu.
Sementara Rio masih anteng memeluk Ayahnya dan memalingkan wajah dari Lala.
"Yaudah kalo ga mau baikan, terpaksa Ayah batalin jalan jalannya. Opa mereka ga mau baikan! Jalan jalan nya ga jadi Opa" kata Arion pada ayahnya dan tentu saja orang orang disana langsung menahan senyum saat melihat kedua anak yang sedang berselisih itu sontak menatap Ayahnya tak terima.
"Lala maafin abang!"
"Abang maafin Lala!" Ujar mereka serempak saat beberapa detik menatap Ayahnya.
"Ica nya?" Tambah Qween menahan untuk tidak tertawa geli.
"Ica maafin Lala!" Ujar Lala lagi menatap Ica yang kini sedang memakan brownies coklat.
"Ia kak Lala, Ica maafin" ucap Dario tersenyum lalu menatap anaknya sambil membersihkan remehan coklat di bibir anak itu.
"Ia!" Seru Ica kembali memakan brownies nya.
"Jadi kan Ayah jalan jalannya?" Kata Rio dengan wajah memelas.
"Ayah belum liat kalian pelukan tuh!" Balas Arion lagi, sontak kedua anak itu turun dari pangkuan kedua orang tuanya dan berpelukan erat.
Semua orang yang ada disana tentu saja tertawa pelan melihat kelakuan kedua anak itu.
Dasar anak anak, penuh drama. Pikir mereka.
. . . . . . . .
Gimana?
Next?
Jangan lupa VOTE KOMEN okaaayyy😘
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.