Hera menjalani teatrikal bersama profesornya sendiri. Menipu banyak orang dengan status hubungan mereka. Tetapi apakah akan baik-baik saja dengan perasaan keduanya?
***
Semuanya berawal dari pura-pura. Meminta tolong untuk menjadi kekasih tipuan. "...
Aku nggk tahu lagi mau bilang terimakasih buat kalian yang udah support ini😘 sudah mau vote mau baca mau komen. Mau nepatin goal baca. Aku sih mau ngasih goal lagi di vote nya bisa 10 sih tiap part hehe.. Ya Kapan2 saja lah..
Baiklah kita goalkan 1.5k pembaca sebelum tamat dan 200 vote bagaimana? Sanggup nggak? ☺️ Soalnya aku mau hiatus nih nggk lama kok paling dua mingguan Hehe...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Lama ya☹️ (sampek ngantuk itu bang agus) iya baca cerita lain dariku aja klo lama biar kalian nggk bosen. Iya aku mau nerusin lainnya dulu sama cari ide buat ff ini. Nggk keurus di wordnya, jadi ngambang lagi. 😔
Baiklah langsung saja, vote dan komen ya, ajak temen kalian baca ff ini banyak-banyak ☺️ aku seneng kok. Apa lagi munculnya pembaca secret yang nyicil vote hehe😊
Happy reading!
🌾
Hera merasa semuanya sudah adil. Hanya saja memasukkan Seokjin ke dalam rumah rehabilitasi itu membuatnya menjadi iba, namun apa boleh buat Seokjin harus tahu diri. Tapi sekalipun Hera benci Seokjin karena pernah dilecehkan, dia masih ada hati untuk memaafkannya.
"Seokjin seharusnya tidak kekanak-kanakkan"
Hera menghentikan gerakan mengirisnya, dia mendengar gumaman sang ayah yang terdengar lirih karena makan malam ini sangat tenang. "Papa ada yang mau dibicara?" tanyanya. Tapi yang ditanya hanya menggelengkan kepala. "Aku lihat papa melamun dari tadi? Memikirkan Seokjin?" lanjutnya.
"Iya sayang. Apa kau sakit? Mau aku pijat nanti?" kali ini ibunya juga melihat sang ayah dan menawarkan pijatan.
"Tidak usah khawatirkan aku. Aku hanya lelah"
Hera tahu ayahnya juga memikirkan hal yang sama. Sekalipun Seokjin bukan anak kandung tetap saja ayahnya sudah menjadikan Seokjin seperti putra kandungnya sendiri. Melihat sikap Seokjin seperti ini pastinya ayahnya tengah kecewa sekali. Terlihat sekali saat ayahnya melamun. Pastinya ayahnya tidak selera makan.
"Aku antar kau ke kamar ya. Kau pucat sayang. Nanti aku suruh Sora buatan sup untukmu"
"Tidak usah"
Hera jadi kasihan, wajah ayahnya benar pucat seperti yang dibicarakan ibunya. "Mama benar, papa kelihatan pucat. Lebih baik istirahat saja" Sahut Hera.
Kini Hera di tinggal sendirian dengan makanan yang masih setengah utuh. Menghela nafas sesaat sebelum kembali memakan daging steaknya.
Kemarin Hoseok menelponnya mengatakan sesuatu penting padanya perihal Seokjin. Ada satu yang tidak diketahuinya jika nama Seokjin sebenarnya adalah Seojin. Tapi bagaimana bisa Hoseok tahu ini?