💔Hancur [5]

11.4K 1K 380
                                    

💔HANCUR💔

"Makasih, ya udah anterin Abel pulang," ujar Abel diakhiri senyuman.

"Sama-sama, Cantik." Manis, senyuman Vigo manis seperti madu. Rasanya, Abel ingin waktu berhenti sekarang juga.

"Besok bisa liat senyum gue lagi, kok tenang aja," celetuk Vigo diakhiri kekehan kecil, meliat reaksi Abel yang terdiam.

"Eh, i-itu. Abel ma-masuk dulu. Vigo hati-hati di jalan." Abel berbalik hendak memasuki rumahnya, tetapi ditahan Vigo.

"Besok gue jemput, ya." Lagi, perlakuan Vigo membuat jantung Abel berdetak lebih cepat. Bagaimana tidak, Vigo sedang mengacak pelan rambut Abel.

"Masuk sana, gih. Gue pamit."

Abel hanya mengangguk dengan polos, membuat Vigo terkekeh kecil kemudian segera menyalakan motor dan melajukannya pelan.

💔HANCUR💔

Malam hari terasa dingin, angin berembus kencang menerpa gadis cantik yang sedang duduk di balkon rumahnya.

Sepi, balkon rumahnya memang hampir tidak pernah didatangi. Hanya Abel yang sesekali ke sana untuk menenangkan pikiran, atau bersantai jika ada waktu.

"Abel baper," gumamnya sambil senyum-senyum sendiri.

Wajar, Abel dari kecil tidak pernah mendapatkan perlakuan manis dari lawan jenis sekalipun itu dari Adam–papa kandungnya.

Vigo adalah pria pertama yang berperilaku manis pada Abel, bahkan bisa membuat hati Abel seperti berbunga-bunga.

"Eh, Abel kenapa senyum-senyum sendiri, kaya orang gila aja." Abel menggeleng, berusaha membuang bayangan tadi saat Vigo mengacak rambutnya dengan lembut.

"Tapi... Vigo ganteng, sih. Udah punya cewek belum, ya?" tanya Abel pada dirinya sendiri.

"Pasti belum! Kalo udah punya cewek, mana mungkin dia mau anterin Abel pulang, terus ngacak rambut Abel gitu. "

Abel yakin sekali Vigo belum mempunyai pacar. Abel itu polos, dia berpikir kalau seorang pria sudah mempunyai pacar, maka dia tidak akan berani mengantar atau menjemput perempuan lain 'jika tidak mengharuskan' apalagi sampai berperilaku manis.

Yah, memang sebenarnya harus seperti itu. Termasuk dalam menjaga perasaan pacar sendiri.

Tapi, kebanyakan justru melenceng dari hal tersebut dan menganggap kalau menyakiti dan tidak menjaga perasaan seseorang adalah hal yang biasa-biasa saja.

Abel melihat mobil yang berhenti tepat di depan rumahnya. Abel tahu mobil siapa itu, dengan cepat dia turun dari balkon.

Abel mengembuskan napas setelah sampai di bawah, melihat Kania yang sedang digendong oleh pacarnya.

"Ade lo, minumnya kebanyakan," ujar Kevin–pacarnya Kania.

"Hampir tiap malam dia minum, kan? Kevin... jangan bikin Kania begini terus, dia pergi tanpa sepengetahuan mama papa, pulang larut malam udah mabok."

"Bacot! Ade lo aja nggak ribet, ko lo yang ribet?" Kevin menatap tajam, sambil menyerahkan Kania yang sudah meracau tidak jelas pada Abel.

HANCUR! [END].Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang