Abi tersenyum hambar,hatinya sakit mendapatkan sikap kasar dari ayahnya. Sembari mengambil bekas pecahan piring itu,Abi mengusap air matanya.
"Sebenci apa,yah? Bahkan semuanya udah berlalu ayah masih tetap sama." lirih Abi.
"Abi,astaga kamu gakpapa?" tanya Vania meletakan tas sekolahnya dengan asal.
Sejak dikamarnya,Vania memang sudah mendengar suara keributan. Namun,ia urungkan niatnya untuk turun karena ia belum selesai bersiap siap.
Setelah selesai,Vania langsung turun dan matanya langsung menatap ke arah adiknya yang sedang berjongkok mengambil pecahan piring.
"Kok bisa sampe pecah gini? Abi ga hati hati ya?" Tanya Vania membantu Abi.
"Gak sengaja kak,kaki Abi kesandung makannya nasi gorengnya jatuh dan piring nya pecah deh." Jawab Abi bohong.
Vania bisa merasakan ada sebuah kesedihan dari mata Abi. Bahkan sebelumnya ia mendengar suara ribut,tapi apa yang membuat keributan itu terjadi?
"Jujur sama kakak,Bi!" paksa Vania dengan menatap Abi.
Abi menatap Vania dengan menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Bener kok kak,Abi ga sengaja." Abi berdiri untuk membuang pecahan piring itu kedalam tempat sampah.
"Biar kakak yang nyapu sama bersihin ini,Abi diem disitu. Jangan bantah ucapan kakak!" Abi menuruti ucapan Vania. Ia hanya terdiam melihat kakaknya tengah membersihkan sisa pecahan dan juga nasi goreng.
"Bagus! Bukannya kamu yang beresin tapi kamu enak enakan nyuruh kakak kamu!" kata Josua yang tiba tiba saja sudah berada di ruang makan dengan tatapan tajamnya.
Tubuh Abi merasa bergetar,ia takut jika ayahnya akan marah lagi kepadanya.
Vania meletakan sapunya dan menoleh ke arah Josua.
"Bukan salah Abi,pah. Vania yang maksa bantu Abi,jangan marahin Abi ya,pah?" Kata Vania membuat Josua membuang wajahnya.
"Pergi kamu,tidak ada rasa malunya sudah menumpang disini." ucap Josua pada Abi.
"Pah!" sentak Vania,ia tidak suka ayahnya bersikap kasar kepada Abi.
"Saya akan sarapan dengan anak saya,Vania. Kamu pergi jangan berdiri dihadapan saya."
Dengan takut,Abi hanya mengangguk. Saat kakinya melangkah pergi,justru Vania menahan tangan Abi.
"Biar Abi ikut sarapan,pah. Abi adik Vania." Ucap Vania.
"Abi ga ikut kita,Vania. Abi bukan keluarga kita."
Hati Abi sakit mendengar ayahnya berucap jika Abi bukan keluarga mereka,padahal sudah jelas Abi anak kandung dari ayahnya.
Vania tidak habis pikir,bisa bisanya Abi diperlakukan seperti ini?
"Abi juga anak papah! Kenapa si papah selalu bersikap kasar bahkan acuh ke Abi?!" Emosi Vania meledak.
Vania sudah berjanji pada ibunya agar menjaga adiknya dengan baik selama ibunya pergi beberapa hari untuk mengurus cafenya diluar kota.
"Sudah berani kamu bentak papah cuma karena anak ini?" tanya Josua dengan tidak suka,hanya karena membela anak tidak berguna itu Vania sampai berani membentaknya.
Vania menghela nafasnya,"Vania cuma gamau papah bersikap ga adil."
Dengan menatap Abi tidak suka. "Kamu lihat? Karena ulahmu,anakku sampai membentak ayahnya sendiri!" bentak Josua menyalahkan Abi.
Abi hanya menundukan kepalanya,ia tidak ada niatan membuat kakaknya menjadi bersikap kurang ajar kepada ayahnya.
"Ma-maaf,yah... Abi ga-"
"Cukup! Pergi kamu dari sini,saya tidak sudi melihat mu!" potong Josua membuat Abi tersentak.
"Pah,biarin Abi disini ikut sarapan." Mohon Vania memelas.
"Vania,jangan buat papah marah! Duduk disana,karena papah sudah memesan bubur ayam untuk kita sarapan." Kata Josua.
Vania membulatkan matanya,dimeja makan sudah ada nasi goreng dan juga telor ceplok. Untuk apa ayahnya memesan makanan?
"Pah,tapi kan udah ada nasi goreng." ucap Vania
"Diem! Turuti kata papah,duduk disana. Dan kamu,pergi!" tunjuk Abi pada pintu rumahnya.
Abi melangkah kan kakinya sambil mengambil tas sekolahnya dengan perasaan sakit,ia berjalan keluar dengan hancur.
Dadanya begitu sesak,ia menyenderkan punggungnya dibalik pintu rumahnya. "Oma... Opa... Abi kangen." Lirihnya pelan.
Di lain sisi,Vania tidak berselera makan dan hanya mengaduk adukan bubur ayamnya sampai yang melihat nya mungkin tidak nafsu makan.
"Vania,kok ga dimakan? Malah dibuat mainan kaya gitu." Ujar Josua setelah menghabiskan sarapannya.
"Vania ga laper,pah." jawabnya.
"Tapi nanti kalo sakit gimana?" Vania menggeleng kan kepalanya.
"Yaudah,tapi nanti disekolah makan ya? Biar ga sakit,kalo Vania sakit nanti mamah pasti khawatir." ucap Josua dengan penuh kasih sayang.
Vania mengangguk kecil,banyak pertanyaan didalam benaknya tentang sikap ayahnya pada Abi. Tapi apa,apa yang membuat ayahnya membenci adiknya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Fakesmile ( On Going )
Roman pour Adolescents[FOLLOW DAHULU SEBELUM MEMBACA] Ayah,Abi ingin bercerita tentang hujan malam ini.Dinginnya menusuk kalbu menebus rindu. Bisakah ayah menyeka airnya ? Bukan air hujan yah,tetapi air mata Abi yang menetes sebab rindu ini. - Pinterest.
