Saking asyiknya dengan Cello,Abi sampai tidak sadar jika sekarang sudah ralut malam. Ya,sekitar pukul 8 malam tepatnya.
Walaupun ia sudah meminta izin kepada ibunya akan pulang telat,namun tetap saja Abi harus segera pulang kerumahnya sebelum pukul 9 malam.
"Gue anter aja ya? Sekalian minta maaf sama nyokap-bokap Lo udah bawa anak gadisnya pergi sampe malem gini." Ujar Cello pada Abi.
Abi menggelengkan kepalanya kecil. "Gausah kak, ngerepotin. Abi bisa naik ojek online kok." Tolaknya halus.
Bukan Cello namanya,mana mungkin ia memberikan gadis pergi sendirian apalagi pulang menggunakan ojek online. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Abi?
"Gue anter,ga ada penolakan." paksa Cello menarik tangan Abi menuju parkiran mobil.
Abi menghela nafasnya. "Dasar pemaksa." Cibir Abi pelan.
"Gue denger ya,Bi."
Abi tersenyum paksa dan masuk kedalam mobil,setelahnya disusul oleh Cello.
Karena dulu Cello pernah mengantar Vania pulang,maka sekarang Cello tidak perlu bernada basi menanyakan alamat rumah nya pada Abi.
Sudah setengah perjalanan,namun hanya suara alunan musik yang Cello setel memenuhi mobil.
Cello berdeham,menoleh ke arah Abi yang sedang menatap jendela menghadap luar.
"Gue boleh tanya,Bi?" tanya Cello membuat Abi menoleh ke arahnya.
"Tuh kakak udah nanya kan." jawabnya membuat Cello berdecak.
"Ck. Dasar bocah." cibir Cello.
Abi tertawa kecil, "haha... Yaudah kakak mau tanya apa emang?"
Dengan tangan yang masih memegang stir mobil dan pandangan tetap fokus ke arah jalan, Cello menoleh ke arah Abi sekilas. "Awal ketemu gue,kenapa Lo kaya takut banget gitu?" tanya Cello.
Abi menelan salivanya diam.
"Ditanya malah diem,masih idup kan Lo?"
"Iya iya masih,kakak tuh cerewet ya kaya Avril." jawabnya.
"Ya jawab dong makannya."
Abi membuang wajahnya menatap jendela,ia menyadari jika mobil Cello telah memasuki kawasan kompleks perumahan nya.
"Bi,kenapa si Lo diem?" Abi menoleh,tersenyum kecil. Ia sendiri juga tidak tahu. Selama ini dirinya selalu membatasi orang yang mau berteman dengannya,bukan karena sombong tetapi Abi tidak ingin banyak orang tahu tentang dirinya.
Apalagi kehidupan nya. Cukup disaat Abi berada di Surabaya teman teman sekolahnya tahu kehidupan Abi dan selalu mengejeknya sebagai anak terlantar atau bahkan anak yang dibuang.
Abi selalu melewati masa masa itu dengan sulit,bahkan disaat Opa dan Oma nya tahu Abi langsung dipindahkan ke sekolah lain.
Abi tidak menyukai adaptasi kehidupan barunya,ia tidak suka dengan suasana baru.
Namun hal itu berbeda baginya,disaat ia tahu jika sang ayah akan melamar seorang wanita yang sudah memiliki anak perempuan.
Abi merasa senang,bahkan harapannya bisa memiliki seorang ibu dan saudara sudah terkabul.
Rasa bahagia Abi kembali berlipat gandanya disaat sang ibu tirinya mengajaknya untuk tinggal bersamanya di Jakarta.
Cello menghentikan mobilnya tepat didepan rumah Abi.
"Masih mau diem Lo?" ulang Cello membuyarkan lamunan Abi.
"Eh.. udah sampai ya kak?" Cello mengangguk.
Abi melepaskan sealt bet nya dan membuka pintu mobil. "Em Abi duluan ya kak. Makasih udah anterin Abi pulang." Pamit Abi.
Cello mencekal tangan Abi,membuat Abi menoleh. "Kenapa kak?" tanya Abi heran.
"Lo masih ada hutang penjelasan ke gue." Abi menunduk,enggan menatap Cello.
Cello tersenyum kecil. "Gausah takut,gue ga gigit. Lo masuk sanah, istirahat ya. Selamat malam,Bi." ucap Cello.
Abi sendiri hanya mengangguk kecil dan membalasnya dengan senyuman. Setelah turun dari mobil Cello,Abi berdiri didepan rumahnya sampai mobil itu pergi dari pandangan nya.
Abi menghela nafasnya,hari ini Abi merasakan senang. Ia berjalan masuk kedalam rumahnya.
Ceklek
Abi membuka pintu rumahnya dan terkejut ketika mendapatkan satu tamparan keras di pipi kanannya.
Plak
"Anak tidak tahu diri! Kamu pikir ini rumah kamu,hah?!" suara keras milik ayahnya membuat Abi memundurkan langkahnya pelan.
Cukup terkejut,ia bahkan tidak menduganya akan mendapatkan tamparan dari ayahnya.
"Mau jadi apa anak sekolah jam segini baru pulang? Mau jadi pelacur?! " Tanya Josua dengan penuh penekanan.
Abi memandang ayahnya takut. "Ab-abi pergi ke toko buku,ayah." jawab Abi lirih.
Josua berdecak. "Alasan saja kamu!"
Abi menggelengkan kepalanya kecil. "Eng-enggak ayah. Ab-abi beneran habis dari toko buku." elak Abi.
"Kamu mau buat saya malu? Keluarga saya malu? Apa kata tetangga jika tahu kamu pulang malem masih pake seragam hah? Tahu begitu kamu tidak usah pulang kerumah ini!"
"Tapi-"
"Saya tidak mau mendengar omong kosong mu!" Potong Josua.
Abi terisak. Mengapa ayahnya tidak bisa percaya dengan nya?
"Yah... Abi ga bohong yah..." ucap Abi memegang tangan Josua.
Namun dengan cepat Josua menepis tangan Abi kasar. "Jangan pernah kamu sentuh saya! Saya tidak sudi kamu menyentuh saya sedikit pun!" bentak Josua membuat Abi tersentak.
Isakan Abi mulai tidak bisa ia tahan,tangisannya keluar. Mengapa begitu menyakitkan? Sebegitu menjijikan dirinya? Bahkan ayahnya sendiri tidak mau tersentuh olehnya.
"Mas,kamu apa apaan si?" sentak Anita datang menghampiri mereka berdua dan meringkuk tubuh Abi kedalam pelukannya.
Anita baru turun dari kamar Vania setelah memberikan nya obat. Dan ia kaget melihat Abi yang sedang bersama Josua,suaminya.
Ia dapat merasakan sesuatu yang tidak baik sudah terjadi,dan benar saja. Pasti suaminya sudah memukul anaknya lagi,karena terdapat bekas merah pada pipi kanan Abi. Cukup jelas karena kulit Abi yang putih.
Josua membuang nafasnya kasar. "Mau sampai kapan kamu membela anak itu? Kamu akan menyesal telah membela dia!" kata Josua menunjuk Abi dengan penuh kebencian.
Anita menatap suaminya tak percaya. "Ini anakku mas,Abi anakku. Aku ga akan tega liat anakku kamu perlakuan kasar seperti ini!" ucap Anita dengan mengusap kepala Abi didalam pelukannya.
"Terserah kamu! Kamu selalu saja melawan aku hanya karena anak tidak berguna ini!"
Anita menatap suaminya tajam. Ia tidak perkataan suaminya yang kasar itu.
"Abi udah izin aku mas kalo hari ini dia pulang telat." ujar Anita menatap suaminya lekat.
Josua hanya diam bergeming.
"Aku izinin Abi karena dia pergi sama anak dari keluarga Fernando,Cello. Kamu tentu kenal dia kan,mas?" tanya Anita.
Josua diam, berpikir sejenak. Setahunya keluarga Fernando hanya memiliki satu putra,dan putra nya adalah sahabat dari anak tirinya,Vania.
"Aku mau bawa Abi ke kamar, terserah kamu. Kalo bagi aku kamu kelewatan mas." kata Anita sambil merangkul Abi.
"Bund,Abi gakpapa. Jangan marah ya sama ayah?" lirih Abi menatap ibunya melas.
Anita hanya tersenyum kemudian mengangguk kecil.
Mereka melewati Josua begitu saja,tanpa sepatah kata apapun.
Lanjut? Gaskennn🐾
KAMU SEDANG MEMBACA
Fakesmile ( On Going )
Fiksi Remaja[FOLLOW DAHULU SEBELUM MEMBACA] Ayah,Abi ingin bercerita tentang hujan malam ini.Dinginnya menusuk kalbu menebus rindu. Bisakah ayah menyeka airnya ? Bukan air hujan yah,tetapi air mata Abi yang menetes sebab rindu ini. - Pinterest.
