~TigaBelas~

21 6 2
                                        

Jangan lupa vote dan komen!✨









Kedua sahabat itu sedang mencari bangku kosong untuk tempat duduk mereka makan. Karena sekarang memasuki istirahat kedua dimana banyak anak anak lainnya memilih kantin untuk membeli makanan atau sekedar duduk duduk menghilang penat selama dikelas,membuat suasana kantin cukup penuh.

Berbeda dengan Abi,padahal ia sendiri sudah berjanji pada dirinya tidak akan keluar kemanapun jika tidak sedang terdesak termasuk kantin saat istirahat,sialnya cacing didalam perutnya sudah meronta ronta sejak jam pelajaran.

Ditambah rayuan dari Avril,sahabatnya itu. Avril berjanji akan mentraktir nya makan jika ia mau ikut pergi dengannya dikantin. Tidak terlalu rugi bukan?

Toh Abi juga bisa menghemat uangnya yang sudah ia kumpulkan selama sebulan ini untuk membeli novel hari ini.

"Avril,penuh. Kita makan dikelas aja ya." ucap Abi mengajak Avril.

Tetapi tidak untuk Avril,mata Avril tertuju pada meja yang diduduki ketiga lelaki yang salah satu diantara mereka kenal dengan Abi.

Siapa lagi jika bukan Cello? Laki laki yang Avril tau kenal dan akrab dengan Abi,sahabatnya.

"Mau kemana si,Avril? Ini penuh." tanya Abi mengikuti tarikan langkah Avril.

"Hai kak Cello. Boleh gabung ga?" tanya Avril dengan sok akrabnya,membuat Abi berdecak malas.

Bukan malas melihat ketiga lelaki tampan dihadapannya,hanya saja malas melihat sahabatnya yang bersikap sok akrab dan ujungnya namanya akan terbawa bawa.

Cello yang sedang menyruput es tehnya langsung menoleh ke sumber suara,begitu juga dengan Sam dan Nathan.

"Ngapain bocah tengik kesini?" tanya Sam dengan nada bercandanya.

Avril menatap tajam ke arah Sam,dan beralih menatap ke arah Cello dengan sok manisnya.

Avril menarik tangan Abi agar mendekat disebelahnya. "Meja lainnya penuh kak,terus juga kasian sama temen gue ini. Dari tadi perutnya udah bunyi,masa harus balik ke kelas bawa makanan,pasti waktunya terbuang." ucap Avril membuat Abi menatapnya sebal.

Tuh,sudah Abi tebak. Pasti namanya akan terbawa sebagai alasannya. Ini bukan pertama kalinya,namun udah kesekian kalinya.

"Abi terus aja yang disebut sebut,kalo ga ada orang disini Avril udah Abi tampol." Batinnya.

"Ooh,jadi temen Lo itu yang udah kelaperan? Bukan Lo sendiri kan?" Sam kembali bertanya,lalu terbahak diikuti oleh Nathan.

Cello hanya memutar kedua bola matanya malas,kedua sahabatnya sudah terbiasa membuat orang lain kesal karena mulut nya ini.

"Bacot banget si Lo berdua,kek ibu ibu kompleks!" ucap Avril kesal.

"Avril,jangan ribut ih." bisik Abi pada Avril yang masih didengar oleh Cello,karena jarak mereka yang cukup dekat.

Cello berdeham,ia juga dapat melihat meja kantin yang penuh. Tidak masalah kan duduk bersama dua perempuan yang katanya sahabatan ini? Toh ia juga tidak merasa terganggu.

"Gabung aja,lagian kursi depan gue kosong tuh. Kasian temen Lo juga,kayanya udah laper." ledek Cello ke arah Abi membuat Abi mengigit bibir bawahnya.

Ekspresi Abi membuat Cello terkekeh geli.

"Udah yuk ah duduk,laper gue!" Avril menarik tangan Abi agar duduk disebelahnya.

Mau tak mau Abi duduk,saat ini posisi Abi berhadapan langsung dengan Cello.

"Lo Abi,adiknya Vania?" tanya Nathan pada Abi.

Abi hanya mengangguk kecil.

"Beda jauh ya,kakak Lo cerewet adiknya pendiem kaya abis di jahit mulutnya." ucap Sam membuat Abi hanya tersenyum tipis.

Avril meletakan sendok makannya dan menopang dagu menatap Nathan dan juga Sam.

"Emak Lo berdua dulu ngidam apaan si? Pasti ngidam cocor bebek deh makannya anak anaknya udah kaya bebek,cerewet banget brisik!" kata Avril,membuat Cello langsung tertawa keras.

Baru pertama kali ini ia melihat kedua sahabatnya dikatai seperti itu oleh perempuan. Bahkan adik kelasnya sendiri.

"Avril,jangan gitu ih!"

Sam mengangguk setuju. "Tuh dengerin sahabat Lo,mulut Lo yang kaya bebek!" tambah Sam.

"Brisik banget Lo berdua,tinggal makan doang anteng apa susahnya si?" kesal Cello.

Abi pun menatap Avril,"jangan bikin ribut. Kalo ga Abi tinggalin Avril disini." ancam Abi.

Avril,Sam dan juga Nathan langsung diam. Mereka seperti sedang dimarahi oleh orang tua mereka.

Akhirnya Abi dan Cello dapat memakan makannya tanpa mendengar keributan lagi.

"Berasa mereka emak bapak kita anak,ya ga?" tanya Nathan pelan.

Sam mengangguk. "Padahal emak bapak gue kagak pernah tuh giniin gue." jawab Sam.

"Jangan kalian,gue aja ga pernah. Terkesan kita kaya punya salah aja." kata Avril.

Ketiganya menatap Abi dan Cello yang diam menyatap makanannya tanpa memikirkan mereka.

Setelah mereka selesai makan, sekarang ini mereka sudah lumayan akrab. Bahkan Abi pun sudah seperti terbiasa dengan kehadiran Sam dan Nathan yang membuat nya tertawa.

Avril hanya tersenyum kecil melihat sahabatnya itu.

"Lo ga join ?" tanya Cello pada Avril.

"Gue?" beo Avril.

Cello mengangguk. Dengan melihat ke arah Abi,ia bergidik ngeri membayangkan jika dirinya ikut bermain ular tangga online bersama dengan Abi,Sam dan juga Nathan.

"Gue ga suka,kaya bocah." jawab Avril.

"Btw, Lo masih bocah." ucap Cello.

Avril memajukan bibir nya kesal.

Disisi lain,Brigitta melihat itu semua. Bahkan dirinya sendiri selalu di tolak oleh Cello,mengapa adik kelasnya bisa dengan mudah mendekat i Cello?

Ia tidak akan membiarkan Abi mendekati Cello. Ia berjanji akan menyingkirkan Abi dari Cello.

"Gue ga akan terima! Liat permainan cantik gue,gadis bodoh!" Batinnya menatap Abi yang tengah tertawa ditengah tengah sahabat Cello dengan tatapan penuh ketidak sukaannya.










Follow me!🐾

Fakesmile ( On Going )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang