Plak
Tubuh Abi tersungkur dilantai. Tamparan itu sangat keras hingga meninggalkan cap tangan merah besar milik Josua di pipi nya.
Hiks...hiks...hiks
"Ken-kenapa ayah nampar Abi?" tanya Abi pelan dengan memegang pipinya yang merasa sakit itu.
Josua membuang wajahnya,ia sudah menahan marahnya namun tetap saja setiap melihat wajah Abi yang ia lihat adalah Abi seorang pembunuh dan anak pembawa sial.
Seperti dugaannya,hari ini Vania mengalami demam karena semalam duduk bersama Abi di luar rumahnya.
Padahal Josua sudah memberi peringatan pada Abi agar menjauhi Vania,anaknya.
"Diam! Tidak usah nangis! Yang bisa kamu lakukan hanya nangis nangis dan nangis,dasar anak tak berguna!" ucap Josua.
Josua membuang nafasnya kasar. "Saya sudah peringatin kamu buat jauhi anak dan istri saya. Apa kamu tidak mengerti? Harus saya perjelas dengan seperti apa lagi,bodoh!"
Abi menitihkan air matanya pedih. "Abi juga anak ayah,kan?" tanyanya pelan disela isakannya.
Josua mendekat dan mencengkram kedua pipi Abi kuat sampai Abi merintih kesakitan.
"Sa-kit ayah." cicit Abi pelan berusaha melepaskan cengkraman itu dari pipinya.
"Rasa sakit ini ga sebanding dengan rasa sakit yang saya rasakan! Apa dengan kamu merasakan sakit seperti ini bisa mengembalikan semua kehancuran yang saya rasakan? Tidak! Harusnya kamu mati!" kata Josua dengan tatapan penuh kebencian.
"Kamu dengar? Jangan berharap saya mau menerima kamu sebagai anak saya,bahkan untuk melihat mu saja saya tidak sudi! Cih!" Josua melepaskan cengkraman nya dengan kasar.
"Mas Jo,kamu kelewatan!" pekik Anita yang baru saja turun dari kamar Vania dengan membawa nampan berisi setengah semangkuk bubur.
Anita menghampiri Abi dan meletakkan nampan itu di lantai. Dengan penuh kasih sayang,Anita meringkuk tubuh Abi kedalam pelukannya.
"Kamu keterlaluan mas,Abi anakmu juga!" Josua membuang wajahnya kasar.
Tidak anak dan istrinya selalu saja memihak pada Abi,dengan cara apa ia menyadarkan mereka jika Abi adalah pembawa sial bagi kehidupan nya.
"Kamu gakpapa sayang? Mana yang sakit bilang bunda." Tanya Anita penuh kekhawatiran.
Anita mengusap pipi Abi yang berwarna merah itu,sudah sangat jelas ini karena ulah suaminya.
Dengan menatap keduanya jengah,Josua meninggalkan mereka. "Kamu urus anak sialan itu!"
Anita menatap suaminya tidak percaya. Anita memilih membantu Abi dan mengobati luka Abi.
"Biar bunda obatin,jangan nangis ya sayang." Ucap Anita pelan menyuruh Abi duduk di sofa.
Selesai memberikan salep,Anita menatap Abi miris."Maafin bunda Anita ya sayang." ucap Anita pelan dengan memeluk Abi yang masih menangis.
"Ab-abi ha-harus apa bunda? Ap-apa Abi pergi aja dari rumah biar ayah seneng?" ucapan Abi membuat sakit pada hatinya.
Ia tidak tahu,jika permintaan nya menyuruh Abi untuk tinggal bersamanya justru membuat Abi merasa tertekan. Bahkan suaminya pun tidak ada kesadaran untuk bersikap baik kepada Abi,anak kandungnya.
Tapi apa salah jika Anita menginginkan Abi untuk tinggal bersamanya? Toh Abi juga sekarang sudah menjadi anaknya dan telah menjadi keluarga.
><
Josua duduk dimeja kerjanya dengan memegang sebingkai foto pernikahan nya dulu dengan alm.olivia,ibu kandung Abi.
Kejadian pahit 15 tahun lalu membuat luka dihatinya cukup dalam hingga bertahun tahun lamanya sampai akhirnya ia menemukan pengganti istrinya yang dapat mengisi kekosongan didalam hidup nya selama ini.
Bukan tidak mau melupakan,hanya saja luka singkat itu meninggalkan jejak yang membekas didalam hatinya.
Mariana Olivia Gunawan,nama lengkap mendiang istrinya dimana sering disapa Oliva.
Olivia meninggal disaat bersamaan dengan lahirnya abira,buah hati mereka dulu.
Namun,kelahiran abira membawa kesedihan begitu mendalam bagi keluarga termasuk Josua.
"Maaf pak kami sudah melakukan yang terbaik untuk istri bapak,namun penyakitnya sudah parah dan kami hanya bisa menyelamatkan anak kalian karena itu permintaan terakhir dari istri bapak."
Ucapan dokter bagaikan hantaman ribuan tombak didalam dirinya.
Sudah sejak awal kehamilan istrinya itu sangat membahayakan,ditambah saat itu istrinya sedang mengidap penyakit dan harus menjalani kemoterapi. Tetapi itu sangat beresiko karena kondisi istrinya yang sedang mengandung.
Namun,sang istri menolak agar menggugurkan kandungannya. Ia memilih mempertahankan kandungannya dan sangat ingin anak yang ia kandung lahir di dunia.
Josua mencoba menerima itu dan menjalaninya dengan penuh ikhlas walaupun ia tidak menginginkan nya. Ia lebih memilih menyelamatkan istrinya daripada kandungannya.
Sayangnya,takdir berkata lain. Istrinya justru meninggalkan pada saat melakukan persalinan.
Rasa kehilangan itu membuat Josua membenci jika harus melihat anaknya sendiri.
Bahkan disaat selesai pemakaman Olivia,Josua membuang anaknya di pinggir jalan tetapi Ester melihat perlakuan bejat kakaknya.
Ester adik kandung Josua membawa anak Olivia kerumah milik ibunya. Terjadi keributan besar didalam keluarga mereka sampai akhirnya ibu dan ayah kandung Josua yang menerima anak Olivia.
Ester dan istrinya Thania pun ikut andil dalam membesarkan anak Olivia yang diberi nama Abira itu.
"Aku harus berbuat apa Oliv? Bagaimana aku bisa mengikhlaskan dan melupakan kepergian mu karena anak itu? Aku telah gagal menjadi suami yang baik untukmu,Oliv. Maafkan aku maafkan.." ucapnya dengan mengusap foto pernikahan nya dengan Olivia dulu.
Lanjut?🐾
KAMU SEDANG MEMBACA
Fakesmile ( On Going )
Novela Juvenil[FOLLOW DAHULU SEBELUM MEMBACA] Ayah,Abi ingin bercerita tentang hujan malam ini.Dinginnya menusuk kalbu menebus rindu. Bisakah ayah menyeka airnya ? Bukan air hujan yah,tetapi air mata Abi yang menetes sebab rindu ini. - Pinterest.
