Disaat Avril sibuk mengoceh tentang gebetan barunya dan juga kakak kelas ganteng disekolah nya,Abi hanya diam merenung dan sesekali menanggapi ucapan Avril dengan anggukan kecil atau sebuah gelengan.
"Bi?" Avril menggoyang kan bahu Abi sampai Abi tersentak.
Avril terkekeh melihat wajah polos lugu Abi yang terkesan lucu.
"Lo kenapa si? Dari tadi gue cerita Lo cuma angguk angguk atau malah geleng geleng kaya hiasan anjing dirumah gue." Tutur Avril.
Abi memilih diam.
"Lo ada masalah? Cerita dong sama gue. Siapa tau gue bisa bantu." tanya Avril.
Abi menggelengkan kepalanya,"Abi gakpapa kok,Avril." jawab Abi.
Avril menghela nafasnya. "Dibalik kalimat gakpapa pasti ada sesuatu,Abi. Lo nyembunyiin apa si,Bi? Mau sampai kapan Lo kaya gini?"
"Abi beneran gakpapa,Avril. Avril aja yang berlebihan." Yakin Abi.
Bukan tidak ingin bercerita atau berbagi masalahnya. Tetapi menurut nya,orang lain hanya sekedar ingin tahu tanpa memperdulikan. Setelah mereka tau masalahnya,mereka akan bersikap acuh seakan tidak terjadi apa apa.
Avril berdecak. Sudah hampir 4 tahun mereka bersahabat,namun selama itu pula Avril tidak pernah mengetahui apa yang sedang dialami sahabatnya. Jangankan masalahnya,apa yang dirasakan oleh Abi saja Avril tidak tau.
"Abi mau ke toilet dulu ya." Ucap Abi.
"Mau gue temenin?" tawar Avril.
"Gausah,Abi bukan anak kecil lagi Avril." tolak Abi dengan kekehan.
Abi beranjak dari tempat duduknya,ia melangkah keluar kelar.
Saat Abi akan masuk kedalam toilet,ia mendengar suara kerusuhan dari lorong dekat toilet itu.
Menurut berita dari sekolahnya,lorong itu sangat sepi dan jarang sekali ada orang yang berada disana.
"Bukan hantu kan?" tebak Abi.
Dengan penasaran,Abi berjalan tertatih pelan mendekat ke arah lorong. Ia mengintip dari balik dinding.
Dapat Abi dengar,dua orang berlawan jenis itu sedang saling beradu mulut.
><
"Aku ga selingkuh sayang,kamu ga percaya sama aku?" Ucap laki laki itu.
Perempuan itu membuang wajahnya. Bagaimana bisa ia percaya? Setelah bukti dari teman kelasnya yang melihat langsung jika kekasihnya berada di club bersama dengan seorang wanita berpenampilan seksi.
"Untuk apa si kamu percaya sama orang lain? Mereka itu cuma mau liat kita bubar sayang." ucap Gavin lagi.
"Terus aku harus percaya sama kamu,Vin? Harus berapa kali lagi? Ini bukan pertama kalinya bagi aku Vin!" kata Vania.
Ya,mereka adalah Gavin dan juga Vania. Gavin adalah kekasih Vania yang sudah menjalin hubungan selama 1 tahun itu.
Dan sudah hampir 3 bulan belakangan ini,Vania merasa sudah di bohongin oleh Gavin dengan tingkah Gavin yang suka berubah ubah.
"Sayang,dengerin aku. Aku ga ada hubungan apa apa sama cewek itu! Aku ga selingkuh apalagi sampe main sama cewek itu!" ujar Gavin memegang kedua tangan Vania, menyakinkan perempuan didepannya ini.
"Cukup Vin! Aku capek ya,aku ga ngerti sama sikap kamu!" Vania menepis tangan Gavin dengan kasar.
"Aku kecewa sama kamu." ucap Vania menunjuk dada bidang Gavin.
Gavin yang sudah lelah dengan sikap Vania mengepalkan tangannya.
"Terus mau kamu apa hah?! Aku bosen ya liat sikap kamu! Kalo aku selingkuh ya itu karena sikap kamu dan kamu pantes diselingkuhin!" bentak Gavin pada Vania.
Tanpa sadar Vania meneteskan air matanya. Ucapan Gavin membuat hatinya sakit.
"Brengsek Vin... Kamu brengsek!" Teriak Vania.
Dengan acuh,Gavin memilih meninggalkan Vania yang sudah menangis.
Sedangkan Abi,ia sudah mendengar semuanya. Bahkan menurutnya,laki laki itu sangat keterlaluan.
Dengan langkah cepat,Abi menghampiri kakaknya yang sudah menangis.
"Kak?" Abi langsung meringkuk tubuh Vania.
"Ab-abi?" beo Vania terbata.
Abi mengangguk kecil, menenangkan kakaknya dengan usapan lembut dipunggung Vania.
"Jangan nangis kak... Abi ga suka liat kakak nangis." ucap Abi pelan.
"Hiks...hiks...hiks... Sakit bi... Kakak harus apa?" Tanyanya dengan suara parau.
Abi melepaskan pelukannya dan menatap kakaknya,mengusap air mata Vania.
"Abi emang gatau masalah apa yang kakak alamin,tapi Abi tau hati kakak sakit." ucapan Abi membuat hatinya tersudutkan.
"Tapi kak.." Abi memegang kedua tangan Vania.
"Sayang dan cinta sama orang itu boleh kak. Tapi bukan berati karena sayang dan cinta kakak rela untuk disakitin berulang kali." Ucap Abi.
Kepala Vania menunduk.
"Ikutin kata hati kakak disini." Abi memegang dada Vania.
"Kalo hati kakak memilih melepas,ya kakak harus melepaskan dia. Tapi kalo hati kakak mau bertahan,kakak bisa bertahan. Ini hidup kakak,kakak yang menentukan hati kakak bukan orang lain." Tambah Abi.
Ada benarnya ucapan Abi, mungkin benar selama ini rasa yang ia pertahankan hanya membuatnya sakit.
"Kakak jangan nangis lagi,ya?" Vania mengangguk kecil dan tersenyum.
"Bahkan Abi lebih dewasa dari kakak,harusnya Abi yang jadi kakak bukan kakak." ucap Vania.
Abi hanya terkekeh.
"Balik ke kelas aja ya kak? Takut ada hantu." Ucap Abi bergidik ngeri karena suasana disini yang sepi.
"Hantu?" Abi mengangguk.
"Soalnya hantunya udah ada didepan Abi si,hih."
"Mana?" tanya Vania.
"Didepan Abi,nih." jawab Abi membuat Vania bingung.
"Hah?"
"Hantunya itu kakak. Soalnya kakak udah jadi jelek kaya hantu. Hahaha." Ledek Abi dengan tawanya.
"Abi..." Rengek Vania memajukan bibirnya.
Abi tertawa kecil. "Abi bercanda kak... Yuk kita balik ke kelas masing masing." Abi menari tangan Vania.
Sedangkan Vania tersenyum kecil. Terbuat dari apa hati adiknya ini? Bahkan baru tadi pagi ia melihat raut kesedihan dan sekarang? Justru ia melihat Abi yang terkesan baik baik saja.
Next?
KAMU SEDANG MEMBACA
Fakesmile ( On Going )
Jugendliteratur[FOLLOW DAHULU SEBELUM MEMBACA] Ayah,Abi ingin bercerita tentang hujan malam ini.Dinginnya menusuk kalbu menebus rindu. Bisakah ayah menyeka airnya ? Bukan air hujan yah,tetapi air mata Abi yang menetes sebab rindu ini. - Pinterest.
