Alaricus POV
Aku selalu merasa kalau aku adalah seekor burung yang terperangkap di sangkar yang terbuka. Ada jalan keluar, tapi aku tidak tahu cara membebaskan diriku sendiri. Terperangkap dalam kandang, dengan rantai tak kasat mata, menahanku untuk tetap singgah.
Mereka bilang hidupku sempurna. Terlahir sebagai seorang alpha, menjadikanku seperti seorang pangeran yang sudah mendapatkan mahkota di kepalanya sejak lahir. Semua yang kuinginkan bisa kudapatkan dengan mudah. Namun, satu hal yang sangat mustahil untukku dapatkan adalah seorang pasangan yang sudah ditakdirkan untukku.
Itu seperti misi yang mustahil.
Moon Goddess sudah mentakdirkan keturunannya untuk memiliki pasangan masing-masing, termasuk untuk diriku. Tidak ada hal yang kuinginkan selain aku memiliki pasanganku. Terlebih dalam kondisi waktu saat ini.
Aku tidak ingin perjodohan, walau itu untuk menjaga agar keturunan Silent Dawn agar tetap kuat dan terjaga nama baiknya. Walau itu juga dengan teman baikku sejak kecil. Aku tidak ingin itu.
Angela Flemming adalah tipe perempuan yang diinginkan setiap lelaki. Dia ramah, memiliki tutur kata yang baik, dan selalu tersenyum. Ia bahkan bisa memberikan energi positif untuk orang di sekitarnya. Namun, di antara itu semua, aku tidak ingin itu.
Aku tidak ingin Angela Flemming.
Aku menarik napasku dalam-dalam, mengamati aktivitas yang sedang berlangsung di Silent Dawn. Saat ini aku sedang berada di depan rumah Pack, menunggu rombongan yang sebentar lagi akan sampai untuk acara yang hanya diadakan setahun sekali itu.
Lalu lalang yang terjadi tidak membuat rasa kesepianku menghilang begitu saja. Ini seperti aku berada di tempat ramai, tapi ada sesuatu yang hilang. Kau tahu itu apa, tapi kau tidak bisa memaksanya untuk kembali.
Seperti yang kurasakan saat ini.
Aku tahu apa yang menghilang, tapi aku tidak bisa memaksanya. Thadeus. Serigala yang sudah ditakdirkan menjadi separuh jiwaku menghilang begitu saja setelah aku menerima tawaran perjodohan dengan Angela. Aku tahu Thadeus masih bersamaku, aku masih merasakannya, tapi aku tidak bisa meraihnya. Aku bahkan tidak bisa melakukan shift karena itu, dan aku merasa menjadi alpha yang tidak berguna.
"Alpha," aku mendengar suara Steve melalui mindlink. Steve adalah remaja yang saat ini sedang menjaga di perbatasan bersama rekannya. Melalui suaranya aku tahu ia sedang ketakutan tapi aku tidak tahu karena apa. "Alpha Lythikos dan rombongannya berada di perbatasan," aku bisa membayangkan Steve yang menegup salivanya.
Aku mendapati diriku panik mendengar itu. Maksudku, aku tidak menduga kalau alpha yang akan sampai pertama di Silent Dawn adalah alpha dari Lupus Deus itu sendiri. Aku menarik napasku dalam-dalam, menghilangkan rasa panik itu. Alpha Lythikos tidak mungkin datang ke Silent Dawn, apalagi untuk acara alpha tahunan. Caden yang datang bersama rombongannya, bukan pemimpin dari Lupus Deus itu sendiri.
"Maksudmu Caden?" tanyaku. "Biarkan mereka masuk," sambungku, dan berusaha untuk tidak menunjukkan kepanikanku.
"Buk – " aku langsung memutuskan mindlink dengan Steve tanpa mendengar ucapan selanjutnya.
Aku tidak seharusnya merasa gugup seperti ini. Maksudku, aku adalah seorang pria, aku tidak mungkin gugup hanya untuk seorang perempuan. Mungkin aku berbohong, Demetria Lythikos adalah perempuan paling cantik seperti Dewi Bulan itu sendiri. Namun, bukan itu yang membuatku panik setengah mati. Melainkan ingatanku yang memutar kilas balik memalukan itu.
Aku tidak percaya aku benar-benar mencium Demetria Lythikos tanpa sadar.
Suara mobil terdengar sebelum dua mobil mini van berhenti tak jauh dariku. Enam orang pria bertubuh tinggi dan besar keluar dari satu mobil, sementara penumpang dari mobil satunya membutuhkan waktu lebih lama untuk keluar.
KAMU SEDANG MEMBACA
King's Luna
Hombres LoboTidak perlu diberitahu untuk aku tahu siapa sosok sempurna itu. Pasanganku. Belum sempat aku berdiri untuk menghampirinya, aku terpaku begitu saja. Tubuhku membeku seperti waktu disihir untuk berhenti. Pasanganku memberikan tangannya yang langsung d...
