"heh, serigala berbulu monyet! bangun gak!"
"haru jangan gitu, kasian jeongwoonya."
jeongwoo mengedipkan netranya, berusaha menyesuaikan intensitas cahaya yang langsung menerobos masuk. badannya terasa pegal. apa yang terjadi?
"nah, bangun juga lu."
pemuda park itu sontak terkaget, pasalnya wajah haruto tepat berada di depan wajahnya. hanya berjarak beberapa inch sepertinya.
"h-haruto?" gumamnya. "l-lu tadi nusuk gua... KAK CIO CEPET PERGI DARI SINI! HARUTO TERNYATA PSIKOPAT!!"
"nih bocah baru bangun tidur langsung kesetanan," decak haruto sembari geleng-geleng kepala. "heh, buto ijo. denger, ya, gue gak ada nusuk lu segala macem. fitnah lebih kejam daripada menusukmu, woo."
mashiho memandang jijik haruto yang sedang mendramatisir keadaan. karena malas melihat tingkah aneh sepupunya, ia alihkan agahannya pada jeongwoo yang masih loading.
"jongu gapapa, kok. haruto mah peot mana kuat nusuk orang. palingan tadi itu cuma mimpi," ujarnya menenangkan.
"nye."
jeongwoo mendongak, menatap haruto dan mashiho yang masih berdiri di hadapannya. "berarti... gue tidurnya dari kapan?"
"abis lu minta gue masakin mie, lu duduk di sini, terus ketiduran, deh," jawab haruto seraya membawa mangkuk berisi mie rebus. "keknya kecapean deh, woo. maaf, ye, tadi lu kaga tidur gara-gara gue."
"makan dulu, ya, jongu~" mashiho mengambil sendok dan garpu, lantas disodorkan pada jeongwoo. "kakak di kamar, kalo ada apa-apa panggil aja, oke?"
tidak lupa mengusak surai jeongwoo singkat sebelum akhirnya pergi meninggalkan dua sahabat itu di sana.
usai mashiho pergi, jeongwoo mengedarkan pandang, untuk memastikan sekali lagi bahwa yang tadi ia alami memanglah mimpi semata.
tunggu,
kenapa ada pisau yang berlumuran darah di pojok wastafel?
_____
"berarti beneran mimpi dong?!" seru jeongwoo seraya menaruh garpunya dramatis.
"ya iyalah anjrit, lama-lama gue tusuk beneran lu pake ini!" haruto memasang ancang-ancang untuk menusuk jeongwoo menggunakan sumpit yang ia pegang.
"tapi aneh, to." jeda sebentar selama jeongwoo menyeruput kuah mienya. "tadi lu di sekolah dingin bet anjir, terus... gue pulang sama siapa coba kalo bukan sama lu?"
haruto enggan menjawab, pemuda itu hanya mengedikkan bahu. masih dengan menyeruput beberapa utas makanan panjang tersebut.
jeongwoo merasa aneh, kenapa haruto terlihat sangat santai? ia seakan tidak peduli dengan beberapa kata yang jeongwoo lontarkan. padahal, topik yang mereka bahas selalu menyangkut pautkan namanya.
lagipula, bagaimana bisa ia mengalami mimpi yang hampir serupa dengan kegiatan yang ia lakukan sebelumnya?
banyak kata yang ingin jeongwoo suarakan, namun ia rasa itu akan berakhir sia-sia. haruto pasti hanya akan membalasnya dengan gidikan bahu semata.
"bisa-bisanya gue mimpi seserem itu." hanya kata tersebut yang dapat jeongwoo utarakan pada haruto, sedang sisanya ia telan bersamaan dengan kuah yang ia sesap.
KAMU SEDANG MEMBACA
i. delusions [✓]
Hororharuto pikir, semua yang dialaminya selama ini hanya delusi semata. [lowercase - semi baku] ⚠harsh words, mental disorder. ©ixchworine, 2021
![i. delusions [✓]](https://img.wattpad.com/cover/262756725-64-k517522.jpg)