Iko mengedarkan pandangannya mengamati setiap sudut ruangan yang ia tempati sejak semalam. Dean tak ada lagi di tempatnya, menyisakan dirinya dalam kamar yang cukup luas dan rapi tersebut.
Cukup banyak barang dalam ruangan tersebut,mulai dari lemari pakaian, rak yang cukup besar berisikan buku dan beberapa miniatur robot, serta koleksi lainnya. Terdapat pula meja belajar beserta kurasinya, sebuah gitar yang bertengger manis di dinding, dan barang-barang lainnya yang tertata rapi.
Puas menyelisik kamar milik Dean, Iko segera beranjak dari kasur. Masih terlalu pagi, tetapi entah ke mana lelaki itu meninggalkannya sendirian. Mencari keberadaan Dean, Iko terus mengintai setiap bagian rumah yang cukup besar tersebut.
Langkah Iko kemudian bergerak mencari sumber yang samar-samar didengarnya beberapa detik lalu. Eksistensi Dean pun berhasil ia temukan, kami tersebut tampak sibuk dengan daun bawang dan pisau.
"Loh! Udah bangun?"
Dean menghentikan gerakan mengiris-iris bahan pelengkap untuk nasi gorengnya. Ia cukup terkejut dengan kehadiran Iko di sini, anak itu seharusnya masih berada di kamar.
"Lo ngapain?" Iko tak berniat menanggapi pertanyaan tidak penting dari Dean. Pandangannya tertuju pada apa yang ada di depan laki-laki itu.
"Mau bikin sarapan," jawab Dean singkat, lantas kembali melanjutkan aktivitasnya.
Sementara itu, Iko tak lagi bersuara. Pergerakan Dean menjadi pusat perhatiannya. Lelaki menyebalkan itu cukup terampil, aroma dari masakan yang dibuat Dean pun cukup menggoda hingga membuat peliharaan dalam perutnya kepanasan.
"Mau mandi atau sarapan dulu?" Dean bertanya, memecah hening yang sejak tadi menenggelamkan mereka.
Senyum Dean tertarik melihat pemuda berkacamata itu tampak tergoda dengan apa yang ia sajikan. Merasa bahagia dan bersyukur karena kali ini masakannya tak 'kan sia-sia. Namun, pengharapan Dean seketika patah ketika Iko berucap.
"Gue mau pulang aja, mau siap-siap buat ke sekolah. Makasih buat tumpangannya."
"Gak usah pulang, berangkat dari sini aja sama Disca. Buat seragam pakai punya gue, kayaknya pas sama lo. Kalau masalah namanya,lo bisa nutupin pakai hoodie atau jaket. Gak aturan yang soal itu, 'kan?"
Seperti biasa, laki-laki beralis tebal tersebut bersikap seenaknya membuat Iko merasa dongkol. Rasa kagum yang sempat membuatnya memuji orang itu dalam diam, kini lenyap tak bersisa.
Tak ingin meladeni lebih lanjut, Iko memilih untuk memasuki kamar mandi. Mengikuti keinginan Dean untuk terakhir kali, setidaknya ia tahu diri untuk tidak bersikap kurang ajar pada orang yang telah membantunya.
Dean kembali tertawa kecil melihat Iko yang cukup sulit untuk ia taklukan. Sifat dan sikapnya yang nyaris sama dengan Disca menambah ketertarikan Dean terhadap alam itu.
Setelahnya, Dean segera berjalan menuju kamar Disca. Melakukan rutinitas hariannya yang teramat penting,bahkan saat mereka marahan Dean tetap rajin melakukannya.
"Dek, sudah bangun, belum?"
Tak ada sahutan, hal yang sama pun kembali dilakukan Dean berulang kali.Namun, hingga beberapa menit berlalu. Tidak ada tanggapan apa pun dari Disca. Mau tak mau Dean harus menunggu sampai akhirnya pintu kamar Disca terbuka perlahan.
"Mandi dulu, siap-siap buat ke sekolah. Lalu turun buat sarapan sarapan bareng."
Disca hanya menanggapi dengan deham pelan, menguap lebar sambil menggaruk kepalanya hingga rambut panjang itu kian berantakan.Ia masih sangat mengantuk setelah menonton maraton Tensei Shirata Slime Datta Ken yang membuatnya ketagihan.
KAMU SEDANG MEMBACA
WEEABOO ✓
General FictionDean dibuat khawatir oleh Disca yang menghabiskan waktu hanya untuk menonton anime, membaca manga, hingga berdandan layaknya tokoh anime.Adiknya bahkan terobsesi dengan segala hal berbau Jepang. Sebagai kakak yang kini merupakan keluarga satu-satun...
