Setelah kekacauan yang disebabkan Sashi hingga menarik perhatian dari rekan kerja lainnya. Dean kembali meminta izin untuk pulang lebih awal, mengabaikan tanggung jawab sepenuhnya tanpa peduli kekecewaan Sashi dan betapa kesal Bu Marissa terhadap sikapnya.
Bertahan di tempat itu setelah apa yang terjadi membuat Dean merasa tak nyaman, terlebih masalahnya kini menjadi bahan omongan. Rekan kerja yang sebelumnya tak tahu apa-apa pun mulai ikut campur, sok tahu dalam memberi solusi. Menasihati agar lebih fokus pada hidupnya sendiri, dan berbicara seakan-akan menjadikan Disca prioritas adalah sebuah kesalahan.
Kepala Dean sungguh terasa berat, penuh dan pening. Dengan kasar ia melepas helm usai menghentikan laju kendaraannya di tepi jalan, jari-jarinya pun bergerak liar mengacak-acak rambut hingga berantakan.
Kalimat-kalimat Sashi maupun rekan kerja lainnya terus bergema membuat kepala Dean rasanya ingin pecah. Mengapa menjadikan adiknya prioritas adalah sebuah kesalahan? Kenapa tidak ada satu pun yang paham akan situasinya? Bagaimana ia bisa lepas tangan dan membiarkan masa depan Disca terancam berantakan, sementara dirinya hidup dengan baik?
Dean kembali membuang napas panjang usai mengusap wajah dengan kasar. Beberapa detik kemudian ia pun kembali mengemudikan kendaraannya, bergerak menuju sekolah Disca. Tak adanya balasan dari Iko membuat Dean ingin memastikan sendiri keberadaan anak itu di sana.
Tak butuh waktu lama hingga Dean kini berada di tempat tersebut. Bergegas ia meninggalkan kendaraannya lantas bertanya pada satpam yang berjaga tentang Disca.
"Dari tadi Bapak tidak melihat adikmu datang, Yan. Orang yang terakhir datang adalah Iko," ucap Pak Didit, satpam yang berjaga.
Dean memijit pelipisnya, merasa bersalah karena telah mengabaikan Disca hingga anak itu bolos sekolah. Andai ia tidak buru-buru berangkat, tentu Disca tidak akan melewatkan pelajarannya hari ini. Terlebih, kata Pak Didit Iko datang sangat terlambat hingga mendapat hukuman.
Tentu Dean bisa menebak alasan keterlambatan Iko, anak itu pasti berusaha membujuk Disca lebih dulu. Namun, berakhir sia-sia. Disca tidak semudah itu untuk diatur. Dean saja kesulitan, lantas bagaimana dengan Iko.
"Pak, boleh gak saya nunggu Iko di dalam?" tanya Dean. Menemui Disca saat ini bukanlah pilihan yang tepat,maka untuk itu ia memilih bertahan di sini dan pulang bersama Iko.
Pak Didit mengangguk, tanpa ragu ia membuka pagar yang menghalangi mereka. Dean bukanlah orang asing di sekolah ini, beberapa tahun lalu anak itu adalah salah satu lulusan terbaik Bina Insani. Selama masa pendidikannya, Dean juga merupakan murid dengan perilaku yang baik. Akrab dan sopan kepada siapa pun, termasuk dirinya.
"Kamu pucat, Nak. Sakit?"
Dean menggeleng dengan cepat menanggapi pertanyaan Pak Didit, sambil tersenyum ia berkata bila dirinya baik-baik saja. Laki-laki itu pun duduk tenang pada kursi yang berada dalam pos jaga Pak Didit, menunggu dengan sabar kepulangan Iko.
"Berat, ya, mengurus adikmu seorang diri?"
Dean tidak langsung menjawab pertanyaan Pak Didit. Tenang yang baru beberapa saat lalu ia dapatkan kembali terusik dan membuatnya merasa tak nyaman.
"Kalau dibilang berat, ya berat, Pak. Tapi, saya gak keberatan sama sekali kalau harus direpotkan sama dia," jawab Dean yang tentu tak 'kan mengeluhkan perihal adiknya secara gamblang.
Pak Didit hanya tersenyum menanggapi kalimat anak muda itu sambil menepuk-nepuk pelan pundak Dean. Ia tahu beban yang ditanggung anak itu semenjak menjadi wali terhadap adiknya, dan melihat Dean bertahan sejauh ini membuatnya bangga.
Tak lama kemudian dering bel pun menggema. Dari tempatnya, Dean dapat melihat gerombolan remaja berseragam berhamburan keluar dari bangunan tersebut, hingga pandangannya menangkap sosok Iko di antara mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
WEEABOO ✓
Narrativa generaleDean dibuat khawatir oleh Disca yang menghabiskan waktu hanya untuk menonton anime, membaca manga, hingga berdandan layaknya tokoh anime.Adiknya bahkan terobsesi dengan segala hal berbau Jepang. Sebagai kakak yang kini merupakan keluarga satu-satun...
