Disca mendengkus lalu membanting ponselnya di atas kasur. Serial anime yang sejak tadi ia tonton tidak lagi menarik meski sedang seru-serunya. Pikiran gadis itu melayang, tertinggal di tempat yang terpaksa ia tinggalkan beberapa waktu lalu.
Ia sebenarnya sangat ingin bertahan di rumah sakit dan menjaga Dean, tetapi semua orang menyuruhnya untuk pulang. Disca tak diizinkan menjaga Dean dengan sederet alasan tidak masuk akal. Kekesalan Disca pada gadis yang sempat beradu dengannya semakin menjadi-jadi karena dituduh tak dapat melakukan apa-apa dan hanya akan membuat kondisi Dean semakin memburuk.
Ingin rasanya Disca memaki dan benar-benar mencabut rambut Sashi yang tak mengizinkannya untuk sekadar bertemu Dean. Namun, ia harus mati-matian menahan emosinya agar tak lagi membuat kegaduhan di sana.
Bersama Iko dan Nura, Disca pun meninggalkan rumah sakit. Akan tetapi, meski raganya berada di sini. Pikirannya masih menetap di sana. Disca bahkan selalu mengecek ponselnya hanya untuk menemukan notifikasi dari balasan pesan Sashi atas pertanyaannya mengenai kabar Dean. Namun, dua jam berlalu tak ada satu pun pesan masuk dari perempuan menyebalkan itu.
Hela napas kasar lagi-lagi diembuskan, lantas dengan tegas Disca membawa langkahnya untuk meninggalkan kamar. Namun, betapa terkejutnya ia mendapati kehadiran Iko begitu pintu kamar terbuka.
Cowok itu sempat berdiri kaku untuk beberapa saat, sebelum bergerak kikuk di hadapan Disca yang lebih dulu membuka pintu sebelum ia mengetuk pintu. Iko lantas menggigit bibir bawahnya saat tatapan tajam Disca kembali ia dapatkan.
"Kita makan dulu, yuk. Kamu pasti lapar, 'kan?" ucap Iko yang berusaha tenang atas keterkejutannya. Benar-benar tak menyangka bila Disca akan membuka pintu lebih dulu, sebelum ia mengetuk.
"Gak," balas Disca singkat tanpa menatap Iko dan melewatinya begitu saja.
Satu per satu anak tangga ia lewati dengan lambat hingga terhenti di anak tangga terakhir. Fokusnya pun tertuju pada tempat di mana Dean jatuh tak sadarkan diri. Mendadak kalimat-kalimat Sashi yang terucap dengan penuh penekanan kembali menggema dalam ruang dengarnya, mengacak-acak kembali pikiran dan perasaan gadis itu.
Disca kembali berdesah, mengusap wajah dan menyugar rambut ke belakang. Merutuk situasi yang membuatnya merasa tak nyaman. Ia benci disalahkan atas suatu hal, apa pun itu. Akan tetapi, sialnya ada beberapa hal yang tidak dapat ia sangkal.
Terlepas dari siapa pun pelaku atas luka yang dialami Dean. Pada dasarnya, Disca bertanggung jawab atas hal tersebut. Semua ini bisa saja tak 'kan terjadi bila Dean menetap di rumah, tidak perlu berkeliaran untuk mencarinya. Laki-laki itu pasti akan baik-baik saja bila Disca tak keras kepala dan berlaku seenaknya.
Tanpa sadar air mata Disca jatuh begitu saja. Kalimat tajam dari Sashi yang kemudian bersahutan dengan ucapan Iko sebelumnya terus mengusik dan membuat dadanya terasa sesak. Ia tak nyaman dengan perasaan bersalah yang semakin dalam menenggelamkannya. Namun, memangnya apa yang telah ia lakukan?
Disca tidak pernah meminta Dean untuk melakukan segala hal. Dean sendiri yang memaksakan diri untuk mencampuri hidupnya. Laki-laki itu seharusnya hanya perlu memikirkan dirinya sendiri, tanpa peduli dengan apa yang Disca lakukan. Dean semestinya hanya berkewajiban dalam menanggung biaya hidupnya, bukan mengurusi kehidupan Disca, bukan?
"Jangan mikirin yang macam-macam, Dis."
Disca terkesiap, perhatiannya pun beralih pada Iko yang tahu-tahu sudah berada di sampingnya. Buru-buru ia mengusap wajah guna menghilangkan jejak air mata di pipi. Lantas mengambil langkah untuk menjauh dari Iko.
KAMU SEDANG MEMBACA
WEEABOO ✓
General FictionDean dibuat khawatir oleh Disca yang menghabiskan waktu hanya untuk menonton anime, membaca manga, hingga berdandan layaknya tokoh anime.Adiknya bahkan terobsesi dengan segala hal berbau Jepang. Sebagai kakak yang kini merupakan keluarga satu-satun...
