15 || Keputusan

28 13 0
                                        

Bagaimanapun Dean memiliki tanggung jawab di tempat ini, banyak hal yang harus dilakukan dan selesaikan di sini. Untuk itu, ia kembali ke tempat ini setelah membuat masalah untuk kesekian kalinya.

Dean mempertegas langkah memasuki bangunan tempatnya bekerja selama ini, mengabaikan tatapan Sashi pun rekan kerja yang menatapnya dengan rasa ingin tahu. Hingga di depan pintu ruangan Bu Marissa, Dean akhirnya terhenti. Tangan laki-laki pucat itu pun bergerak mengetuk pintu, butuh tiga ketukan hingga Bu Marissa menyuruhnya masuk.

"Masih berani kamu datang ke tempat ini?" Bu Marissa menyambut kedatangan Dean dengan sinis. Kemarahan dan kecewa masih terlihat jelas dari raut wajah wanita berdarah tionghoa tersebut.

Dean tak berkata apa-apa, membiarkan wanita tersebut menumpahkan segala kecewa dan kemarahannya hingga mengungkit kembali kebaikan yang dilakukan. Kalimat Bu Marissa pun tak dapat ia sangkal, bahwa hadirnya di sini  karena kemurahan hati beliau. Dean tahu diri dan sadar akan hal tersebut.

Usai berbicara panjang lebar Bu Marissa lantas berdesah kasar. Menyandarkan tubuh pada sandaran kursi dan menatap Dean yang belum ia biarkan untuk duduk.

"Saya benar-benar kecewa dengan kelakuan kamu, Yan. Berkali-kali saya memaafkanmu, tapi berulang kali pula kamu mengulang kesalahan," ucap Bu Marissa frustasi. Marah, kecewa dan iba menjadi satu.

Dean menegakkan tubuh, membalas tatapan Bu Marissa yang tampak benar-benar pusing atas masalah yang ia sebabkan. Untuk itu pun ia mengutarakan keputusannnya setelah perenungan panjang, bergelut dengan hati dan pikirannya guna mencari jalan terbaik untuk mereka semua.

"Saya benar-benar minta maaf atas kesalahan yang telah saya lakukan." Dean menarik napas dalam-dalam kemudian melepasnya secara perlahan sebelum kembali berucap, "saya telah lalai dan menyia-nyiakan kesempatan serta kepercayaan yang Anda berikan selama ini. Untuk itu saya benar-benar minta maaf."

"Lalu, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Bila saya memberimu kesempatan sekali lagi apa kamu akan berubah?" Bu Marissa kembali bertanya, memastikan lebih dulu sebelum mengambil keputusan.

Sejujurnya Dean termasuk bagus dalam pekerjaannya, selama ini anak-anak didikan Dean berkembang dengan baik. Hanya belakangan kinerja anak itu merosot, terus jatuh hingga hancur. Hal yang teramat disayangkan, padahal ia telah menyiapkan Dean untuk posisi yang lebih tinggi. Menangani anak tingkat SMP dan SMA, bukan lagi mengajari anak-anak prasekolah hingga SD.

Dean kembali mendesah. semalam ia memikirkan segalanya begitu dalam. Alhasil, sampai tidak kumandang azan subuh menyapa, Dean tetap terjaga. Namun, semua itu tak berakhir sia-sia. Ia telah paham dengan pilihan dan keputusan yang akan ia ambil.

"Saya benar-benar minta maaf, Bu. Namun, setelah memikirkan segalanya. Mohon maaf, saya memutuskan untuk mengakhiri semuanya sini," ucap Dean dengan tegas tanpa ragu maupun rasa.

"Maksudmu?" Bu Marissa bukannya tak paham, hanya memastikan asumsinya.

"Saya izin mundur dari pekerjaan ini. Setelah segala masalah yang saya sebabkan, rasanya sudah tak pantas lagi bagi saya untuk tetap berada di sini," ucap Dean tanpa getir, yakin pada keputusan yang telah ia ambil.

Sementara itu, Bu Marissa menegang di tempatnya. Tak menyangka akan pilihan yang diambil Dean. Pikirnya, akan ada permohonan dari Dean demi mempertahankan pekerjaannya. Nyatanya, laki-laki tersebut melepaskan diri.

"Baiklah, kalau itu memang keputusanmu. Saya rasa itu memang pilihan yang terbaik."

Seolah-olah tali yang mengikat dada selama ini terlepas dan membuatnya dapat bernapas lega, Dean mengulum senyum. Meski ia tahu akan ada kekecewaan besar dari orang-orang di sekitarnya, tetapi tak ada penyesalan atas apa yang telah putuskan.

WEEABOO ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang