12 || Rasa yang Terungkap

35 13 0
                                        

Nyaring suara Disca yang berbalas dengan pekik keras dari Iko menyambut kehadiran Dean begitu membuka pintu. Kening Dean sontak mengerut penasaran dan khawatir dengan apa yang terjadi. Tergesa-gesa ia membawa langkahnya menuju sumber gaduh tersebut.

Kamar yang ia tempati tak lagi tertata rapi, barang-barang di sana tidak lagi pada tempatnya, termasuk barang milik Iko berserak di lantai. Apa yang dilakukan Disca dan Iko luar biasa mengejutkan sampai membuat Dean tak dapat bereaksi dengan cepat.

Adu mulut antara keduanya berlangsung sengit hingga tak menyadari eksistensi Dean. Lelah yang Dean rasakan pun seolah bertambah melihat kekacauan itu. Namun, Dean hanya bergeming, menjadi pendengar yang baik atas rentetan kalimat-kalimat tajam yang terus saling bersahut.

"Lo cuma orang asing di sini. Jangan sok ngatur-ngatur gue dan bersikap seenaknya! Lo pikir, dengan lo akrab sama kakak gue terus lo bisa lakuin hal yang sama dengan gue?"

"Aku cuma mau bantuin kamu, Dis. Lagian apa salahnya kita buat kerja kelompok? Kamu kenapa berlebihan kayak gini, sih?" balas Iko.

Lelaki berkacamata itu tampak bekerja keras menjaga emosi agar tak hilang kendali. Berusaha untuk bersikap tenang, meski kalimat dan tatapnya tak kalah sengit dari Disca. Melihat hal itu Dean tersenyum tipis, tetap bungkam dan mengamati aksi keduanya.

Dean berusaha memahami tentang apa yang terjadi, mencari tahu apa yang menyebabkan amarah keduanya tersulut. Dean juga ingin tahu bagaimana akhir dari perdebatan itu dan seperti apa Iko bersikap menghadapi Disca.

"Pak Heru nyuruh kita kerja kelompok karena lo yang cari muka sama dia! Lo pikir, gue gak tau kalau semua ini akal-akalan lo doang?" sengak Disca.
 
Emosi Disca tak tertahan ia dengan jelas mendengar percakapan Iko dan wali kelasnya siang tadi. Bersikap sok baik dan menawarkan diri untuk membantu menaikkan nilainya, ide untuk kerja kelompok pun adalah ulah Iko. Pak Heru tentu tak 'kan menugaskan demikian bila anak itu tidak memulai.

Tak ingin ada orang lain lagi yang mengatur ruang geraknya, maka tanpa pikir panjang ia tak ingin lagi menerima Iko di rumahnya. Namun, cowok itu bersikeras untuk tetap tinggal. Hal tersebut membuat Disca kesal setengah mati, Iko terlalu tidak tahu diri. Bisa-bisanya orang itu tidak malu setelah dimaki dan diusir seperti ini.

"Memangnya apa salahnya, sih, Dis?" tanya Iko.

Mati-matian ia menahan diri menyikapi segala umpatan dan tindakan Disca. Ia yang baru saja pulang dan ingin beristirahat tahu-tahu diserang. Tanpa basa-basi Disca memaki, menyuruhnya untuk segera angkat kaki.

"Ya, salahlah! Lo pikir gue mau belajar bareng sama lo? Gak! Jangan sok asik, deh, apalagi pakai aku-kamu,  jijik, tau, gak?! Lo itu cuma orang asing di sini. Sejak awal kita gak pernah akrab, asal lo tahu!"

Disca mendengkus lantas kembali memaki, kehadiran Iko benar-benar ancaman. Ia tak sanggup membayangkan waktunya terbuang percuma hanya untuk memperhatikan pelajaran. Disca tidak akan pernah rela waktu menontonnya terusik.

Lagi pula, kenapa harus ada Iko yang masuk ke hidupnya? Kenapa kakaknya yang menyebalkan itu harus kenal dengan cowok resek ini? Membayangkan hidupnya akan direcoki oleh mereka berdua membuat Disca merasa frustrasi.

Oleh karena itu, Disca ingin Iko segera pergi. Cukup Dean yang mengusik, Disca tak ingin ada yang lain lagi. "Pergi lo!"

"Gak! Aku gak akan ke mana-mana. Kalau memang aku harus pergi, maka kakakmu sendiri yang harus mengusirku," ucap Iko dengan tegas.  Ia tidak mungkin mundur secepat ini.

Cukup lama ia hanya mengamati dari jauh tanpa berani untuk maju, lantas bagaimana mungkin kesempatan ini disia-siakan begitu saja? Lagi pula, Iko tidak akan mengecewakan Dean untuk kedua kalinya. Kali ini ia yang menawarkan diri, maka sampai akhir tidak akan berhenti.

WEEABOO ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang