16 || Perlahan Berubah

40 14 0
                                        

Iko kembali mengacak-acak rambutnya setelah pencariannya kembali tak mendapatkan hasil. Entah di mana keberadaan gadis yang hingga saat ini tak juga menampakkan diri. Ia pikir Disca telah tiba di sekolah, tetapi hingga jam pulang anak itu tidak juga hadir. Iko pun telah memastikan ada atau tidaknya Disca di rumah, tetapi sosok itu belum juga kembali.

Cemas tentu saja dirasakan Iko, bukan hanya terhadap Disca, melainkan juga pada Dean. Laki-laki itu kalang kabut saat tahu adiknya tidak datang ke sekolah dan menghilang begitu saja.  Hal tersebut membuat Iko merasa bersalah dan merutuk dirinya, janji yang ia ucapkan tidak lebih dari sekadar omong kosong.

"Belum ada petunjuk sama sekali?"

"Maaf, Bang." Iko menggeleng lesu, upaya yang ia lakukan semuanya tak menuai hasil.

Seluruh teman-teman sekelasnya telah ia hubungi, tetapi tak ada satu pun yang memberi informasi pasti mengenai Disca. Para sahabat yang memiliki hobi yang sama dengan Disca pun berkata tak tahu apa-apa tentang keberadaan anak itu.

"Bukan salah kamu," ucap Dean sembari menepuk pundak Iko. "Kamu coba balik duluan, siapa tahu Disca udah pulang. Kalau belum, biar aku yang lanjut cari."

Iko menggeleng cepat menolak gagasan Dean. Tidak mungkin ia membiarkan laki-laki itu bergerak sendirian tanpa petunjuk yang pasti, apalagi setelah memperhatikan penampilan Dean yang sungguh berantakan dengan hanya mengenakan baju kaus tipis, celana pendek selutut dan sendal jepit.

Semua itu karena Dean terlampau panik saat tahu Disca menghilang, tanpa peduli apa pun Dean segera berlari keluar, memacu kendaraannya tanpa sadar akan betapa kacau dirinya. Melihat hal tersebut membuat Iko mengiba, sungguh besar kepedulian Dean terhadap Disca hingga mengabaikan dirinya sendiri.

"Biar aku yang lanjut nyari Disca, Abang yang pulang buat mastiin keberadaannya dia, lagian Abang butuh istirahat juga," ucap Iko melihat betapa pucat Dean saat ini.

Iko teringat saat vmembangunkan laki-laki itu ketika pulas tertidur di depan laptopnya. Menganggu waktu istirahat Dean yang ia tahu selalu terjaga akhir-akhir ini. Hal tersebut membuat merasa bersalah dan menyesal karena tak dapat menjaga Disca dengan baik.

"Abang gak apa-apa, kamu pulang gih!" Dean berucap tegas tak ingin penolakan dari Iko. Tak tega melihat anak berseragam itu ikut kelimpungan mencari keberadaan Disca.

Dengan terpaksa Iko harus menurut atas apa yang Dean inginkan. Meski berat, Iko pun harus naik ke taksi online yang dengan cepat Dean pesan dan meninggalkan Dean sendiri di sisi jalan, berusaha mencari Disca seorang diri.

Iko mendengkus, lantas menyandarkan diri pada sandaran kursi. Berharap akan menemukan kehadiran Disca di rumah sehingga Dean tak perlu berlama-lama di luar.

Sementara itu, setelah memastikan kepergian Iko dengan aman. Dean kembali menaiki kendaraanya, tanpa peduli betapa letih dan sakit kepalanya saat ini. Ia akan terus mencari Disca ke mana dan sampai kapan pun.

Namun, baru saja ia akan mengemudikan motornya. Sebuah hantaman mendarat keras pada tengkuknya membuat pandangan Dean menghitam seketika, lalu terjatuh bersama kendaraannya menghantam trotoar.

***

Iko benar-benar merasa lega, mengucap syukur dalam hati secara berulang begitu melihat Disca berada di ambang pintu. Nyaris saja ia menyerah setelah menunggu dengan cemas selama 3 jam. Akan tetapi, baru saja ia akan beranjak untuk menyusuri setiap sudut kota ini demi menemukan Disca dan menyusul Dean yang sejak tadi tak dapat ia hubungi. Disca tahu-tahu telah kembali.

"Kamu dari mana?" tanya Iko pada Disca yang tanpa basa-basi lewat begitu saja di hadapannya. Besar rasa penasaran terhadap apa saja yang telah dilakukan gadis itu tak dapat ia tahan.

WEEABOO ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang