Dean menggenggam tangan Disca, adiknya itu sudah lebih baik dan tenang dari sebelumnya. Ada rasa lega ia rasakan saat Disca kini telah tahu di mana letak kesalahannya. Terlebih Disca mengatakan ingin berubah, berjanji akan lebih baik lagi. Mendengarnya membuat Dean bagai terbang ke langit tertinggi.
Ia tak pernah menyangka kejadian buruk yang menimpanya justru akan menuai hal baik. Bagaikan tokoh cerita-cerita fiktif yang terkadang karakternya mendadak berubah karena suatu kejadian. Merutuk dan menyesali perbuatannya dan kemudian menjadi lebih baik lagi,hal tersebutlah yang terjadi pada Disca.
Namun, bagaimanapun caranya hingga Disca dapat seperti ini. Dean benar-benar mensyukuri apa yang telah terjadi. Harapannya kini hanyalah, semoga apa yang diucapkan Disca bukanlah hanya isapan jempol. Sebab, perubahan dalam semalam tentu tak 'kan terjadi.
Dean tahu betul bagaimana sifat adiknya, bagaimana anak itu benar-benar tergila-gila akan hobinya. Tentu Dean tahu tak 'kan semudah itu lepas dari kebiasaan. Butuh waktu untuk itu dan Dean tak ingin memaksa adiknya memakasan diri untuk berubah.
"Kakak gak larang kamu untuk suka dengan anime atau hal apa pun. Kamu gak perlu memaksakan diri untuk lepas dari itu, yang Kakak mau dari kamu hanya kamu tidak mengabaikan masa depan kami. Kalau kamu mau tetap nonton atau lakuin apa pun itu terserah kamu, tapi dengan syarat jangan berlebihan. Masa depanmu harus ditata dengan baik, agar gak ada penyesalan nanti."
Disca mengangguk paham atas kalimat Dean, sambil merutuk dirinya yang selama ini menganggap Dean adalah pengganggu. Tak pernah sekalipun ia mengindahkan ucapan Dean. Hanya bersikap seenaknya sendiri. Sungguh bodoh dirinya yang sangat terlena pada hobi hingga mengabaikan laki-laki itu.
"Oh, ya. Omong-omong, Iko mana? Dari tadi kok gak balik-balik?" tanya Dean yang ingin mengalihkan topik pembicaraan.Mengakhiri segala masalah tentang Disca maupun Sashi sampai di sini. Ada hal penting yang ingin ia bicarakan dengan anak itu.
"Entah, Kak. Kayaknya dia sengaja pergi buat kasih kita waktu ngobrol dulu," balas Disca yang kemudian meraih makanan di atas nakas yang diantarkan pegawai rumah sakit beberapa waktu lalu.
Baru saja ia akan membuka plastik tipis byang menutupi makanan itu, tetapi pergerakannya ditahan oleh Dean. Laki-laki itu menolak untuk makan sekarang dengan alasan belum lapar, padahal waktu sarapan bahkan sudah sangat terlambat. Lagi pula, Disca tahu perut kakaknya belum terisi sejak semalam.
"Gak ada alasan. Kakak tuh harus makan,aku suapin, deh."
Dean tentu tak ingin menolak penawaran langkah ini. Tak tahu kapan lagi ia bisa mendapat perlakukan istimewa dari adiknya. Dean pun mengangguk dengan penuh semangat, tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Walau sebenarnya ia tak memiliki selera, tenggorokan dan perutnya terasa tak nyaman.
Suapan demi suapan pun diterima Dean hingga makanannya tak bersisa. Entah ke mana rasa tidak nyaman yang ia rasa tadi, yang ada semua terasa nikmat. Perlakukan Disca membuatnya dapat menikmati makanan itu dengan baik, tanpa harus merasakan hal yang mengganggu.
"Katanya gak laper, tapi lahap banget, Bang."
Iko yang sejak tadi berada di depan ruangan akhirnya masuk dan bergabung dengan kakak-beradik itu. Ia cukup senang melihat interaksi keduanya saat ini, tak ada emosi dan tatap sengit. Dean tampak bahagia, pun dengan Disca.
"Dari mana? Katanya manggil dokter, tapi gak datang-datang. Terus dokternya mana?" tanya Dean yang sejak tadi telah menunggu kedatangan Iko.
"Maaf, Bang. Aku dari tadi gak ke mana-mana, di depan aja jaga pintu lihatin kalian baikan. Lagian ngapain jalan jauh-jauh, itu ada tombol darurat buat manggil dokter."
Disca tersenyum mendengar kalimat Iko. Cowok itu benar-benar menuruti permintaannya untuk
memberi waktu berdua dengan Dean. "Makasih, Ko," ucapnya yang dibalas senyuman lebar dari cowok berkacamata itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
WEEABOO ✓
Ficción GeneralDean dibuat khawatir oleh Disca yang menghabiskan waktu hanya untuk menonton anime, membaca manga, hingga berdandan layaknya tokoh anime.Adiknya bahkan terobsesi dengan segala hal berbau Jepang. Sebagai kakak yang kini merupakan keluarga satu-satun...
