12

5 4 0
                                        

Aku tak menyangka akan semeriah ini. Rasanya kayak festival tahun baru. Aku tak bisa mengingat dengan jelas seperti apa tahun-tahun sebelumnya, mungkin sama seperti sekarang.

Memang hebat, kelihatannya beliau memang disukai semua orang.

Sepanjang perjalanan, aku jadi teringat dengan film 'Tangled'. Yah, kira-kira semeriah ultahnya Rapunzel. Bahkan ada diskon besar-besaran. Aku tak tahu ini terjadi di seluruh Indonesia atau di Jakarta saja, pokoknya semua orang yang kulihat sangat bahagia.

Saat sampai di halaman istana, aku langsung menghampiri Dean yang sedang berbicara dengan seorang pria. Entah dia siapa, tapi aku sering melihatnya setiap kali aku mampir ke istana.

Dean yang menyadari kedatanganku, menyuruhku untuk berkeliling. Tapi sebelum itu, dia memperkenalkan orang ini.

"Dia Wang Wei-Xun," ucapnya.

Pria sekitar usia 26 itu menunduk hormat lalu pergi meninggalkan kami setelah Dean mengisyaratkan lewat tangannya.

"Aku sering melihatnya mondar-mandir. Dia siapa?"

"Pengawal pribadiku."

Wah, enaknya. Yah, sebenarnya aku juga punya, tapi saat itu Quincy menolaknya. Aku agak gengsi untuk meminta balik. 

Memang sialan anak yang menjadi tubuhku ini. Sok-sokan bisa menjaga diri. Udah tahu punya musuh dimana-mana.

Setidaknya ngga ada kabar kekacauan akibat Quincy lagi selama sebulan ini, seperti sudah ditelan bumi.

"Ngomong-ngomong, Dean. Pengawalmu terlihat mirip dengan temanku. Apa dia punya saudari?" tanyaku karena dia memang mirip sekali dengan Zi-Jian. Marganya pun sama.

Dean mengangguk dan berkata kalau Wei-Xun punya seorang adik perempuan. "Temanmu di mana?" tanyanya.

"Harusnya sebentar lagi datang. Aku akan menunggu di pintu masuk," balasku lalu dicegat olehnya.

Aku menatapnya heran. "Kenapa? Aku akan bersama kak Lion. Tenang saja, okay? Ngga ada bahaya, kok."

Kalau dilihat-lihat, dia cukup sibuk karena banyak sekali orang yang menghampirinya. Aku tak bisa terus-terusan merepotkan Dean.

Kutarik tangan Lion yang sedang memakan potongan kue blueberry favoritnya.

"He-hei Quin! Awas saja kalau kue ku sampai jatuh!"

"Ck! Bisa diambil lagi nanti. Temani aku dulu. Mereka belum datang." 

Tak lama, terlihatlah sebuah mobil limousine putih yang berhenti di gerbang lalu keluarlah 6 wajah yang kukenal. Aku melambaikan tanganku pada mereka dan penjaga membiarkan mereka masuk setelah kartu undangannya ditunjukkan.

"Wah, kau sangat cantik," puji Fey saat melihatku. "Benar-benar terlihat aura bangsawan nya."

"Bagaimana denganku?" timpal Lion. Aku segera mendorongnya agar menjauh dari kami. Fey hanya tertawa melihatnya.

"Yo!" sapa Mike.

"Woah, kau terlihat seperti tuan putri," tambah Jake.

"Haha, terima kasih. Kalian juga terlihat keren." Mungkin karena aku memakai bando yang dihias dengan permata, jadi kesannya seolah-olah aku memakai mahkota.

Tak lama kemudian, mataku terfokus ke gadis bernama Zi-Jian yang cantiknya bukan main. Anjay lah, muka polos natural banget. Aku yang cewek aja demen liatnya, apalagi cowok.

Akhirnya aku sadar dari lamunan. Mereka semua masih berada di depanku dan mungkin mereka merasa canggung. "Ah, kalian berkeliling saja. Kursinya juga sudah kusiapkan khusus untuk kalian di sana," kataku sambil menunjuk ke sebuah tempat VIP.

Magic In The AirTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang