20. Martis

109 22 9
                                        

Bel pintu unit berbunyi.

Elfie yang tadinya sedang rebah di kasur sambil melihat-lihat resep makanan harus berdiri untuk melihat siapa yang datang.

Elfie dapat melihat dari kamera pintu sesosok laki-laki.

Jenkins rupanya.

Elfie segera membuka pintu, "Halo, ada apa?"

"Elfie. Apa kau punya rantang? Aku membungkus makanan di lab."

"Sebentar." Elfie masuk ke dalam unitnya. Membuka lemari di dapur lalu mengambil rantang secara cepat, malas lama-lama. Dia ingin melanjutkan aktivitas rebahannya, "Pakai ini cukup?"

"Iya. Thankyou. Besok akan aku kembalikan."

"Ya...ya...pergilah." Elfie menutup pintu unit lalu segera berbaring dengan cube-phone di tangannya. Menggulir layar melihat makanan-makanan lucu.

Tetapi, tidak lama kemudian bel pintu berbunyi kembali. Bahkan kali ini berdering berkali-kali.

Elfie berdecak kesal karena ada yang selalu mengganggu aktivitasnya. Tanpa melihat kamera pintu, Elfie langsung membukanya, "Ada apa lagi sih Jen- Clara?"

"Surprise~"

Elfie memeluk Clara tanpa ragu, menyambut anaknya yang seharusnya belum pulang hari ini.

Elfie melihat tempurung lutut Clara terbalut plester luka. Dia tau kejadiannya karena Clara selalu bercerita lewat pesan yang dia kirim, "Apakah masih sakit?"

"Sedikit." Jawab Clara sambil tersenyum menyengir.

"Bukankah seharusnya kau tidak kembali hari ini? Kau bahkan tidak mengabarkan akan pulang hari ini." Mereka berbicara sambil masuk ke unit untuk duduk.

"Iya ini perintah mendadak dari Pak Jenkins. Newt juga merasa observasinya sudah cukup sejak kami menemukan sesuatu di padang gurun kemarin."

"Baiklah. Ibu malah senang kalau kau pulang cepat, darling." Elfie mengelus puncak kepala Clara.

"Ngomong-ngomong... tentang ayah. Aku..." Sebenarnya Clara sedih mengingat orang yang dia liat di bunker bukan seperti ayahnya yang dulu. Mungkin wajah sedihnya tidak kentara terlihat, tetapi dia tidak bisa menahannya kalau di dekat Elfie.

"Oh, Clara. Dawney pasti bangga memiliki putri sepertimu kan." Itu dia. Nama yang jarang sekali mereka sebut sejak berpisah karena ayah Clara bersikeras tetap tinggal di bumi.

Egois? Tentu saja. Seorang ayah yang tega meninggalkan istri dan anak tunggalnya hanya untuk mempertahankan harga diri sebagai EARTHER. Begitulah sosoknya seorang Dawney Vicod.

"Kita relakan dia, ya. Jangan nangis." Ucap Elfie sambil mendekap Clara padahal suaranya sendiri bergetar menahan tangis.

Clara mengusap air matanya. Tidak ada gunanya juga menangisi orang yang sudah bukan lagi orang yang sama. Entah ayahnya terinfeksi apa sampai bisa jadi seperti yang dilihat Clara di bunker.

"Ibu, aku harus menemui Pak Jenkins. Sepertinya ada hal yang perlu dia bicarakan."

"Hati-hati." Elfie melambaikan tangannya sampai pintu unit tertutup lagi setelah Clara keluar.

Clara menuju lab, menemukan Jenkins yang sedang merapikan makanan ke dalam rantang.

"Pak Jenkins." Sapa Clara.

Jenkins agak terkejut karena tidak menyangka kedatangan Clara akan secepat ini, "Kau sudah kembali rupanya."

"Jadi, apa yang ingin kau katakan?" Clara melipat tangannya di depan.

Hug Me Interstellar [Newt]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang