"sendirian aja?" seorang cowok tampan menghampirinya,
"i..iya" Karen menjawab sedikit gugup. Kalau Karen sudah gugup, dengan siapa lagi dia berbicara, jelas Marchel yang datang menghampiri Karen dan mengajaknya berbicara,
"gue ikut duduk sini boleh?" Marchel bertanya dengan lembut seolah-olah bukan Marchel yang saat itu amat kejam dan dingin,
"bo..boleh" jawab Karen masih gugup,
"gak usah gugup gitu! Gue gak makan orang!" Marchel bercanda, Karen menganggukkan kepalanya,
"Kar..gue boleh nanya gak?" Marchel mulai membuka topik,
"boleh" jawab Karen tapi tak berani memandang wajah Marchel,
"lo nya liat muka gue dong!" Marchel meminta Karen untuk menatap nya, dengan sedikit keberanian, Karen mulai mendongakkan kepalnya dan menatap Marchel,
"gue boleh gak kenal sama lo?" Marchel bertanya dengan Karen dengan wajah yang serius,
"hah.." Karen agak terkejut,
"gue boleh gak kenal sama lo?" Marchel mengulang pertanyaannya,
"ma..maksudnya?" Karen bingung,
"kita kan udah saling kenal..buat apa lo kenal gue lagi?" ujar Karen,
"maksud gue, gue mau kenal lo lebih jauh lagi" kata Marchel to the point,
Karen mematung sejenak, dia berpikir keras apa maksud kalimat Marchel itu, "gila..gue terapi jantung nih kayaknya.." kata Karen dalam hati,
"boleh" jawab Karen setelah berfikir lumayan lama,
"oke kalo gitu..gue minta nomor lo!?" Marchel menyodorkan hp nya didepan Karen,
Karen mengambil hp Marchel lalu mengetik nomornya kemudian menyimpan nomornya dikontak Marchel,
"nih udah" Karen mengembalikan hp Marchel,
"makasih" Marchel mengambil hp nya lalu melemparkan senyum kepada Karen,
"iya" jawab Karen,.
"Kar..ini bata.." Riska terkejut melihat Marchel yang duduk didepan Karen,
"lo ngapain kesini?" tanya Riska kepada Marchel,
"kepo!" jawab Marchel jutek,
"ih.." Riska tak melanjutkan perkataannya karena ia tahu kalau Riska melanjutkan perkataannnya, akan terjadi cekcok antara dia dan Marchel. Dan Riska tak mau itu terjadi karena ia takut kehilangan selera makan.
"nih Kar.." Riska menyodorkan sepiring batagor yang diinginkan oleh Karen,
"makasih ka" Karen langsung menyuap batagor kedalam mulutnya.
Tiba-tiba, meja kantin dimana itu adalah tempat Karen, Riska dan Marchel makan dihampiri oleh empat cowok tampan,
"eh ada es batu..ngapain disini? Udah cair?" tanya salah seorang dari kelompok tersebut, namanya Hengki.
Hengki adalah ketua tim basket terbaik disekolah, diberitakan Hengki adalah teman satu-SMP dengan Karen jadi Hengki amat peduli dengan karen,
Marchel menatap tajam "bukan urusan lo!" tukasnya,
"jelas ada urusannya sama gue kalo bersangkutan dengan Karen!" tegas Hengki,
"gue setuju aja lo sama Karen, asal lo bisa gak nyakitin Karen.." sambungnya,
"lo ngancem apa ngasih tau?" Marchel bertanya dengan wajahnya yang dingin dan mata yang tajam,
"dua-duanya juga boleh" jawab Hengki sambil memasukkan tangan kedalam kantong celananya,
KAMU SEDANG MEMBACA
Adagio
Ficção AdolescenteHai, follow dulu ya sebelum baca!! Warning! 🚫Dilarang keras menjiplak!! Malu membaca penasaran dijalan, bikin tiruan/menjiplak memalukan.. . . . 'gue gak pernah berfikir untuk mencintai ataupun jatuh cinta, jadi maaf jika cara gue mencintai tidak s...
