Happy Reading!
< 3. Boom! >
Naya POV
Lagi dan lagi. Setiap pagi aku selalu datang kerumah Yoonbin. Tak pernah absen sedikitpun. Menganggap bahwa dia akan ada dirumahnya kemudian membukakan pintu untukku dan kami pun bermain PS 17.
Tetapi, dia tidak ada disini. Rumahnya benar-benar sudah kosong, karena tadi aku mengintip lewat jendela. Pesanku tak pernah dibalas dan nomornya mati. Tidak ada tanda-tanda kehidupan darinya. "Please. Jangan sampe." batinku dalam hati ketika pikiran buruk tentangnya lewat dibenakku.
Bunda dan Papa tidak memberitahuku tentang tetangga kami itu. Ralat, mantan tetangga kami maksudnya. Orang tua Yoonbin juga tidak ada kabar, sama seperti anaknya. "Ortu sama anaknya sama aja. Ga ada kabar." batinku resah. Aku mengaduh pelan. Hatiku terasa sangat khawatir.
Iyalah aku khawatir. Kita berdua aja udah sahabatan dari kecil banget. Eh sekarang Yoonbin tiba-tiba hilang. Gimana aku ga khawatir?
Dadaku terasa sesak. Air mataku tiba-tiba berdesakan keluar. Aku jatuh terduduk didepan pintu rumah keluarga Ha. Akhirnya air mataku tumpah. Aku meremas bajuku kuat seraya terisak. "Elah. Hiks. Sekeluarga pa-pada ga ada kabar. Keluarga Ha pada kemana sih?" gumamku seraya terisak. Aku memeluk lutut dan menenggelamkan wajahku disana.
Rambutku acak-acakan. Mataku mengeluarkan air mata yang terus mengalir. Sembab. Hidungku merah dan mulai tersumbat. Pasokan oksigen disekitarku terasa habis. Aku tidak bisa bernapas. Dadaku terasa dihimpit beban berat sehingga terasa sangat sesak, membuat jantungku tertekan.
Sakit.
Sakit sekali.
"Jadi ini rasanya kayak di wetpet-wetpet? Ditinggal sama sahabatnya dari kecil? Oh, ternyata emang bener. Nyesek banget hiks." gumamku seraya memegangi jantungku yang terasa sakit. Aku terus menangis dan meraung bak manusia kesurupan 'aing maung'.
Hingga akhirnya terdengar deru motor yang kukenali. Aku mengangkat wajahku yang menunduk dan melihat sosok Junkyu yang masih duduk diatas motornya. Junkyu menoleh dan terkejut melihatku menangis terisak dengan penampilan yang sudah tak karuan. Dia pun segera turun dari motornya kemudian berlari mendekatiku.
Hug! Aku merasakan hangat dari pelukan Junkyu, dan otak-ku malah kembali mengingat Yoonbin yang entah dimana. Tangisku bertambah kencang dan efeknya dia tambah memelukku erat. "Hiks, Jun... hiks. Junkyuuu, huaaa..." isakku seraya menenggelamkan kepalaku kedalam pundaknya yang lebar. Ia mengangguk kemudian menepuk-nepuk kepalaku secara lembut. Aku masih saja menangis dan Junkyu tidak mengeluarkan sepatah pertanyaan sedikitpun. Ia menunggu hingga aku siap bercerita.
Saat tangisku mulai reda, Junkyu akhirnya bertanya padaku. "Naya kenapa disini? Nangis-nangis udah kayak orang keilangan harta karun?" tanyanya seraya meledekku. Aku meraung kesal dan dia pun hanya tertawa. "Apa ketawa-ketawa?! Aku emang beneran keilangan harta karun terberharga aku tau!" seruku sebal seraya meninju pelan bahunya. Ia mengaduh kemudian kembali tertawa. Membuat wajahnya menjadi bertambah tampan 2x lipat.
"Kamu sendiri ngapain disini?" tanyaku balik. Netraku menatapnya heran. Junkyu tertegun, dan ia terdiam. Beberapa detik kemudian ia malah memalingkan wajahnya dari pandanganku.
"...,"
"nay. Kamu gatau kalo keluarga Ha udah pindah sejak seminggu yang lalu?" Tanya Junkyu yang masih memalingkan wajahnya. Mataku terbelalak mendengarnya. Aku mencengkram jaket yang dikenakan Junkyu erat.
"M-mereka... me-mereka pindah pas aku dirumah sakit?" Tanyaku terbata-bata. Mataku berlinang. Junkyu dengan ragu menganggukkan kepalanya. Aku tak percaya melihat responnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Goodbye Road ✔
Fanfiction[END]《 Treasure ft. Yoonbin 》 Mereka berusaha bertahan hidup demi cintanya masing-masing, namun semesta dengan kejam memisahkan para pemuda malang dengan dunianya. Ada juga yang merelakan hidupnya untuk cintanya. Tetapi, apakah cintanya itu bahagia...