Sampai di kawasan apartemen elit yang jaraknya tidak jauh dari Anderson Group. Salma melongo menatap gedung di depannya yang menjulang tinggi dengan 25 lantai eksklusif, salah stunya merupakan lantai kamar Erik.
Memasuki lobi, Salma mengangguk sopan pada penjaga resepsionis cantik. Ia melirik kekasihya yang menyapa resepsionis tersebut sebelum masuk lift.
"Cantik, ya?" tanya Salma membuat Erik mengeryit bingung. Kini mereka berada di dalam lift yang bergerak ke lantai 25.
"Siapa?"
"Resepsionis tadi. Kamu akrab sama dia."
Sebelah alis Erik terangkat. Dia memberanikan diri merangkul pundak Salma, lalu membawa wanita itu makin dekat. Bau-bau pencemburu mulai tercium, dan Erik suka.
"Namanya Asti. Dia memang resepsionis tercantik di sini, tapi sayang saat aku sadar kalau dia yang tercantik, status Asti sudah jadi isteri orang."
Salma merona mendengar kalimat Erik. Harusnya ia tak blak-blakan menggoda Erik dengan wanita cantik di luar sana.
Lift kemudian berdenting. Lorong lantai 25 tampak sunyi dengan beberapa pot raksasa menghiasi samping tiap-tiap pintu kamar. Dan saat Salma mengikuti ke mana Erik melangkah, hatinya berdebar ragu. Harus kah ia menuruti Erik dan main ke apartemennya? Mereka masih dini dalam berhubungan, baru di hari pertama. Ditambah, apartemen adalah tempat tertutup.
Bunyi dari gesekan keycard menggugah pemikiran Salma. Spontan, wanita itu mencegah Erik yang baru mau mendorong pintu.
"Tunggu, kamu janji 'kan kita nggak akan ngapa-ngapain di dalam?" Salma mengrnyit ragu.
"Kita pasti berbuat banyak, Salma—"
Erik melirik legannya yang semula dicekal Salma. Wanita itu mundur selangkah, membuat Erik mengabaikan pintu apartemen. Pasti Salma salah paham. Wanita itu sangat polos, benar kalau ciuman-ciuman Erik tadi dan kemarin membuat Salma jadi hilang kepolosan.
"Kamu salah paham. Maksudku di dalam nanti kita bisa berkegiatan banyak. Aku janji tidak menyentuhmu berlebihan sebelum dapat ijin."
"Janji?" Salma mengacungkan jari kelingking sebagai pinky promise.
"Janji." Erik menautkan kelingkingnya dan kembali membuka pintu, mempersilakan Salma masuk. "Lagi pula, aku baru belajar soal ciuman, lebih dari itu aku masih polos."
"Tapi kamu lelaki, keinginanmu pasti kuat, 'kan?"
"Tentu, tapi bukan berarti kalimat senonohku seperti tadi pagi, tentang ajakan bercinta, akan kulakukan di sini. Aku bersumpah masih polos di urusan ranjang." Ekspresi Erik serius. Bahkan saat lelaki itu melepas sepatu dan menaruh tas kerjanya ke atas sofa.
"Oke, aku percaya sama kamu."
Pandangan Salma mengeliling. Suasana dalam apartemen Erik sama elitnya dengan bangunannya sendiri. Barang-barang di situ sudah jelas mahal-mahal. Salma sendiri takut kalau-kalau ia salah gerak dan mengakibatkannya menyenggol benda pecah belah. Ditambah, televisi layar datar 55 inch. Ternyata bekerja di Anderson Group terbukti menjamin hidup pekerjanya.
"Duduk. Mau kubuatkan minum?" tawar Erik tapi Salma masih saja berdiri di samping sofa ruangan tengah.
"A-aku bisa buat sendiri. Kamu ijinin aku masuk ke dapurmu?"
Erik menoleh sekilas ke dapurnya. Dulu, bukan hanya dapur yang dijajah Sesa, melainkan kamar tidur dan kamar mandinya tak luput dari sentuhan Sesa.
Erik lantas mengangguk singkat sebelum pamit ke kamar mandi. Kebiasaan tentang lansung mandi sepulang kerja jadi rutinitas. Tapi dia tak mau berlama-lama karena satu atap dengan wanita yang berhasil menggugah juniornya akan terasa mendebarkan. Erik menunduk, baru masuk kamar mandi dan mengingat Salma yang berada di dapur saja, celananya mulai sempit. Sebesar itu pengaruh Salma di hidup Erik, just like magic.

KAMU SEDANG MEMBACA
Queer Heart: all about Erik
RomanceErik Herman bersikap feminim setelah sering mengagumi kecantikan wanita sejak kecil serta mengakibatkannya memiliki kekasih sejenis, tetapi patah hatinya setelah ditinggal kekasih tanpa kabar dan pertemuannya dengan Salma membuat Erik mulai berubah...