Haiii,
Karena Barra nggak bisa ikut lomba balap karung, dobel up sajalah ya hari ini. Enjoy and happy reading 💕
🌸🌸🌸
"Bitch."
"FAYA!" Prima membentak. "Apa-apaan kamu?"
"Kamu yang apa-apaan, Mas!" Suara wanita membalas dengan lantang. "Kerja? Selingkuh, maksudmu?"
Potongan lemon terjatuh dari rambutnya kala Trisha membersihkan wajah yang terasa lengket. Namun belum sempat gadis itu bicara, perempuan asing tadi keburu menjambak rambut Trisha hingga ia menengadah.
"Kamu buta?" desisnya. "Lelaki ini sudah bertunangan!"
"Lepas," tukas Trisha.
"Masih berani--"
"Lepas!" Trisha menghentakkan tangannya hingga si perempuan tadi menjauh dengan terbelalak. Trisha merapikan pakaiannya yang kini basah tidak keruan. Ia sadar mereka jadi tontonan banyak orang, namun Trisha menatap Prima lurus-lurus.
"Dia siapa, Mas?" Trisha bertanya.
Faya--begitu Prima memanggilnya--menatap Prima dengan tajam. Lelaki itu balas menatap Faya dengan emosi sebelum berdecak dan menutup wajahnya sendiri.
"Sorry, Sa," gumamnya pelan. "I am so sorry."
Trisha menatapnya tidak percaya hingga terlambat menyadari Faya yang melempar makanan ke arahnya. Namubn, piring itu tidak pernah mengenai Trisha.
"Dasar keras kepala."
Demi mendengar suara rendah itu, Trisha membuka mata. Napas Barra terengah, dan rambutnya basah kena keringat. Punggung jasnya kini kotor, namun sepasang manik coklat itu menatap Trisha dengan tajam.
"Sasa, saya--"
Barra melirik, dan Prima langsung terdiam. Lelaki itu menariknya pergi dari lantai dua, sementara otak Trisha mendadak loading lama.
"Wait. Wait. Gue ada perlu." Trisha melepaskan diri, namun Barra menahan sikunya.
"Mau apa lagi?" tanyanya dingin.
"Pokoknya tunggu," pinta Trisha seraya melepaskan cekalan Barra.
Gadis itu kembali dengan cepat. Beberapa pelayan berusaha melerai Prima dan Faya yang masih beradu emosi. Trisha menyambar sebuah gelas di atas meja, entah milik siapa. Gadis itu berjalan dengan pasti, mengabaikan bisik-bisik maupun sorotan lampu gawai yang mengarah padanya.
"Mbak, tolong jangan kemari dulu!" Salah satu pegawai berkata dengan panik.
Namun Trisha mengabaikannya. Ia melemparkan isi gelas tadi ke arah Prima sampai seisi ruangan terkesiap. Gadis itu meletakkan gelasnya dengan keras hingga pecah.
"Anda salah target, Mbak," gumam Trisha pada Faya yang terbelalak. Telapak tangan Trisha terasa perih, namun emosi yang membara lebih berkuasa hingga Trisha mati rasa.
Ketika ia berbalik, wedges gadis itu terselip. Namun Barra menangkapnya tepat waktu. Tanpa banyak bicara, lelaki itu menggendong Trisha di punggung dan membawanya pergi dari tatapan-tatapan ingin tahu di sekelilingnya.
Barra sudah melepas jasnya yang ternoda, meninggalkan kemeja yang sedikit basah karena keringat. Trisha menyembunyikan wajah di tengkuk Barra karena matanya memanas dengan cepat. Bisik-bisik dan tatapan orang-orang membuatnya malu luar biasa hingga rasanya Trisha ingin sekali tenggelam ke dasar bumi. Namun aroma yang sangat dikenalnya menguasai paru-paru Trisha, menyadarkannya jika ia telah berada di tempat yang aman. Tidak ada yang bisa menyakitinya di sini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet Surrender (PUBLISHED)
ChickLitNamanya Barra. Jangankan hangat bak bara api, sahabat Trisha ini adalah manusia sekaku batu arca. Tapi toh Trisha tidak peduli. Sebab selama bertahun-tahun, Barra adalah tempat ternyaman Trisha. Hingga satu persatu hal datang mengusik, dan menyadar...
