"Kamu nggak jogging? Minggu pagi, sweetheart."
Guntur menerima botol minum dari Juni. Keduanya duduk di kursi taman, tampak berkeringat setelah jogging.
"Akhir-akhir ini kerjaanku banyak banget, Pa. Kemarin barusan spa," ucap Trisha, yang menelfon kedua orangtuanya demi mengusir hening saat sarapan.
"Jadi, bagaimana keadaan anak Mama? Sehat lahir batin?"
Guntur melirik istrinya, yang dibalas Juni dengan mengecup ujung hidung mancung pria itu.
"Please," erang Trisha.
Juni tertawa. "Hari ini ada agenda apa?"
Perut Trisha langsung melilit hebat. "Ke nikahan kakaknya Mas Leo."
Senyum Juni memudar, digantikan tatapan awas khas mata pengacaranya.
"Kapan dia ke rumah lagi?" tanya Guntur. "Dia masih perlu banyak belajar."
Mungkin tidak akan pernah lagi. Namun Trisha tidak sampai hati mengatakannya. "Suka Mas Leo, ya? Mau mantu kayak dia?"
"Leo sopan. Tapi Mama mau menantu yang juga disukai kamu," ucap Juni. "Yang nikah sama dia itu kamu, Sa. Bukan Mama."
Guntur merangkul Juni. "Tapi Papa suka dia. Anaknya sopan, latar belakang keluarganya baik, dan pekerja keras. Masih ingat pesan Papa?"
Trisha mengangguk dengan dada yang kian memberat.
"Pesan apa?" Juni mengerutkan kening, yang hanya dibalas Guntur dengan kedipan sebelah mata.
"Pertimbangkan dengan baik, Sasa. Dia sepertinya anak yang baik," ucap Guntur. "Kami pulang dulu, sweetheart. Mau mancing habis ini. Hati-hati nanti."
Trisha mengangguk dengan agak tidak rela, lalu menghela napas saat sambungan terputus.
Dia sudah mempertimbangkan semuanya. Tapi seperti biasa, keputusan paling baik bukan berarti keputusan yang mudah dijalani.
==
Keluarga Leo adalah keluarga besar.
Leo benar-benar memperkenalkan Trisha kepada setiap orang di keluarganya. Mulai dari saudara orangtuanya, sepupu-sepupunya, dan keponakannya.
Semuanya menyambut Trisha dengan atusias, terlebih orangtua Leo. Karena dari lima bersaudara, hanya Leo sendiri yang belum menikah. Ambar menginterogasi Trisha tentang banyak hal: keluarga, pekerjaan orangtua, pekerjaannya. Dan ia pun juga menunjukkan banyak hal tentang keluarga Leo pada Trisha.
"Jadi, gimana? Sudah ada tanggal?" tanya salah satu budenya. "Biar Bude bisa pesan tiket jauh-jauh hari."
Trisha hanya tersenyum dan melirik Leo, yang ternyata juga nyengir gugup.
"Jangan lama-lama. Kapan-kapan kita ke rumah Nak Sasa, ya. Leo udah tahu rumahnya Sasa, kan?" tanya Ambar.
Leo mengangguk, yang membuat Ambar nyengir lebar.
"Aku antar Sasa pulang dulu, Ma," ucap Leo akhirnya.
"Tunggu!" Ambar buru-buru mengambil sebuah bingkisan. "Ini kue, dibawa pulang. Le, nanti jangan lupa. Hati-hati di jalan, ya!"
"Dadah Tante! Besok-besok kita gambar lagi, ya!" seru salah satu keponakan Leo yang langsung menyukai Trisha karena tadi, Trisha membantunya mengatasi kebosanan dengan menggambar.
Trisha balas melambai, lalu pamit dengan sopan.
Jam di dashboard menunjukkan pukul satu siang. Gadis itu bersandar di kursi sambil memejamkan mata, tidak bicara bahkan saat Leo masuk dan mulai menjalankan mobil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet Surrender (PUBLISHED)
ChickLitNamanya Barra. Jangankan hangat bak bara api, sahabat Trisha ini adalah manusia sekaku batu arca. Tapi toh Trisha tidak peduli. Sebab selama bertahun-tahun, Barra adalah tempat ternyaman Trisha. Hingga satu persatu hal datang mengusik, dan menyadar...
