"Nggak masalah."
Trisha mencuci wajahnya berkali-kali, berusaha menetralisir panas yang bercokol di ulu hati. Lalu begitu kalimat Leo terngiang di telinga, gadis itu menghela napas panjang.
Sebagai arsitek lepas, nama Leo bergaung di kalangan tertentu. Pria berusia 29 tahun itu banyak menangani kafe-kafe di berbagai kota, kantor, maupun orang-orang yang menginginkan tempat tinggal dengan desain tidak biasa.
Trisha mengenalnya saat Barra mulai mendirikan Happyhouse. Jika Barra mengajak Leo untuk mendirikan Happyhouse bersama, artinya Barra mempercayai kemampuan dan kepribadian Leo. Senyap-senyap begitu, Barra adalah pengamat yang baik.
"Gimana kalau kita bertemu setelah kamu pulang kerja? Sore ini, di Belario?"
Trisha memandangi pantulan dirinya di cermin wastafel, lantas memutuskan untuk menghadapi sisa hari ini. Meraih tasnya, gadis itu berjalan menuju Belario. Ia langsung menemukan Leo di salah satu meja, tersenyum pada Trisha seolah lelaki itu memandangi pintu masuk sejak tadi.
Dua gelas jus buah dan sepiring potato wedges datang bersamaan dengan Trisha yang duduk di hadapan Leo.
"What do you think, Sa?" pertanyaan Leo membuat Trisha mengangkat wajah. Lelaki itu menatapnya sejenak, lalu mengusap rambutnya dengan canggung. "Damn man, gue bukan anak SMP lagi."
Mendengarnya, Trisha terkekeh. Leo ikut tersenyum, dan kelunturan di antara mereka sirna seketika.
"Sebelum aku bertanya hal-hal yang lebih serius sama kamu, izinkan aku bertanya satu hal, Sasa," kata Leo dengan lebih santai. "Sebenarnya, apa hubunganmu dengan Barra?"
"Teman," jawab Trisha pasti. "Dua orang yang kebetulan jadi tetangga. Tapi, apa hubungannya ini dengan pertanyaan Mas Leo tadi siang?"
"Hanya memastikan," ucap Leo ringan. "Karena di mataku, kalian sangat dekat untuk ukuran seorang teman. Berapa kali aku lihat kamu menginap di rumah Barra, Sasa? Berapa kali kamu telfon aku hanya untuk memastikan keadaan Barra? Berapa kali aku lihat Barra mengesampingkan kegiatannya demi memprioritaskan kamu?"
"Barra nggak begitu," tepis Trisha. "Dia bantu karena dia mampu."
"Termasuk sengaja cancel pesawat karena kamu pesan brem?" Leo tersenyum saat melihat keterkajutan di wajah Trisha.
"Aku baru tahu itu setelah beberapa minggu. Lihat, Trisha. Kalian lebih dekat daripada yang seharusnya. Lelaki itu benar-benar menjaga kamu di tingkat yang cukup...mengagumkan," ucap Leo hingga ingatan Trisha kembali memutar ucapan Juni tentang batas. "Aku ingin sekali bertanya tentang hal ini sejak aku sadar aku tertarik sama kamu, tapi selalu menahan diri setiap kali melihat interaksi kalian. Nggak nyangka tadi ada momen begitu, aku rasa mungkin ini waktunya. Jadi, aku tanya sekali lagi. Apa hubungan kalian, Sa?"
"Teman," ulang Trisha pasti. "Tapi tunggu, Mas Leo. Kenapa aku merasa diinterogasi di sini? Hubungannya dengan pertanyaanmu tadi siang, apa?"
"Aku memastikan, Sa," ulang lelaki itu dengan binar kelegaan di matanya. "Teman."
Trisha menyipit hingga Leo tertawa. "Oke oke, sorry. Jadi, bagaimana dengan pertanyaanku tadi siang? Atau kamu udah punya pacar? Atau calon pacar? Barra bilang kamu sedang sendiri."
Trisha tercenung sejenak, lalu menggeleng. Leo tersenyum lagi. Lelaki itu mengetuk meja dengan kaku.
"Good. it is good. Tapi apa pun jawabanmu, jangan bilang sekarang," ucapnya hingga Trisha mengangkat alis. Leo terkekeh canggung dan menatap Trisha dengan hangat. "Aku suka kamu, Sa. Mungkin sejak setahun lalu, aku sadar kalau aku nggak bisa menganggapmu sebagai kenalan biasa. Aku rasa aku nggak bisa menahan diri lagi. Sekarang setelah kita berada di titik ini, aku benar-benar ingin kita berhasil. Dengan tanya ini sama kamu, aku harap kamu paham bahwa niatku nggak main-main. Aku serius sama kamu. Tapi aku perlu memikirkan sudut pandangmu, iya kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet Surrender (PUBLISHED)
Literatura FemininaNamanya Barra. Jangankan hangat bak bara api, sahabat Trisha ini adalah manusia sekaku batu arca. Tapi toh Trisha tidak peduli. Sebab selama bertahun-tahun, Barra adalah tempat ternyaman Trisha. Hingga satu persatu hal datang mengusik, dan menyadar...
