Sepasang flatshoes merah mengetuk lantai dengan lembut saat Trisha keluar dari lift. Pagi ini, ia tampak cerah dengan outer kemeja pink yang melapisi kaus putih polosnya. Pita berwarna merah mengikat separuh rambut panjangnya, sementara separuh yang lain dibiarkan tergerai hingga ke punggung. Poni rambutnya terjatuh ringan di samping wajah kala ia mempelajari notes di tangan.
Gadis itu hendak membuka pintu, namun Prima keburu membukanya dari dalam. Ia menatap Trisha dengan canggung sebelum wajahnya berubah tenang, lalu melangkah ke ruangannya sendiri. Trisha hanya mengerlingnya, lantas masuk ruangan. Hubungan mereka memang kembali baik-baik saja, tapi tidak akan pernah sama lagi. Seperti ada sebuah dinding dingin yang membuat mereka tidak lagi bisa bercanda seperti dulu. Jika dipikir-pikir, Prima memang cenderung lebih pendiam sejak hari itu.
"Selam---"
"Cek email, Sa." Dion menginterupsi tanpa mengangkat wajah. "Ada revisi dari Barni dan dari saya."
"--mat pagi, Mas Dion. Oke." Trisha mengangguk patuh seraya melangkah ke ruangannya sendiri.
Aroma minyak kayu putih menyeruak saat Trisha masuk ruangan. Bastian sedang memijit tengkuk Sherly, yang membalas sapaan Trisha dengan senyum lemah. Mika melambai antusias dari pojok ruangan.
"Lho, udah masuk, Mik?" Trisha nyengir lebar saat melihat wajah bahagia Mika. "Ululu yang barusan lamaran. Lancar kayaknya."
Mika menunjukkan cincin di tangannya dengan senyum penuh binar. "Cantik nggak?"
Trisha mengacungkan jempol. "Jadi, kira-kira kapan nikahannya? Biar gue bisa ancang-ancang."
"Pasti nanti gue kasih tahu. Kalian perlu fitting kebaya dan itu nggak bisa kilat. Nuansa lilac, jadi lo bisa ngomong sama Barra dari sekarang biar serasi," ucap Mika antusias, yang langsung berubah saat melihat wajah Trisha. "Kenapa, Sa?"
Trisha cepat-cepat tertawa kaku. "Nggak kenapa-napa. Nggak sama Barra juga nggak apa-apa, kan?"
"Eh, udah ada pacar, Sa?" sahut Mika yang kembali semringah. "Wah! Nggak, nggak apa-apa dong kalau bukan Barra! Siapa pun dia, gue bakal welcome banget. Asal jangan kayak Pak Prima!"
Sherly menangkup pipinya. "Udah ada gantinya Pak Prima? Siapa? Ganteng nggak? Kerjaannya apa? Aku kenal? Lebih ganteng dari Mas Barra nih pasti!"
"Apaan!" tukas Trisha tertawa.
"Mas Barra itu oke. Yang begitu aja lewat buat Mbak Sasa. Berarti yang ini lebih oke dong ketimbang Mas Barra," Sherly mengernyit. "Tapi Pak Prima biasa aja deh kayaknya. Dia emang punya tampang, tapi dibanding Mas Barra--"
Trisha memutuskan untuk mulai bekerja daripada mendengarkan ocehan Sherly yang kini ditanggapi Mika dengan antusias.
Lagipula, ganteng, menarik, adalah hal yang jarang ia sematkan pada Barra. Karena...itu hal biasa bagi Trisha. Hampir setiap hari selama bertahun-tahun, Trisha melihatnya sampai dia hapal sekali. Deskripsi-deskripsi tentang Barra bukan lagi tentang fisik, tapi sesuatu yang lebih jauh dari itu. Keberadaan dirinya untuk Trisha, kehangatan yang dibawanya, ketenangan yang ditawarkannya, keterdiamannya yang tetap mengamati banyak hal, pokoknya sesuatu tak kasat mata yang hanya ada pada Barra.
Tapi jika ia dituntut mendeskripsikan Barra hanya sebatas fisik, ya. Lelaki itu memang menarik. Barra punya gigi geligi rapi yang membuat senyumnya menarik. Badannya yang jangkung dan tegap, garis wajahnya yang maskulin, garis lehernya yang kokoh dan tegas, rambut menggemaskan di tengkuknya, aroma tubuhnya yang khas, belum lagi jika dia berkeringat setelah olahraga atau bertelanjang dada. Maksudnya, dia sudah melihat Barra bertelanjang dada ribuan kali. Mulai dari Barra remaja yang kurus hingga Barra dewasa dengan otot perut yang tidak se-wow para atlet tapi tetap terasa kuat dan bergelombang di bawah jemarinya--
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet Surrender (PUBLISHED)
ChickLitNamanya Barra. Jangankan hangat bak bara api, sahabat Trisha ini adalah manusia sekaku batu arca. Tapi toh Trisha tidak peduli. Sebab selama bertahun-tahun, Barra adalah tempat ternyaman Trisha. Hingga satu persatu hal datang mengusik, dan menyadar...
