23. Life Is Still Going On

12 3 2
                                        

Pagi ini pemakaman Naura di laksanakan. Di temani oleh Nara, Pelangi menangis di pelukannya. Di pemakaman itu sangat ramai, mulai dari staf, kolega, rekan bisnis, karyawan, pelayan, serta bodyguard, mengahadiri pemakaman Naura. Bahkan Agra, Bayu, dan juga Kanan ikut serta dalam mengatar mayat Naura ke kuburan.

Pelangi menahan sesak melihat Naura di kuburkan. Ia seolah-olah di tikam ratusan belati.

Sulit. Sulit sekali rasanya mengikhlaskan orang yang sangat berharga dalam hidupnya. Ia ingin menangis, berteriak, menjerit, memarahi dirinya karna tidak bisa di andalkan.

Seumur hidupnya hanya ada sosok seorang ibu. Pelangi tidak tahu apa itu definisi seorang ayah. Ia iri, iri dengan mereka yang masih memiliki keluarga utuh.

"Udah Pela, jangan nangis lagi nanti nyokap lo sedih," kata Nara mencoba menenangkannya. Ia menepuk-nepuk pelan punggung Pelangi.

Agra membuang nafas berat. "Lo harus kuat, nyokap lo gak bakal suka liat lo jadi anak cengeng kaya sekarang."

Pelangi menoleh menatap Agra sendu.

"Gue tau susah buat lo nerima ini tapi lo kuat, gue yakin lo bisa lewatin ini semua," kata Bayu.

"Pelangi, di luar sana masih banyak orang yang peduli sama lo, termasuk gue,"  Kanan menciba menghiburnya.

"Lo kuat, lo tangguh, lo tegar, lo harus bisa ngelawan rasa sedih lo, lo harus jadi kaya apa yang nyokap lo mau lo gak mau ngecewain dia, kan?"

Kata-kata Agra membuatnya sedih.

🌈🌈

Semua orang sudah pergi menyisakan Pelangi sendirian. Ia menatap lamat-lamat nisan ibunya.

Naura Agraya Amaura
Lahir 20 Mei 1982
Wafat 14 Juni 2021

Ia menunduk menahan tangis, tapi air matanya jatuh begitu saja tanpa persetujuannyaa. "Akh!" Pelangi menjerit.

Langit seketika mendung. Dengan suara guntur dan kilat yang saling bersautan. Langit seolah-olah iba dengannya hari ini.

Langit semakin gelap hujan mulai turun. Pelangi masih di makam ibunya. Hujan semakin deras. Suara guntur semakin bersahut-sahutan. Pelangi sama sekali tidak berniat pergi meninggalkan makam ibunya. Semesta menjadi saksi bisu betapa tersakitinya ia di tinggalkan ibunya untuk selamanya.

Pelangi menangis. Menjerit menagis sekencang-kencangnya melampiaskan segala rasa sedihnya pada hujann.

Bahkan hujan pun tak membiarkan tangisnya terdengar. "Argh!!.. Mama.." Pelangi mengerang. Tubuhnya basah kuyup di guyur air hujan. Tangisnya bercampur dengan rintikan hujan serta suara guntur dan kilat yang saling bersahutan.

"Hujan saja iba dengaku
Apakah orang-orang
Juga begitu?"

Hujan mereda. Langit mulai cerah. Pelangi memeluk kedua lututnya. Ia kedinginan.

Fania tersenyum miring melihat Pelangi dalam keaadan tidak bail-baik saja. Ia butuh pelukan. Fania iba tapi ia tepis pikiran itu jauh-jauh. Ia menghampiri Pelangi berdiri tepat di hadapannya.

Pelangi mendongak menatap Fania dengan mata yang masih berair. Fania langsung memeluk Pelangi. "Selamat, lo udah kehilangan orang terpenting dalam hidup lo."

Mata Pelangi melebar. Ia langsung mendorong Fania membuatnya mundur. Pelangi menampar Fania dengan sangat keras hingga pipi kiri cewek itu merah padam.

"Lo?!"

"Aku gak pernah nyesel jadi orang baik, tapi aku nyesel karna udah baik sama manusia sampah kaya kamu!"

Fania membeku.

Pelangi berjongkoj menciyn batu nisan ibunya. "Ma, Pelangi pergi dulu mama baik-baik ya, disini? Pelangi sayang mama," setelah mengatakan itu ia pergi meninggalkan makam menyisakan Fania yang masih terpaku.

🌈🌈

Pelangi menatap sendu tiap sudut kamar ibunya. Ia berjalan ke jendela menatap lurus kedepan banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepalanya.

Kenapa ibunya bisa jatuh dari lantai tiga?

Apa yang sebenarnya terjadi?"

Kenapa ia tidak menyadari bahwa ibunya akan pergi meninggalkannya?

Semuanya terasa begitu cepat. Pelango mengutuk dirinya karena terlalu payah. Ia tidak ingin menangis lagj sudah cukup ia menangisi Naura seperti orang gila kemarin.

Sekarang secara perlahan-lahan ia akan mencoba mengikhlaskan kepergian ibunya.

Tok! Tok! Tok!

Seorang wanita mengetuk kamar ibunya. Orang itu adalah bik Jia pelayan kepercayaan Naura.

Pelangi menoleh. "Masuk bik."

"Nona, nyonya menitipkan ini ke saya tolong di baca."

Pelangi menganguk.

Bik Jia segera pergi dari sana.

Pelangi menatap lamat-lamat surat yang di berikan Bik Jia tadi. Ia mulai membuka sepucuk surat itu dan membacanya.

Dari mama untuk Pelangi...

Sayang kamu enggak nangis kan?
Jangan nangis, kamu harus ikhlasin mama, ya?
Jangan nangisin mama setiap hari
Mama tidak suka kamu menjadi anak cengeng
Jangan berubah menjadi seseorang yang jahat
Mama tau kamu terpuruk
Karna mama tidak ada
Kamu harus tetap menjadi Pelangi yang mama kenal
Pelangi yang polos, lugu, ceria, dan juga Pelangi yang sangat baik kepada orang lain
Jangan rubah sikap kamu
Mama meninggalkan semua aset yang mama punya ke kamu
27 cabang perusahaan mama, harus kamu jaga mama percaya kamu, kamu harus juga percaya sama diri kamu sendiri
Sekolah kamu Arta Negara Gold sekarang sudah menjadi milik kamu, jaga sekolah itu baik-baik
Jangan menggunakannnya untuk berlaku semena-mena kepada orang lain
Kamu jaga diri baik-baik ya, sayang? Jangan banyak mengeluh. Do'a in mama disini.

Ingat ketika kamu  ingin menjadi orang jahat
selalu ada mama yang ingin kamu menjadi orang baik
Mama, love you, why you? why not

Jangan sedih lagi...

Pelangi tersenyum pedih membacanya. "Tapi, Pelangi mau jadi orang jahat, ma."

****
_End_

Pelangi akan kembali dengan cerita yang berbeda, ciri yang berbeda dan sifat yang berbeda.

Dan tentang Zean...

Kalian tunggu saja ya? ^~^

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 23, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

PELANGICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang