Pelangi mengelus puncak kepala Zean yang di balut. Cewek itu berusaha menahan tangis. Tubuhnya bergetar hebat mengingat kejadian yang selalu muncul di kepalanya.
Cewek itu menggeleng menepis pikiran itu jauh-jauh.
Mengingat kejadian itu hanya akan membuatnya di liputi kesalahan dan juga kesedihan. Seharusnya... jika saja Zean tidak menolongnya pasti cowok itu tidak akan terbaring lemah seperti ini.
Mata cewek itu mulai berair. Sebisa mungkin ia tahan agar air matanya tidak jatuh. Tapi percuma, air matanya jatuh begitu saja tanpa persetujuannya. Ia buru-buru menghapus air mata itu tapi nihil, ia malah semakin banyak mengeluarkan air mata. "Z-Zean... Baby boy.." bibir cewek itu bergetar menahan tangis. Ia tersenyum getir ke arah Zean. "Ayo bangun kamu enggak cape apa tidur terus?" Pelangi menunduk menangis.
Zean sudah 1 minggu koma. Tidak ada keajaiban dan tanda-tanda Zean akan sadar. Ia masih terkulai lemah di bangsalnya. Sejak Zean terbaring banyak hal yang terjadi pada Pelangi.
Fania semakin menggila. Destand yang tidak ada habis-habisnya memaksa dirinya untuk bersamanya dan lebih gilanya lagi— Om Zevgas melarang Pelangi untuk menjenguk Zean. Ruang rawat Zean di jaga oleh banyak bodyguard. Kiranya ada 5 orang. 2 orang berjaga didepan pintu rawat Zean. 2 orang berjaga di dalam ruangan Zean dan yang satunya adalah sumber informasi yang akan memberikan kabar pada Om Zevgas tentang keadaan Zean. Segitu tidak maunya dia membiarkan Pelangi untuk melihat Zean.
Tapi Pelangi masih bisa tetap masuk. Ia di bantu oleh Agra. Kalian tau kan kalau Agra itu kaki kanan Om Zevgas?
Semua bodyguard itu patuh oleh Agra. Pelangi beruntung ia masih mempunyai koneksi yang bisa membantunya masuk menemui Zean.
Pelangi mengambil tangan Zean lalu menaruhnya di pipinya. "Aku selalu ada Zean, aku selalu ada buat kamu, aku bakal nunggu sampe kamu sembuh walaupun akhirnya kita harus berpisah— aku akan berusaha ikhlas, jika suatu waktu kamu benar-benar akan hilang." tanpa di sadari air mata cewek itu jatuh membasahi pipinya. Cewek itu tersenyum tipis lalu menaruh kembali tangan Zean ke tempat asalnya. Pelangi menaruh kepalanya di atas dada bidang Zean lalu tersenyum sedih. Baru saja ia ingin terlelap, handphonenya berbunyi membuyarkan rasa kantuknya. Ia bangkit merogoh isi tasnya mencari handphonenya.
Oh iya ngomong-ngomong stylish Pelangi ia memakai kaos putih sebahu dengan celana zeans berwarna biru muda dan sepatu snakkers berwarna biru muda kesayangannya. Itu pemberian Naura saat dia ulang tahun yang ke-14. Pelangi tipe orang yang akan menjaga pemberian milik orang lain jika barang itu sudah menjadi miliknya.
Pelangi mengambil handphonenya. Ia menjawab panggilan masuk itu.
Mata cewek itu melebar. Handphonenya jatuh begitu saja akibat ia sangat terkejut.
Tanpa memperdulikan apapun cewek itu berlari sekuat tenaga meningalkan Zean dan juga bodyguard yang menjaga Zean. Para bodyguard itu hanya speechless melihat Pelangi yang keluar dengan terburu-buru menuju rumahnya dengan air mata yang terus menjatuhi pipinya.
"Tuhan tolong selamatkan dia, dia asaku, asaku yang sangat berharga untuk melanjutkan hidup tolong, tolong jangan ambil dia, ku mohon.."
🌈🌈
"Mama!!!..." Pelangi berteriak histeris.
Pelangi meraung mendapati ibunya yang sudah di penuhi oleh darah segar yang mengalir dari belakang kepalanya. Kepala Naura terbentur sangat keras ketika terjatuh dari lantai tiga. "M-m-mama... jangan tinggalin Pelangi... Pelangi mohon," rintihnya. Pelangi frustasi. Ia tidak kuat lagi dadanya sesak. Ia menangis sejadi-jadinya hingga suaranya serak dan nyaris habis.
Naura menangkup pipi putri semata wayangnya itu. Ia tersenyum pedih dadanya terasa sangat sesak. Ia mengigit bibirnya menahan sakit. Bahkan tubuhnya bergetar hebat. Ia sudah tidak kuat darahnya sudah banyak keluar dan rasanya ia benar-benar tidak berguna sekarang melihat putrinya menangisi dirinya yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa. "M-mama minta maaf sayang, m-mama.." Naura menjeda menetralkan nafasnya yang sudah semakin habis, Pelangi semakin menangis melihat ibunya sekarat seperti ini. "Tidak bisa bertahan lebih lama lagi, kamu harus janji sama mama, jangan jadi anak nakal, jadi Pelangi yang kaya sekarang, mama bangga sama kamu yang sekarang jangan buat mama sedih dengan diri kamu yang mendatang, jaga diri kamu baik-baik mama bakal tenang di sana, maaf mama belum bisa jadi mama yang baik untuk kamu," katanya tersenyum teduh senyuman yang sangat tulus dan soft di mata Pelangi.
Pelangi menggeleng. "Enggak, mama— mama terbaik yang Pelangi punya, tanpa mama Pelangi enggak bakal ada, Pelangi sayang mama, mama udah cape besarin Pelangi sendirian. Mama adalah ibu sekaligus ayah untuk Pelangi, Pelangi bangga punya mama tangguh seperti mama," katanya memeluk ibunya yang tergeletak di lantai. Ia tidak peduli jika dirinya harus terkena noda darah ibunya. Seumur hidupnya, ia tidak pernah berfikir bahwa ibu yang sangat ia sayangi akan pergi meninggalkannya.
Pelangi mendogak menatap wajah ibunya yang sudah semakin lemah. "Jangan pergi, ma. Mama harus kuat Pelangi bakal bawa mama ke Singapura buat perawatan. Mama harus kuat."
Naura mengerjapkan matanya. Ia sudah tidak kuat lagi. Tubuhnya terasa remuk. "M-mama tidur d-dulu." lalu setelah mengatakan itu Naura memejamkan mata dan tidak sadarkan diri.
Pelangi menangis histeris. Lalu langsung membawa Naura pergi ke rumah sakit.
🌈🌈
Pelangi mondar-mandir di depan ICU. Setelah di larikan ke Rumah Sakit di Singapur Naura langsung di masukkan ke ICU. Sudah 3 jam Pelangi menunggu dokter untuk keluar dan memberi kabar padanya. Pelangi berharap itu kabar baik tentang ibunya.
Pelangi mondar-mandir sambil berdo'a dan meminta kepada Tuhan Semesta Alam agar ibunya selamat. Jika ibunya tidak selamat— tidak! tidak! Pelangi tidak pernah berfikir bahwa ibunya tidak akan selamat. Ibunya pasti akan selamat. Ia harus berfikir positif.
Dokter itu keluar. Pelangi langsung menanyakan keadaan Ibunya. "How are my mom, dok?"
"Kami sudah melakukan yang terbaik tapi, pasien mengeluarkan banyak darah hingga nyaris tidak ada lagi darah di tubuhnya. Pasien sudah meninggal. Maaf kami gagal menyelamatkanya."
"Maaf?! Mama saya meninggal dan dokter hanya bilang maaf. Dokter seharusnya mikir gimana perasaan saya. Dia hanya satu-satunya orang yang saya punya di dunia ini tanpa dia apa jadinya saya?" Pelangi berjongkok memeluk kedua lututnya yang bergetar. Ia menangis sesegukan. Rasanya sakit sekali kehilangan sosok seorang ibu yang sangat berharga.
Jika kalian merasakannya apakah kalian akan sanggup?
Pelangi langsung masuk ke ruangan ibunya. Ia membuka kain putih penutup wajah ibunya. Lalu langsung memeluk erat tubuhnya dan menangis di atas tubuh ibunya yang sudah terbaring kaku dan tidak bernyawa. Ia meraung. "Mama! Mama harus bangun mama tega ninggalin Pelangi sendirian? Mama..." ia bangkit dadanya sesak ia mengoyang-goyangkan tubuh ibunya tapi tidak ada respon. Pelangi memegang kepalanya frustasi.
"Kenapa? Kenapa? Harus ibu-ku yang di ambil? Kenapa bukan orang lain? Apa Tuhan sesayang itu denganya sampai-sampai aku tidak di izinkan untuk bersamanya lebih lama?"
****
KAMU SEDANG MEMBACA
PELANGI
Romance[SEMANGAT LO BISA GAPAI YANG LO MAU. DOA & USAHA NOMOR SATU] "Gimana sih lo? Punya mata lo kan? Gue yang segede ini masa lo gak liat? Buta mata lo?! Main tabrak aja!" gerutu cowok itu. "Iyaa Maaf." balas Pelangi. Cewek itu masih menunduk membersihk...
