"saya izin angkat telepon dulu ya?," izin chandika menjauh dari jendra dan pak agung yang lagi asyik makan. ketika dirasa sudah jauh dari mereka. chandika mengangkat panggilan itu.
"ya jusuf?,"
"pak, data dean sudah saya kirim, beberapa foto juga saya kirim ke email bapak, ternyata sudah menjadi rahasia umum juga bahwa bu ambar sering tidur dengan pegawainya," chandika meremat ponselnya sendiri.
"sejak kapan?,"
"sebelum bapak berpacaran dengan bu ambar, beberapa orang mengaku pernah tidur dengan bu ambar pak," chandika rasanya pengen banting hapenya aja, cuma sayang dong iphone 11 pro-max kok mau di banting.
"makasih jusuf, setelah ini saya transfer bonusan buat kamu,"
"ya pak, terimakasih kembali," sambungan telepon itu terputus. chandika menggeram marah melihat isi email dari jusuf.
"kenapa kamu lakuin ini sama saya mbar?," gumam chandika pelan. chandika tuh sayang banget sama ambar, nggak nyangka bakal kaya gini kejadiannya, dia pikir dia yang berkhianat, tapi ambar ternyata juga, dan bahkan lebih dulu daripada dirinya.
hingga suara lembut wanda menyapa pendengarannya "mas chandika, wanda sama bapak dan jendra pamit dulu yaa?, makasih seafoodnya, dapur uda-— eh?, mas kenapa?," wanda kaget karena chandika tiba - tiba memeluknya.
"gak apa, saya cuma capek kerja aja," wanda mengangguk, membalas pelukan chandika.
"kalau capek istirahat dulu, jangan di paksa yaa?," chandika makin mendusal pada perpotongan leher wanda.
"saya mau pulang ke kota, wanda," wanda terdiam, kalau chandika pulang ke kota, apa mereka nggak bakal ketemu lagi?, apa hubungan mereka berakhir disini?.
oh ya jelas tidak!, gue kan authornya mau ape lu!.
***
pulang dari rumah pak chandika wanda tuh langsung ngerem di kamar mulu, diajak makan sama jendra nggak mau, di ajak maskeran sama jendra nggak mau, udah pokoknya serba nggak mau, nggak mood ngapa - ngapain. ditanya kenapa malah kaya ayam nelen karet. selina sampe turun tangan, padahal mau kencan sama mas sean. "mangan o blok goblok!, kesehatanmu loh! (makan sana bodoh!, kesehatanmu loh!)," wanda menggeleng.
"sel, aku ikulo, wes tau ngutik manuk e mas chandika, mas chandika yo wes tau ngeremes susuku, terus saiki de.e kate balek nang kuto, lah aku wes kadung di demok i ngene mosok ga sido di rabi, (sel, aku ini loh, udah pernah pegang burungnya mas chandika, mas chandika ya pernah ngeremes payudaraku, terus sekarang dia mau kembali ke kota, lah sedangkan aku udah terlanjur di pegang pegang gini, masa nggak jadi nikah)," selina mengangguk paham akan ketakukan dari sahabatnya.
"paham aku, mbok pikir di utik wes pasti di rabi ngono?, deloken aku ambek pengusaha tekan korea seng jenenge mas jongin pas ikoh, wes tau di wolak walik yo akhir e di tinggal rabi, makane nda wanda, awakmu iku ojok gelem wes!, jupuken duwik e ae lek jare aku! (kamu pikir di pegang udah pasti dinikahin gitu?, lihat aku sama pengusaha dari korea, mas jongin dulu, aku udah pernah di bolak balik, akhirnya ditinggal nikah, makanya wanda, kamu jangan mau udah!),"
"tapi aku seneng sel ambek mas e! (tapi aku suka sel sama masnya!)," selina mengangguk.
"iyo, tapi kan awakmu gak kenal de.e asline yokpo!, (iya, tapi kan kamu nggak kenal dia itu aslinya gimana!)," selina mengelus pundak sahabatnya yang bergetar karena menangis. mata wanda udah bengkak, pipinya merah, hidungnya juga.

KAMU SEDANG MEMBACA
BIDUAN - Wenyeol
Fanfictionwarn mature! (setiap part mature bakal aku kasih tanda) bocil polos/readers suceh jangan di mari ya bebih. lokal wenyeol Wanda Ayuni anak Pak Camat yang bekerja di kantor kelurahan, harus ketahuan sang ayah saat sedang nyambi jadi biduan. "Suara m...