22. The Truth (II)

26.9K 975 71
                                        

Setelah menghabiskan waktu seharian penuh untuk berasenang-senang, akhirnya mereka pulang pukul 7 malam. Jo memutuskan untuk mengantar Raelyn dan Griffin kembali ke rumah Xael. Sesampainya di rumah, Raelyn langsung turun dari mobil lalu menggendong Griffin yang tertidur di kursi belakang.

"Thanks for the ride." Raelyn berterima kasih pada Jo.

"Ku antar sekalian?" tanya Jo, nawarkan tumpangan.

Raelyn menggeleng, "Tidak usah. Terima kasih."

Ia berbalik lalu berjalan menuju rumah Xael. Belum ada 5 langkah, ia berhenti karena mendengar teriakan Jonathan, "Akan ku beritahu hal yang sebenarnya mengenai aku dan Xael."

Tentu hal itu berhasil menarik minat Raelyn ditambah ia masih penasaran bagaimana Xael dan Jonathan saling berhubungan. Raelyn berbalik menghadap mobil Jonathan, "Tunggu sebentar. Aku akan menidurkan Griffin lalu kembali ke sini."

Jonathan tidak membalas melainkan hanya tersenyum lembut.

Dengan langkah kaki terburu-buru, Raelyn memasuki rumah Xael. Ia bahkan mengabaikan ucapan "selamat malam" dari pada pembantu. Raelyn setengah berlari menuju kamar Griffin. Ia menata kasur Griffin terlebih dahulu sebelum menidurkan Griffin di atasnya. Sebelum meninggalkan kamar Griffin, ia memastikan lagi bahwa bos kecilnya ini tidur dalam keadaan hangat dan nyaman.

Setelahnya ia kembali berlari menuju tangga, melewati ruang tamu besar, dan akhirnya sampai di pintu masuk utama rumah Xael. Ia mengehentikan acara berlarinya karena kehabisan nafas.

"Rumah besar sialan." umpatnya sembari berjalan cepat menuju gerbang sambil mengatur nafas. Dari kejauhan ia bisa melihat Jonathan yang sudah menyender di mobilnya. Jonathan membukakan pintu penumpang saat Raelyn berhasil keluar dari gerbang. Raelyn langsung masuk tanpa berkata apa pun. Diam-diam ia mendapati senyuman Jonathan kembali merekah. Jonathan masuk mobil setelah Raelyn.

Beberapa menit awal perjalanan, mereka saling diam. Jonathan fokus mengemudi sedangkan Raelyn masih mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. "Need some water?" tanya Jonathan sambil menoleh pada Raelyn yang masih ngos-ngosan.

"Jadi bagaimana awal mula ceritamu dengan Xael bisa berhubungan?" tanya Raelyn langsung ke intinya.

Jonathan hanya terkekeh kecil, "Atur nafas terlebih dahulu." ucapnya seolah-olah ingin mengundur waktu.

Raelyn menoleh kepada Jonathan sambil memberikan pandangan tajam. Ia sangat tidak suka basa basi dan dipermainkan seperti ini, "Okay, turunkan aku sekarang."

Senyum yang menghiasi wajah Jonathan seketika sirna. Ekspresi sebal tetapi masih terlihat serius terpampang pada wajah Jonathan, "Alright alright." sergahnya cepat.

"Go ahead." Raelyn mepersilahkan.

"Kami sebenarnya bukan kakak beradik kandung." Jonathan terdiam sejenak, "Hmmm bagaimana aku harus menceritakannya ya." sambungnya bingung.

"Dari awal." Raelyn menganjurkan.

"Okay akan ku ceritakan dari awal." Jonathan membalas

"Saat aku masih bayi, kedua orangtuaku membuangku ke sebuah panti asuhan. Adisson dan istirnya, Selena Delario, mengadopsiku saat aku masih kecil karena Selena tidak bisa mengandung. Namun ternyata ayahku sudah menjalin hubungan rahasia dengan pembantunya, ibu Xael." jelas Jonathan.

What?! Ternyata ia anak resmi Adisson?! Seketika Raelyn kembali mengingat cerita yang Xael ceritakan padanya saat di Denver. Cerita bagaimana ibunya meninggal karena dibunuh istri sah Adisson.

"Ibu Xael hamil ia dan kakak perempuannya. Adisson mencoba menyembunyikan hubungan mereka dari ibuku. Saat usiaku delapan, ibuku akhirnya mengetahui fakta tentang hubungan terlarang mereka. Suatu malam ayah dan ibuku bertengkar hebat karena hal itu dan ayahku meminta untuk bercerai." Jonathan diam sejenak, matanya terfokus ke depan, dan ekspresinya datar. Tangan Jonathan mencengkram kemudi dengan kuat, seolah sedang menahan sesuatu.

Babysitter With Benefits Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang