10. Drunk

60.7K 2.1K 17
                                    

Malam itu kota Los Angeles dihadang hujan lebat disertai petir. Kilatan putih terlihat dari jendela walaupun sudah ditutup dengan korden.

"Raelyn." Griffin terus berteriak ketakutan sambil memanggil nama Raelyn.

"Hei aku disini." Raelyn menenangkan sambil mengusap rambut Griffin memberikan sedikit kenyamanan.

"Aku tidak suka petir." ucap Griffin lalu memeluk Raelyn erat sekali. Ia menenggelamkan kepalanya di pundak Raelyn, "Aku takut."

Raelyn kembali menenangkan Griffin dengan menepuk nepuk pelan punggung Griffin, "Apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu tidak takut Griff?"

Griffin menggeleng dalam pelukannya.

Raelyn berinisiatif membawa Griffin jalan jalan kecil. Ia menggendong Griffin keluar dari kamarnya. Mereka berjalan menuruni tangga menuju ruang keluarga. Sebenarnya Raelyn tidak tahu akan berjalan kemana. Ia hanya akan terus berjalan dan bersenandung hingga boss kecilnya merasa cukup nyaman untuk pergi ke alam mimpinya.

"Black bird singing in the dark of night..." Raelyn mulai bersenandung seraya menepuk pelan punggung Griffin guna menidurkannya.

"Take these broken wings and learn to fly..." Raelyn merasakan pelukan Griffin mulai melonggar. Untung saja di ruang keluarga tidak ada jendela sehingga kilatan petir tidak lagi terlihat.

"All your life, you were only waiting for this moment to arise."

"Do not leave me please." lirih Griffin.

"I'm right here, Griff. I'll always be right here for you." jawab Raelyn menenangka Griffin.

Raelyn kembali berjalan memutari ruang keluarga. Kakinya berjalan dari ujung hingga ujung sedangkan mulutnya tak henti hentinya bersenandung. Apapun akan ia lakukan asalkan Griffin merasa nyaman di segala situasi.

Tak lama kemudian, nafas Griffin mulai teratur, genggaman Griffin pun sudah lepas dari baju Raelyn. Di saat yang bersamaan, Raelyn mendengar suara dengkuran dari pundaknya. Ia menoleh pada pundaknya dan menemuka Griffin sudah tertidur lelap. Ia sangat bersyukur Griffin bisa tertidur.

Raelyn memutuskan untuk kembali ke kamar Griffin untuk menidurkan Griffin di tempat yang lebih nyaman. Melihat Griffin yang tertidur pulas membuat Raelyn merasa bahagia. Tiap kali ia melihat Griffin, ia selalu menginginkan sebuah malaikay kecil juga di hidupnya. Tentunya bukan sekarang, nanti jika ia sudah cukup mapan dan menemukan cinta sejatinya.

"GRIFF!" terdengar suara teriakan Xael dari lantai bawah.

Raelyn menoleh pada jam dinding di kamar Griffin. Jam menunjukan pukul setengah sebelas malah lewat lima menit.

Kenapa ia berteriak di malam hari seperti ini? Pikir Raelyn.

Rasa ingin tahu yang tinggi telah membawa Raelyn turun ke lantai bawah untuk mengetahui apa yang terjadi. Raelyn terkejut bukan main saat mendapati Xael dengan wajah lebam, penuh luka, dan basah kuyup berdiri di tengah ruang keluarga. Kedua matanya berwarna merah seperti habis mabuk. Penampilannya sekarang sangat beda dengan penampilannya tadi pagi yang serba rapi dan bersih. Dengan ragu ragu, Raelyn berusaha mendekati Xael yang terlihat emosi sekaligus linglung.

"Xael." panggil Raelyn. "What happened to you?"

Xael yang mengetahui keberadaan Raelyn segera berjalan menghampirinya. Sudah terlambat bagi Raelyn untuk kabur karena Xael sudah mencengkram kedua lengan lengannya kuat.

"Dimana Griffin? Dimana dia?!" tanya Xael dengan emosi menggebu gebu.

Sialan. Raelyn bisa mencium aroma alkohol yang menusuk dari mulut Xael. Ia tidak boleh terpancing emosi saat menghadapi orang mabuk.

Babysitter With Benefits Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang